Thursday, February 16, 2017

Grebeg Sudiro 2017 - Ketika Jawa dan Tionghoa Berakulturasi dalam Sebuah Acara Budaya

Suara iring-iringan alat musik simbal, tambur, dan gong mengalun dengan harmonis mengiringi para pemain barongsai yang sedang melakukan pemanasan menjelang perhelatan acara Grebeg Sudiro pada minggu siang itu (22/01/2017). Warga masyarakat pun sudah datang berduyun-duyun menuju kawasan Pasar Gede Harjonagoro untuk melihat perhelatan tahunan yang rutin diselenggarakan seminggu menjelang perayaan Imlek tersebut. Suasana di sepanjang Jalan Urip Soemoharjo pun terasa semakin meriah. Deretan hiasan lampion yang dipasang di atas jalan, para peserta pawai Grebeg Sudiro yang mengenakan kostum beraneka rupa dengan warna cerah, tak lupa warga masyarakat yang tumpah ruah bersiap menyaksikan acara. Meskipun awan mendung nampak menggelayut di atas mega, namun tak mengurangi semangat para warga dan peserta untuk memeriahkan acara Grebeg Sudiro yang sudah memasuki satu dasawarsa penyelenggaraannya di tahun ini.


Grebeg Sudiro merupakan sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Kawasan ini memang dikenal sebagai salah satu kawasan pecinan di Kota Bengawan. Banyak warga Tionghoa peranakan yang sudah tinggal dan menetap begitu lama di kawasan ini serta hidup membaur dan berdampingan dengan warga pribumi lainnya. Layaknya grebeg dalam tradisi Jawa, beberapa gunungan pun juga dipersiapkan oleh warga untuk dikirab dan dibagikan pada akhir acara nantinya. Acara grebeg dalam tradisi Jawa identik dengan gunungan berupa hasil bumi seperti sayur-mayur dan umbi-umbian. Namun, dalam acara Grebeg Sudiro ini, gunungan yang disiapkan tak hanya berupa hasil bumi saja, namun juga ada makanan tradisional seperti kue keranjang, bakpia Balong, onde-onde, bolang-baling, gembukan, bakpao yang merupakan jajanan khas peranakan.




Acara Grebeg Sudiro resmi dimulai sekitar pukul 14.00, diawali dengan sambutan Bapak Walikota Surakarta dan dilanjutkan dengan pemotongan pita dan penerbangan balon udara sebagai bentuk simbolis pembukaan acara. Rute Kirab Grebeg Sudiro kali ini dimulai dari depan bundaran tugu jam Pasar Gede, melewati Jl. Jenderal Sudirman - Jl. Mayor Sunaryo -  Jl Kapten Mulyadi - Jl R.E Martadinata - Jl. Cut Nyak Dien - Jl. Ir. Juanda - Jl. Urip Sumoharjo. Acara kirab Grebeg Sudiro dimulai dengan penampilan barisan prajurit Kraton Kasunanan Surakarta lengkap dengan pakaian adatnya yang berwarna merah menyala kemudian diikuti oleh penampilan atraktif marching band Gita Pamong Praja dan diikuti oleh pasukan Paskibra SMA N 3 Surakarta yang membawa bendera merah putih dan Koramil Jebres yang mengarak replika lambang negara. Hujan deras tiba-tiba turun ketika acara Grebeng Sudiro ini baru saja dimulai. Walaupun basah diguyur oleh hujan, tak menyurutkan antusiasme masyarakat yang melihat acara grebeg ini. Payung dan jas hujan sudah mereka persiapkan untuk menonton acara di bawah guyuran hujan.



Pawai berikutnya diikuti oleh penampilan atraksi atlet seni beladiri wushu khas negeri Tiongkok. Para peserta ini menampilkan gerakan-gerakan atraktif khas jurus beladiri wushu lengkap dengan alat-alat yang digunakan dalam beladiri ini seperti pedang, golok, dan toya. Ada pula peserta yang mengenakan kostum Biksu Tong, Sun Go Kong, Pat Kay, dan Sam Cheng, khas tokoh-tokoh dalam serial Journey To West. Peserta dengan kostum ala dewa-dewi Tiongkok pun juga tampil dalam acara ini sehingga membuat suasana khas Tionghoa terasa semakin kental. Ada pula peragaan busana batik carvinal yang dibawakan oleh adik-adik sekolah dasar. Peserta dengan kostum Santa lengkap dengan sebuah karung yang berisi hadiah. Sepanjang rute pawai, sang Santa membagikan hadiah kepada penonton yang datang memadati jalan. Suasana semakin meriah saat kelompok barongsai dan liong Macan Putih Sudiroprajan memulai pertunjukan. Para pemain barongsai dan liong ini tampil energik menghibur masyarakat yang rela kehujanan demi menyaksikan acara Grebeg Sudiro 2017 ini.



Tak hanya warga masyarakat yang tinggal di Kelurahan Surdiroprajan saja yang meramaikan acara Grebeg Sudiro ini. Perwakilan asosiasi pedagang Pasar Gede pun juga turut bagian mengisi acara grebeg ini. Para pedagang ini kompak mengenakan busana tradisional Jawa diikuti oleh iring-iringan ibu-ibu yang memakai jarik dan caping dan membawa tenggok (bakul kecil) berisi sayur mayur, buah-buahan, dan jajanan yang biasa menjadi komoditi dagangan di Pasar Gede sehari-hari. Ada pula penampilan tari Lembu Suro dari Kelurahan Jagalan serta tari kuda lumping yang terlihat energik. Warga masyarakat dari luar Kota Surakarta pun juga ada yang turut serta menjadi peserta Grebeg Sudiro ini. Seperti penampilan Tari Misteri Gunung Bibi dari Boyolali yang menampilkan kostum yang unik serta gerakan tari yang lincah nan dinamis. Penampilan dari mahasiswa daerah juga cukup mneyedot perhatian penonton. Perwakilan mahasiswa daerah Riau dan Jambi menampilkan parade busana daerah dan juga penampilan tari daerah dengan budaya Melayu yang kental. Ada pula penampilan dari padepokan Keris Brojobuwono yang berasal dari Kabupaten Karanganyar. Penampilan dari padepokan ini cukup menyedot perhatian penonton yang berjubel sore itu. Kostum dari padepokan ini cukup nyentrik, rombongan lelaki bertelanjang dada mengenakan kain sarung berwarna putih dan ikat kepala yang mirip seperti sufi yang belajar di padepokan. Mereka membawa gunungan yang terdiri dari hasil bumi seperti jagung, terong, pare, wortel, kacang panjang, dan dibagi-bagikan kepada penonton di sepanjang acara pawai.







Iring-iringan pawai Grebeg Sudiro ditutup dengan atraksi para mayoret marching band Gita Pamong Praja yang nampak lincah dan energik. Para penonton mulai membubarkan diri setelah acara penaikan lampion teko yang digantung d atas pintu gerbang Pasar Gede yang sekaligus sebagai simbol ditutupnya acara Grebeg Sudiro 2017 sore itu. Acara Grebeg Sudiro merupakan acara tahunan di Kota Solo yang patut Anda jadikan agenda ketika berwisata di Kota Solo. Akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa terasa kental dalam acara ini. Dengan adanya event seperti ini diharapkan dapat menjunjung semangat nasionalisme, pluralisme, dan integrasi di NKRI yang kita cintai. Oke, selamat berjumpa di event selanjutnya ya !

8 comments:

  1. Kaaakkk kayaknya seru banget deh ngeliatnya :( Semoga acara kayak gini bisa selalu ada yah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, seru banget sampai desak-desakan sama penonton lain :D tahun depan masih ada kok, biasanya diselenggarain seminggu sebelum Imlek acaranya

      Delete
  2. Oh baru tau kalau grebeg seminggu sebelum imlek di solo namanya grebeg sudiro. Kaya nama salah satu artis :) jadii gampang diingetnya.

    Event kaya begini semacam menggambarkan kalau kebudayaan yang beraneka macamnya sesungguhnya indah luar biasa. Akulturasi budaya kan tanpa menghilangkan ciri khasnya masing-masing tapi bisa berdampingan begini :)) *ademm, baperr*

    Mas ituu bisa nangkep ekspresi cantiknya mbak-mbak senyum. Kece potomu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kak please ah jangan baperan mulu :P wkwkwkwk

      iya, tahun depan coba nonton deh mbak, seru acaranya, tapi siap-siap jas hujan sama desak-desakan dengan pengunjung lainnya ya :D

      Delete
  3. Paling seru tuh nengokin tenggok yang ada jajan pasarnya hihihi
    Seruuuu bangett, meriah
    E aku baru tau adik terakhir yang ada di kera sakti namanya sam ceng wakkaka
    Di tempatku ga semeriah ini imleknya nih, padahal mayoritas kebanyakn budha dan konghuchu, paling banter meriahnya di klentengnya duank, ga ada arak arakan karnaval...
    Salm kenal

    ReplyDelete
  4. Saya dulu pas kecil selalu excited kalau di ajak nonton nonton yang beginian mah.
    Meskipun panas saya tak peduli, dan pas masih kecil saya blm ada kamera2 gitu lah buat mengabadikan itu..
    Kalau misal waktu itu saya udah ngeblog mah, pasti saya juga foto foto dokumentasi kayak mas andika gitu hehee.

    Sekarang acara kayak gini mulai jarang di kampung saya, eh atau karna saya yang jarang pulang aja ya?
    ahhaa

    Tapi syukurlah kalau masih ada acara guyub rukun macam begini.
    Ademm liatnya

    Btw biasanya kalau event kayak gini ini paakai tanggal apa mas ?
    Masehi atau tanggal jawa ?
    Kalau taun depan ada, saya pengen agendakan ke solo ah buat liat grebeg sudiro macam ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau acara grebeg Sudiro ini biasanya pakai tanggalan Masehi mbak, monggo lho bisa tengok akun-akun tentang Solo di sosmed atau cek webnya dinpas Solo buat update event-event budaya selanjutnya :)

      Delete

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com