Dinginnya udara pegunungan di kala fajar memang membuat betah bagi siapa saja untuk berlama-lama menikmati empuknya kasur berbalut dengan hangatnya selimut yang tebal. Namun, di kala fajar inilah geliat kehidupan di kawasan Bromo dimulai. Orang rela datang jauh-jauh ke Bromo untuk dibangunkan di kala fajar demi menikmati indahnya matahari terbit di ufuk timur sana.
Dinginnya udara Bromo memang membuat siapa saja malas untuk beranjak dari peraduan. Udara pagi ini memang serasa kurang bersahabat. Angin bertiup cukup kencang, ditambah dengan kabut yang sesekali berdatangan. Sweater dan jaket yang saya kenakan pun seolah masih belum bisa menahan dinginnya udara yang menerpa ke seluruh badan. Tujuan kami pagi ini adalah ingin melihat sunrise di Bukit Punuk Sapi, yang berlokasi di sekitaran Lava View Lodge, tidak jauh dari penginapan kami di Bromo Permai. Untuk menuju ke sana kami pun harus berjalan kaki melewati jalan setapak. Perjalanan ini pun menempuh waktu kurang lebih 30 menit. Medan yang kami lalui pun tidak terlalu terjal, karena sepertinya jalan setapak tersebut sudah cukup sering dilalui oleh orang.



