Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Thursday, February 16, 2017

Grebeg Sudiro 2017 - Ketika Jawa dan Tionghoa Berakulturasi dalam Sebuah Acara Budaya

Suara iring-iringan alat musik simbal, tambur, dan gong mengalun dengan harmonis mengiringi para pemain barongsai yang sedang melakukan pemanasan menjelang perhelatan acara Grebeg Sudiro pada minggu siang itu (22/01/2017). Warga masyarakat pun sudah datang berduyun-duyun menuju kawasan Pasar Gede Harjonagoro untuk melihat perhelatan tahunan yang rutin diselenggarakan seminggu menjelang perayaan Imlek tersebut.

Suasana di sepanjang Jalan Urip Soemoharjo pun terasa semakin meriah. Deretan hiasan lampion yang dipasang di atas jalan, para peserta pawai Grebeg Sudiro yang mengenakan kostum beraneka rupa dengan warna cerah, tak lupa warga masyarakat yang tumpah ruah bersiap menyaksikan acara. Meskipun awan mendung nampak menggelayut di atas mega, namun tak mengurangi semangat para warga dan peserta untuk memeriahkan acara Grebeg Sudiro yang sudah memasuki satu dasawarsa penyelenggaraannya di tahun ini.


Grebeg Sudiro merupakan sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Kawasan ini memang dikenal sebagai salah satu kawasan pecinan di Kota Bengawan. Banyak warga Tionghoa peranakan yang sudah tinggal dan menetap begitu lama di kawasan ini serta hidup membaur dan berdampingan dengan warga pribumi lainnya.

Layaknya grebeg dalam tradisi Jawa, beberapa gunungan pun juga dipersiapkan oleh warga untuk dikirab dan dibagikan pada akhir acara nantinya. Acara grebeg dalam tradisi Jawa identik dengan gunungan berupa hasil bumi seperti sayur-mayur dan umbi-umbian. Namun, dalam acara Grebeg Sudiro ini, gunungan yang disiapkan tak hanya berupa hasil bumi saja, namun juga ada makanan tradisional seperti kue keranjang, bakpia Balong, onde-onde, bolang-baling, gembukan, bakpao yang merupakan jajanan khas peranakan.

Sunday, November 13, 2016

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Banyuwangi 2016 - Sak Corot Dadi Seduluran !

Kesibukan menjelang perhelatan acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu nampak terlihat dari warga Desa Kemiren yang mulai beramai-ramai membersihkan bagian halaman depan rumah, menata meja dan kursi dengan rapi, memasang lampu hias untuk menambah semarak suasana di malam hari. Tak lupa musik khas Banyuwangian diperdengarkan melalui pengeras suara yang semakin menambah meriah suasana desa.


Suasana meriah begitu kental terasa di sepanjang jalan utama Desa Kemiren petang itu. Seluruh penduduk desa nampak sibuk membersihkan halaman depan rumah sambil menata meja dan kursi untuk menyambut tamu yang akan hadir dalam acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang rutin diselenggarakan setiap tahun di Desa Kemiren, desa adat masyarakat Using, suku asli Banyuwangi.

Hampir seluruh ruas jalan utama di Desa Kemiren sudah ditutup aksesnya untuk kendaraan bermotor sejak menjelang petang guna menyambut acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang akan digelar malam ini. Jalan desa sepanjang kurang lebih 1.5 kilometer ini akan steril dari kendaraan bermotor sehingga pengunjung dapat leluasa berjalan kaki sepanjang jalan desa untuk menikmati Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang memasuki tahun keempat penyelenggaraannya tahun ini.

Saturday, May 21, 2016

Aksi Untuk Borobudur Bersama Komunitas Yogyakarta Night At The Museum

Candi Borobudur merupakan salah satu mahakarya Indonesia yang termasyur keberadaannya. Candi Budha terbesar di Indonesia yang berada di Kabupaten Magelang ini selalu menjadi primadona kunjungan wisatawan yang sedang bertandang di Jogja dan sekitarnya. Candi Borobudur memiliki fungsi yang beraneka ragam. Selain menjadi tempat wisata, Candi Borobudur merupakan bangunan suci dan tempat untuk melakukan ritual keagamaanbagi umat Budha. Candi Borobudur juga memiliki peran edukatif, selain menjadi tempat belajar sejarah, candi ini juga kerap digunakan untuk sarana penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Karena fungsinya yang beragam, maka tak heran jika Candi Borobudur selalu ramai didatangi oleh pengunjung.


Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan peradaban masa lalu yang adi luhung. Keindahan bangunan dan reliefnya tentu sudah diakui dunia. Sebagai salah satu peninggalan penting di dunia, Candi Borobudur ditetapkan sabagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage) yang diresmikan oleh UNESCO pada tahun 1991 silam. Kini, hampir dua puluh lima tahun sudah Candi Borobudur resmi diakui UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage) yang wajib kita jaga keberadaannya.

Tuesday, September 29, 2015

The Umbrella Reborn at Festival Payung Indonesia 2015

Keramaian pengunjung mulai terasa ketika ojek yang saya tumpangi memasuki sebuah jalan kecil menuju Taman Balekambang. Motor-motor mulai berdatangan dan berdesakan mencari area parkir yang mulai penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menikmati acara Festival Payung Indonesia siang itu. Kemeriahan acara mulai terlihat di bagian gerbang masuk Taman Balekambang, di mana ratusan kerangka payung yang diberi cat warna-warni digantung dan ditata dengan cukup artistik sehingga menarik pengunjung untuk mengabadikan gambar melalui ponsel dan tongkat narsis masing-masing.


Tahun ini, acara Festival Payung Indonesia kembali digelar di Kota Solo mengangkat tema "umbrella reborn". Acara ini diselenggarakan selama tiga hari, yaitu mulai tanggal 11-13 September 2015. Instalasi payung berwarna-warni terlihat begitu kontras dengan hijaunya pepohonan dan birunya langit Kota Solo siang itu. Panas yang cukup menyengat pun tidak menghalangi minat pengunjung untuk berjalan-jalan mengelilingi Taman Balekambang sambil mengambil beberapa gambar.

Sunday, April 27, 2014

Wayang Wong Sriwedari - Seni Pertunjukan yang Masih Lestari

Tak ada sorot lampu yang berbinar, pun dengan spanduk-spanduk yang bergelantungan menghiasi gedung pertunjukan. Hanya tampak sebuah gedung pertunjukan tua dengan penerangan seadanya. Pedagang kaki lima tampak membuka lapak sembari menjajakan dagangannya kepada penonton yang sudah antri menunggu loket penjualan tiket di buka.


Usai membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 pun seluruh penonton riuh berlarian masuk ke dalam gedung pertunjukan untuk mencari kursi dengan posisi yang nyaman untuk melihat pagelaran. Kondisi di dalam gedung pertunjukan pun terlihat nampak sederhana. Kursi-kursi kayu yang sudah nampak usang berjajar tertata sedemikian rupa di bagian penonton. Di bagian depan terdapat panggung pertunjukan utama lengkap dengan layar proyektor di sisi kanan dan kiri panggung yang memberikan deskripsi singkat mengenai perpindahan plot setiap babak dalam pertunjukan. Seperangkat alat musik gamelan pun tertata rapi di dekat panggung sebagai pengiring musik selama pertunjukan.

Tuesday, April 8, 2014

Potret dari Gili Ketapang

Hanya sekedar foto asal, asal jepret, asal ambil !

Suatu sore di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang. 


Di antara sampah-sampah berserakan di tepi pantai, saya melihat seorang perempuan setengah baya mengenakan baju kutang dengan bawahan jarik menggendong sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Entah apa yang sedang beliau cari di antara sampah-sampah yang berceceran di pinggir pantai tersebut. Kulitnya nampak legam disengat sinar matahari yang terasa lebih terik di pulau ini. Sesekali dia memungut sesuatu untuk dimasukkan ke dalam keranjang bambu miliknya. Tatapannya nampak kosong ketika memandangi hamparan air laut di depannya, terkadang juga memandang aneh ke arah kami, segerombol orang asing yang sedang berkunjung di pulau tempat beliau tinggal. Entah apa yang beliau pikirkan, usai beristirahat pun beliau kembali memungut beberapa barang yang kembali dimasukkan ke dalam keranjang bambu tersebut.

Tuesday, April 1, 2014

Menyegarkan Pikiran di Ranu Segaran

Usia menikmati keheningan di Ranu Agung, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Ranu Segaran. Jarak antara Ranu Agung dan Ranu Segaran relatif cukup dekat, memakan waktu sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Ranu Segaran mungkin lebih populer dijadikan sebagai obyek wisata dibandingkan dengan Ranu Agung. Pengunjung di Ranu Segaran lebih ramai dibandingkan dengan pengunjung di Ranu Agung. Mungkin kemudahan akses jalan menuju Ranu Segaran serta fasilitas yang disediakan menjadikan obyek wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan.


Ranu Segaran memiliki fasilitas wisata yang cukup memadai dibandingkan dengan Ranu Agung. Di tempat ini sudah terdapat sebuah warung makan, fasilitas mushola, kamar mandi umum, bahkan sudah terdapat permainan air seperti perahu motor dan sepeda air berbentuk bebek. Di sekitar Ranu Segaran ini juga terdapat pemandian air panas alami yang berada di dekat aliran air sungai. Saya sendiri tidak menyambangi tempat tersebut karena rasa lelah dan cuaca gerimis serta kabut yang datang menyambut.

Friday, March 28, 2014

Keheningan Ranu Agung di Probolinggo

Truk TNI pun kembali melaju melintasi jalanan beraspal di Kota Probolinggo. Kali ini perjalanan Tour De Probolinggo dilanjutkan menuju beberapa desa yang ada di kawasan Pegunungan Argopuro. Saya tak ingat betul rute mana saja yang kami lewati. Hanya beberapa tempat yang saya ingat. Rute yang kami tempuh melewati sebuah pabrik gula kemudian menuju ke arah Kali Bokong, searah dengan Songa Rafting sebagai operator wisata arum jeram di Sungai Pekalen. Jalur yang kami lewati cukup berkelok, naik turun, aspal jalan yang mulai banyak berlubang, diselingi dengan jurang dan perbukitan di sisi kiri dan kanan jalan. Kabut pun sesekali datang menyambut diselingi udara dingin yang seolah saling bersahut.


Suasana perjalanan terkadang memang sedikit mendebarkan, terlebih ketika kendaraan kami harus berpapasan dengan kendaraan lain. Lebar jalan yang tak seberapa, apalagi ada jurang di sisi kanan dan kiri jalan, serta beberapa ruas jalan yang terkikis terkena longsoran. Tujuan kami adalah untuk berkeliling di Desa Tiris, sebuah desa yang berada di kaki Pegunungan Argopuro. Kami akan mengunjungi Ranu Agung, sebuah danau vulkanik yang ada di kawasan lereng perbukitan.

Thursday, March 20, 2014

Pulau Gili Ketapang - Miniatur Madura di Utara Probolinggo

Tak ada jembatan penghubung antar pulau yang kokoh, pun demikian dengan kapal-kapal besar yang mengangkut penumpang, barang bahkan kendaraan untuk menyeberang. Hanya ada perahu motor sebagai sarana transportasi yang mengantarkan penumpang dan barang menuju ke pulau seberang. Suasana Pelabuhan Tanjung Tembaga pagi itu masih cukup lengang. Hanya terlihat beberapa kapal nelayan yang bersandar dan bongkar muatan.


Di hari ketiga ini, panitia Tour De Probolinggo mengajak para peserta menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, sebuah pulau kecil dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Usai berkemas dan membereskan tenda, dengan penuh semangat kami berjalan kaki menuju pelabuhan untuk kemudian naik ke atas perahu dan bersiap untuk menyeberang. Cuaca pagi ini pun cukup bersahabat. Ombak laut cukup tenang, pun demikian dengan sinar matahari yang tidak terlalu terik membakar kulit.

Tuesday, March 18, 2014

Museum Probolinggo : Wahana Pengenalan Sejarah Kota Probolinggo

Malam pun semakin larut, namun acara penjelajahan museum di Kota Probolinggo pun belum berakhir. Kali ini para peserta diajak berkeliling ke sebuah gedung tua di kawasan Jalan Suroyo. Dari bagian depan nampak pesawat udara kuno, lokomotif tua, serta tank yang dipajang di halaman. Inilah Museum Probolinggo, salah satu wahana pengenalan sejarah Kota Probolinggo.


Museum Probolinggo merupakan salah satu wahana wisata yang cukup baru di Kota Probolinggo. Museum ini diresmikan pada tahun 2009 dengan menempati sebuah gedung tua yang dahulu bernama Gedung Panti Budaya. Dahulu bangunan ini merupakan sebuah gedung serba guna, kemudian dialihfungsikan sebagai museum sebagai wahana untuk memperkenalkan perkembangan sejarah Kota Probolinggo.

Sunday, March 16, 2014

Nite at The Museum : Museum Dr Moh Saleh Probolinggo

Bukan Tour De Probolinggo namanya jika tidak ada kejutan di dalam acaranya. Usai meletakkan barang-barang di tenda yang berada di dekat pelabuhan, kami semua diajak untuk berkeliling mengunjungi museum yang ada di Kota Probolinggo. Biasanya museum hanya buka dari pagi sampai sore, kali ini panitia mempersiapkan acara yang menarik, lain dari biasanya. Yap, night at the museum ! Apa? berkunjung ke museum di malam hari? Iya ! Kami semua diajak berkunjung ke museum di malam hari oleh panitia Tour De Probolinggo !


Nama Dr Moh Saleh mungkin saja kurang kita kenal di dalam sejarah pahlawan nasional Indonesia. Nama beliau memang kurang banyak dibahas di pelajaran sejarah selama saya duduk di bangku sekolah dulu. Merujuk dari beberapa artikel yang saya baca di internet, beliau merupakan lulusan STOVIA, sekolah kedokteran di jaman penjajahan Belanda. Beliau juga seangkatan dengan Dr Sutomo, salah satu tokoh pendiri organisasi Budi Utomo.

Friday, March 14, 2014

Kecantikan Gereja Merah Probolinggo

Senja pun berjalan perlahan menuju peraduan. Hari pun hampir gelap ketika truk yang kami tumpangi berhenti di kawasan Jalan Suroyo, tak jauh dari alun-alun Kota Probolinggo. Ada sebuah bangunan unik dengan warna yang cukup mencolok dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Ternyata, kami semua diajak untuk masuk ke dalam sebuah gereja, yang dikenal dengan sebutan Gereja Merah. Segenap pengurus gereja dan ibu pendeta pun sudah menantikan kedatangan kami, menyambut dengan senyum ramah dan penuh suka cita.


Setelah sesi perkenalan diri, ibu pendeta pun menceritakan sejarah singkat mengenai Gereja Merah yang unik ini. Gereja Merah merupakan salah satu bangunan peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang hingga kini masih dapat kita nikmati keberadaannya. Gereja Merah dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda. Selain dari warnanya, keunikan bangunan Gereja Merah juga dapat dilihat dari struktur bangunannya. Struktur bangunan Gereja Merah ini terbuat dari baja, termasuk hingga ke dinding dan atapnya. Gereja ini konon dibangun dengan sistem knock down, di mana seluruh rangka baja bangunan dibuat di Belanda, kemudian dibongkar, lalu dibawa dengan kapal menuju ke Probolinggo untuk dipasang kembali. Hingga kini, bangunan yang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya tersebut tetap dipertahankan seperti bentuk aslinya. Hanya saja ada sedikit renovasi di bagian dalam bangunan, yaitu penambahan lapisan triplek yang diberi warna kuning untuk lapisan di bagian dinding. 

Batik Tenggeran Khas Probolinggo

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Kota Probolinggo, namun belum sempat untuk menjelajahi keunikan yang disajikan di kota yang terkenal dengan mangganya tersebut. Probolinggo bagi saya menjadi semacam kota transit, sebelum menuju Kawasan Bromo maupun melanjutkan perjalanan ke Kota Jember. Tapi siapa sangka, kota yang terletak di pesisir utara Jawa ini memiliki tempat wisata yang tak kalah menarik untuk dijelajahi.


Usai menikmati keindahan Air Terjun Madakaripura, seluruh peserta Tour De Probolinggo diajak untuk berkeliling kota sembari mengenalkan potensi wisatanya. Perjalanan menuju Kota Probolinggo pun tak kalah memberikan kesan. Dan lagi-lagi, truk TNI lah menjadi kendaraan yang mengantarkan para peserta keliling Kota Probolinggo. Saya ingat ada kejadian lucu ketika truk yang kami tumpangi memasuki Kota Probolinggo. Ada sebuah mobil yang berhenti tepat di belakang truk kami ketika di lampu merah. Seketika seluruh penumpang di dalam mobil tersebut memandang kami semua dengan ekspresi terheran-heran. Tak hanya penumpang yang ada di dalam mobil tersebut saja, hampir semua masyarakat yang berpapasan dengan truk kami memandang seluruh isi penumpang dengan ekspresi terheran-heran. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan. 

Thursday, March 13, 2014

Air Terjun Madakaripura - Keindahan Persemedian Maha Patih Gadjah Mada dan Ironi Masyarakatnya

Jalan yang berkelok dengan kontur yang naik turun memaksa kami semua untuk sering membenarkan posisi duduk di atas truk TNI yang berguncang-guncang selama perjalanan. Belum lagi rasa kurang nyaman karena kursi kayu yang saling berhadapan, sekilas mirip seperti tatanan kursi di dalam kereta komuter. Begitulah sedikit gambaran perjalanan para peserta Tour De Probolinggo menuju Air Terjun Madakaripura. Kebersamaan di antara kesederhanaan. Namun, mungkin seperti itulah perjalanan menuju surga, penuh dengan jalan yang terjal dan berliku sebelum akhirnya kita bisa menikmati keindahan di balik perjuangan.


Saya melihat ada beberapa pos retribusi yang harus dilalui sebelum menuju pintu parkir Air Terjun Madakaripura ini. Mungkin karena banyaknya pos retribusi yang harus dilalui inilah menyebabkan banyak tulisan di blog yang menyebutkan bahwa banyak pungutan liar untuk menuju Air Terjun Madakaripura. Minimnya akses transportasi umum juga menjadi cerita lain yang membuat para wisatawan mengurungkan niat mereka untuk berkunjung ke Air Terjun Madakaripura usai puas menjelajahi Kawasan Bromo. Padahal air terjun ini memiliki potensi yang menarik sebagai wisata minat khusus.

Thursday, March 6, 2014

TDP Hari 2 : We Don't Get The Sunrise at Bromo !

Dinginnya udara pegunungan di kala fajar memang membuat betah bagi siapa saja untuk berlama-lama menikmati empuknya kasur berbalut dengan hangatnya selimut yang tebal. Namun, di kala fajar inilah geliat kehidupan di kawasan Bromo dimulai. Orang rela datang jauh-jauh ke Bromo untuk dibangunkan di kala fajar demi menikmati indahnya matahari terbit di ufuk timur sana. 


Dinginnya udara Bromo memang membuat siapa saja malas untuk beranjak dari peraduan. Udara pagi ini memang serasa kurang bersahabat. Angin bertiup cukup kencang, ditambah dengan kabut yang sesekali berdatangan. Sweater dan jaket yang saya kenakan pun seolah masih belum bisa menahan dinginnya udara yang menerpa ke seluruh badan. Tujuan kami pagi ini adalah ingin melihat sunrise di Bukit Punuk Sapi, yang berlokasi di sekitaran Lava View Lodge, tidak jauh dari penginapan kami di Bromo Permai. Untuk menuju ke sana kami pun harus berjalan kaki melewati jalan setapak. Perjalanan ini pun menempuh waktu kurang lebih 30 menit. Medan yang kami lalui pun tidak terlalu terjal, karena sepertinya jalan setapak tersebut sudah cukup sering dilalui oleh orang. 

Saturday, March 1, 2014

TDP Hari 1 : Bersih-Bersih Sampah di Kawasan Kaldera Pasir Bromo

Kawasan Wisata Bromo memang menjadi salah satu andalah sektor pariwisata di wilayah Probolinggo. Tak hanya terkenal di kancah nasional, keindahan matahari terbit dan pemandangan alam di Kawasan Bromo ini bahkan sudah mendunia sehingga banyak dikunjungi oleh turis manca negara. Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu pintu masuk utama menuju kawasan Wisata Bromo. Banyak wisatawan yang memilih masuk ke kawasan Bromo melalui Kabupaten Probolinggo karena akses jalan maupun kendaraan umum yang cukup memadai dari wilayah ini.


Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu kolaborasi warisan alam dan penyelamatan lingkungan, seluruh peserta Tour De Probolinggo tak hanya diajak untuk berjalan-jalan menikmati keindahan alam Kawasan Bromo Tengger Semeru, melainkan melakukan aksi nyata untuk penyelamatan lingkungan. Salah satu kegiatan tersebut adalah memungut sampah di kawasan lautan pasir hingga kawasan di sekitaran Pura Luhur Poten Bromo. Seluruh peserta berjalan kaki dari penginapan di kawasan Bromo Permai hingga menyusuri kawasan kaldera pasir. Mungkin banyak dari kita ketika menyusuri kawasan ini menggunakan kendaraan bermotor seperti jeep maupun sepeda motor tidak terlalu menyadari keberadaan sampah yang cukup banyak berserakan mengotori kawasan ini. Cukup miris juga, ternyata di kawasan ini banyak sampah bekas bungkus makanan yang dibuang begitu saja oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan karena ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab ini berdampak pada kotornya lingkungan yang seharusnya kita jaga bersama kebersihannya.

Thursday, February 20, 2014

Tour De Probolinggo – Wahana Pengenalan Potensi Wisata di Kawasan Probolinggo

Hujan gerimis menyambut kedatangan saya di Terminal Bayuangga Probolinggo malam itu. Sepi, begitulah suasana yang saya rasakan ketika tiba di terminal kedatangan. Setelah saya mengirim pesan kepada panitia, kemudian bergabunglah saya dengan para peserta yang sudah berkumpul di salah satu sudut terminal. Satu per satu pun kami pun saling berkenalan, menanyakan nama dan daerah asal. Di sinilah kami, para peserta dari beberapa kota di Indonesia berkumpul dalam acara Tour De Probolinggo, sebuah acara yang mengkolaborasikan antara kegiatan wawasan alam, penyelamatan lingkungan, dan membumikan kearifan. Bagi saya, acara ini merupakan salah satu wahana untuk memperkenalkan potensi wisata alam dan budaya yang dimiliki oleh Kawasan Probolinggo.


Tepat pukul 11 malam seluruh peserta sudah berkumpul di Terminal Bayuangga. Pada tengah malam ini peserta dijadwalkan menuju Gunung Bromo untuk melihat matahari terbit pada keesokan harinya. Namun sayang, kondisi alam berkata lain. Hujan turun dengan lebat di lereng sana sehingga mengharuskan kami untuk tetap tinggal di kota demi keselamatan para peserta. Tak ada kasur empuk, tak ada selimut hangat, kami semua menggelar matras dan menjadikan tas ransel kami sebagai bantal. Tapi dari sinilah suasana akrab dimulai, walaupun kami masih terasa kaku untuk saling berkenalan dan berbincang akrab. Kalau orang Jawa Timuran memberi istilah “cangkruk”, kata lain dari jagongan, kongkow, atau nongkrong bareng sambil membicarakan beberapa topik pembicaraan. Tak terasa kantuk pun mulai menyergap, kami semua tidur bersama ditemani dengan gigitan nyamuk-nyamuk terminal yang cukup ganas menghisap darah dari tubuh kami.

Thursday, September 26, 2013

Penutupan Acara Asia Tri Jogja 2013

Dinginnya kawasan Kaliurang di lereng Merapi dipadu dengan keindahan Museum Ullen Sentalu kembali menjadi tempat penyelenggaraan acara Asia Tri Jogja 2013. Asia Tri merupakan acara pementasan seni dari sejumlah negara di Asia dan Eropa. Acara yang diprakarsai oleh Indonesia, Korea, dan Jepang ini sudah menginjak tahun ke delapan dalam penyelenggaraannya.


Animo penonton pun cukup membludak. Mereka harus rela duduk lesehan sambil berdesak-desakan, bahkan ada pula yang harus rela berdiri dari awal hingga akhir acara. Acara penutupan Asia Tri Jogja 2013 dimeriahkan dengan pertunjukan seni tari kontemporer dari beberapa penari dari berbagai negara. Para penari dari sanggar seni di kawasan Kaliurang pun menjadi pembuka acara penutupan acara Asia Tri Jogja yang diselenggarakan pada 25 September 2013. 

Tuesday, September 24, 2013

Kemeriahan Penutupan Ramayana International Festival 2013

Panggung Terbuka Ramayana menjadi lokasi diselenggarakannya acara Ramayana International Festival 2013. Acara ini diselenggarakan selama empat hari berturut-turut, yaitu mulai dari tanggal 6 sampai tanggal 9 September 2013. Ramayana International Festival tahun ini dimeriahkan oleh para peserta yang berasal dari sembilan negara, meliputi India, Kamboja, Myanmar, Singapura, Malaysia, Laos, Filipina, Thailand, serta Indonesia. Acara ini berlangsung sangat meriah dan menyedot animo penonton yang cukup banyak hingga memenuhi seluruh area Panggung Terbuka Ramayana yang berada di kompleks Candi Prambanan.


Saya berkesempatan untuk melihat penutupan Ramayana International Festival pada tanggal 9 September 2013, dengan penampilan dari kontingen Thailand kemudian dilanjutkan penampilan dari kontingen Bali, Indonesia. Kontingen Thailand menampilkan episode Perang Phra Ram dan Thotsakan. Dalam episode ini diceritakan peperangan yang dilakukan oleh Rama (Phra Ram) yang dibantu oleh adiknya yaitu Lakshamana (Phra Lak) melawan Rahwana (Thotsakan), seorang raja iblis dari kerajaan Alengka yang menculik istri Rama, yaitu Dewi Sita.

Friday, July 5, 2013

Solo Batik Carnival 2013 - Meriah, Namun Kurang Greget

Bulan Juni 2013 cukup banyak festival yang digelar di beberapa kota, bahkan dengan waktu penyelenggaraan yang hampir serentak. Tanggal 29 Juni kemarin terdapat dua buah event yang diadakan bersamaan di dua tempat yang berbeda, yaitu Solo Batik Carnival dan Dieng Culture Festival. Well, berhubung jarak Jogja dan Solo cukup dekat, kali ini saya memilih untuk menikmati sajian Solo Batik Carnival.


Solo Batik Carnival merupakan acara budaya yang diselenggarakan setiap tahun dan menjadi salah satu agenda wisata Kota Surakarta. Acara ini menampilkan kreativitas terutama di dalam bidang fashion. Mengambil lokasi menyusuri sepanjang Jalan Slamet Riyadi sebagai arena catwalk untuk memamerkan rancangan busana bernuansa batik yang terlihat wah. Solo Batik Carnival tahun 2013 mengambil tema "Memayu Hayuning Buwana", yang terdiri dari empat unsur utama yang ada di dalam bumi ini, meliputi air, api, tanah, dan udara. Hal ini tercermin dari warna-warni kostum yang dikenakan peserta pada saat pawai Solo Batik Carnival.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com