Showing posts with label Tanjung Papuma. Show all posts
Showing posts with label Tanjung Papuma. Show all posts

Sunday, April 3, 2016

Menyambut Pagi di Tanjung Papuma, Jember

Entah seperti memiliki alarm alami yang ada di dalam otak ini, setiap kali sedang melakukan perjalanan di luar kota, secara alami saya akan bangun pagi jauh sebelum adzan Subuh berkumandang dan mentari muncul dari peraduan. Iya, mungkin semesta sedang mendukung saya untuk menyambut pagi dan beranjak dari buaian mimpi.

Entah mengapa ketika saya sedang berada di luar kota, saya selalu bangun lebih awal dari waktu yang saya pasang pada alarm jam saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi, saya bangun 30 menit lebih awal dari alarm yang saya pasang tadi malam. Saya bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan diri menyambut pagi, kemudian menyibak gorden kamar dan melihat situasi di luar. Ah, masih sepi dan gelap. Saya bergegas membuka pintu dan melihat situasi di luar cottage. Kata mas penjaga kemarin, kalau menjelang Subuh seperti ini kami harus lebih berhati-hati, karena terkadang primata penghuni Papuma sedang "beraksi", hmmm berkeliaran di sekitar penginapan lebih tepatnya. Maklum saja, cottage yang dikelola di Pantai Papuma berlokasi di dekat hutan di mana primata-primata liar tersebut hidup bebas di sana.


Setelah situasi saya rasa kondusif, saya mengajak teman saya untuk bergegas menuju pantai guna menantikan terbitnya matahari pagi bersama. Sekitar pukul 04.30 kami pun keluar cottage dan berjalan kaki menuju ke pantai Papuma. Di luar dugaan saya, sudah terlihat beberapa orang berlalu-lalang menuju pantai untuk menantikan terbitnya mentari. Sebagian besar dari mereka adalah wisatawan yang tidak menyewa penginapan, melainkan tidur di dalam kendaraan yang mereka bawa. ada pula rombongan nelayan yang menanti kapal tiba setelah melaut semalaman. Suasana hening tiba-tiba berubah menjadi riuh. Pengunjung mulai berdatangan ke Pantai Papuma. Sorot lampu kendaraan mulai terlihat dari atas bukit. Kami berdua duduk di pasir pantai, menikmati semburat warna kemerahan di ufuk timur, sambil sesekali merasakan hembusan semilir angin pantai. Untunglah angin pantai di Papuma pagi itu tidak terlalu terasa kencang, jadi saya tidak terlalu khawatir jika masuk angin. Syahdu, rasanya saya sudah lama sekali tidak pernah bangun pagi untuk menanti terbitnya sang mentari.

Thursday, March 31, 2016

Food Coma di Warung Sederhana Tanjung Papuma

Sebagai salah satu tempat berlabuh dan berlayarnya para nelayan, Tanjung Papuma tentu menyediakan hidangan laut yang sayang untuk dilewatkan. Hidangan ikan laut yang segar siap menjadi teman bersantap di kala lapar. Puas menyantap hidangan laut, sebutir buah kelapa muda hijau pun siap menuntaskan dahaga Anda.

Tanjung Papuma memiliki deretan warung makan yang ditata dalam satu lokasi. Pengunjung yang ingin bersantap pun bisa memilih salah satu warung yang telah disediakan di sini. Rata-rata pengelola dan pemilik warung adalah warga masyarakat yang tinggal di sekitar Papuma dan Watu Ulo. Rata-rata warung makan di Papuma hanya buka dari pagi hingga sore saja, sedangkan ketika hari sudah beranjak malam, hanya terlihat satu dua warung saja yang masih buka melayani pelanggan.


Saya dan kawan saya mulai mencari warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Pengelola penginapan menyarankan kami untuk membeli makan di warung makan Evergreen yang lokasinya hanya berada di depan penginapan. Namun karena rasa penasaran, akhirnya kami berjalan kaki menuju deretan warung yang berada di sebelah selatan pantai. Pantai Papuma ketika malam terasa cukup gelap, walaupun sudah ada listrik masuk dan dipasang lampu penerangan di beberapa sudut jalan. Saya sarankan sih lebih baik Anda membawa lampu senter jika ingin jalan-jalan malam di Papuma. Terdapat dua buah warung yang masih buka malam itu, kemudian kami memilih untuk bersantap di Warung Sederhana yang dikelola Mbak Ul.

Wednesday, March 30, 2016

Menanti Senja di Tanjung Papuma

Ada satu alasan tersendiri mengapa saya kembali mengunjungi Papuma lagi. Pemandangan terbit dan tenggelamnya matahari di satu lokasi menjadi alasan saya untuk kembali menjelajahi pantai ini !

Selesai mengurus persewaan penginapan, saya pun bergegas untuk meletakkan barang dan berganti pakaian. Saya mengajak kawan saya untuk segera bersiap menuju Bukit Siti Hinggil, menanti terbenamnya matahari di ufuk barat. Papuma kini tentu saja berbeda dengan Papuma empat tahun lalu, saat pertama kali saya menginjakkan kaki di pantai ini. Perbedaan yang kental terasa adalah jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat jumlahnya. Kendaraan baik roda empat maupun roda dua terlihat memenuhi bagian parkir kendaraan. Pun demikian dengan warung makan yang menjajakan makanan terlihat semakin banyak jumlahnya. Satu lagi, populasi primata yang dulu cukup mudah ditemui berkeliaran di sekitaran pantai kini sudah jarang ditemui. Menurut driver yang mengantar kami, populasi primata liar yang menghuni Papuma kini sudah berkurang banyak jumlahnya. Kondisinya juga cukup memprihatinkan, badan mereka terlihat kurus katanya. Ah, benar juga, kawanan primata yang dulu dengan mudah saya temui berkeliaran di sekitar pantai kini sudah jarang terlihat. Mungkin karena terdesak dengan jumlah pengunjung yang semakin banyak, maka primata tersebut memilih untuk masuk ke dalam hutan.


Jalan menuju kawasan Siti Hinggil dan Pantai Malikan sekarang sudah dibangun dengan baik. Jalan berupa paving block sudah dibuat rapi sehingga nyaman dilalui pejalan kaki maupun kendaraan yang lewat di sana. Kawasan Bukit Siti Hinggil sudah ramai dikunjungi wisatawan yang sedang menantikan datangnya senja. Di kawasan Bukit Siti Hinggil ini kita dapat menikmati pemandangan Pantai Malikan dari ketinggian dengan latar belakang Gunung Kajang yang menjadi ikon wisata Tanjung Papuma ini. Karena berada di atas ketinggian bukit yang langsung menghadap jurang, maka tak heran jika pengelola memasang pagar pembatas demi keselamatan pengunjung yang datang ke sana.

Tuesday, March 29, 2016

Kutepati Janji Untuk Kembali Lagi ke Papuma

Ada perasaan haru ketika kembali menjejakkan kaki ke lokasi yang pernah dikunjungi. Bernostalgia mengingat rute jalan yang dilewati, sambil melihat-lihat perubahan yang kini terjadi di sana-sini. Tanjung Papuma, akhirnya aku kembali lagi ke mari.

Terminal Tawang Alun menjadi titik pemberhentian saya siang ini. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 15.00 ketika saya tiba. Panas, udara yang saya rasakan setelah turun dari bus Akas Asri yang mengantarkan saya dari Kota Surabaya. Peluh keringat pun tak terbendung lagi, bercucuran membasahi wajah dan sekujur badan. Saya mencari warung makan yang berada di depan terminal, untuk mengisi perut sambil mengistirahatkan badan. Kali ini saya pergi dengan seorang kawan. Kami berunding untuk mencari jasa sewa kendaraan atau estafet menggunakan transportasi umum melalui rute perjalanan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Namun, mengingat waktu tempuh perjalanan dan terbatasnya waktu yang kami berdua akhirnya memilih untuk menggunakan jasa sewa kendaraan untuk mengantar kami ke Papuma.


Usai mendapatkan jasa kendaraan yang akan mengantar setelah tawar-menawar, kami pun segera memasukkan barang ke dalam bagasi dan memulai perjalanan. Kali ini kami melewati Jalan Dharmawangsa, kemudian belok ke arah Jalan Otto Iskandar Dinata, lalu lanjut ke arah Kecamatan Ambulu. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan hamparan persawahan, sesekali dengan latar belakang perbukitan. Hujan yang turun dalam perjalanan membuat saya sedikit khawatir, apa iya tujuan kami untuk melihat pemandangan matahari tenggelam akan terhalang oleh hujan? Saya pasrah, hanya bisa memandangi kaca pintu kendaraan yang basah oleh air hujan.

Monday, December 10, 2012

Pantai Watu Ulo - Pantai Favorit Untuk Rekreasi Keluarga

Selain keindahan pantai pasir putihnya yang menawan, Jember juga memiliki pantai dengan nama yang unik. Pantai Watu Ulo, pantai yang terkenal dengan legenda mistiknya, siap menjadi lokasi berlibur untuk keluarga.


Gagal mendapatkan penginapan di Tanjung Papuma mengharuskan saya memutar otak menyusun ulang itinerary yang saya rencanakan sebelumnya. Bapak-bapak dari Perhutani yang bertugas menjaga cottage sebanarnya juga menawarkan saya untuk mencari penginapan di Watu Ulo sebagai alternatif penginapan selain di Tanjung Papuma. Saya bergegas untuk menghubungi Pak Sugiran, tukang ojek yang saya gunakan jasanya tadi pagi mengantarkan saya menuju Tanjung Papuma untuk menjemput saya guna melanjutkan perjalanan selanjutnya. Sebelum benar-benar meninggalkan pesisir selatan Jember ini, saya meminta beliau untuk mampir sebentar di Pantai Watu Ulo, sekalian menghilangkan rasa penasaran saya akan pesona pantai dengan nama unik ini.


Pantai Watu Ulo memiliki kondisi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan Tanjung Papuma. Pantai Watu Ulo memiliki kontur tanah yang cukup landai, ombak yang cukup tenang, dan pasir pantai yang berwarna kehitaman. Kontras dengan Tanjung Papuma yang memiliki pantai berpasir putih dan memiliki tebing-tebing yang menantang, walaupun lokasi kedua pantai tersebut cukup berdekatan jaraknya. Suasana Pantai Watu Ulo ini sekilas mirip dengan pantai-pantai di daerah Bantul, Yogyakarta, seperti Pantai Depok maupun Pantai Parangtritis, namun memiliki pasir pantai yang lebih halus dan air laut yang jernih berwarna kebiruan.


Pemberian nama Watu Ulo sendiri konon mengacu pada rangkaian batu karang yang memanjang dari pesisir pantai menuju ke laut. Batu ini memiliki tesktur mirip seperti sisik ular, sehingga pantai ini dinamakan Watu Ulo oleh masyarakat setempat. Menurut pengamatan saya, pengunjung pantai ini kebanyakan adalah dari kalangan keluarga yang bertamasya bersama. Pantai yang landai, ombak yang tenang menjadikan pantai ini cukup aman untuk bermain dan mandi menikmati deburan ombak. Tapi, tetap jaga kewaspadaan ya, demi keselamatan Anda! Pada hari biasa pantai ini cukup lengang oleh wisatawan, tetapi keadaan akan berubah di hari libur, banyak pengunjung yang menghabiskan waktu mereka bermain-main di pantai ini untuk sejenak melepas penat. Fasilitas yang ditawarkan Pantai Watu Ulo pun cukup beragam, mulai dari deretan warung makan yang dikelola oleh warga setempat, toilet dan kamar mandi umum, serta tak ketinggalan penginapan bagi Anda yang ingin menghabiskan malam di pantai ini. 

Saya hanya sebentar mampir di Pantai Watu Ulo ini. Berhubung waktu sudah siang dan pasir pantai cukup panas menyengat di kaki, saya putuskan untuk segera mengakhiri penjelajahan saya menyusuri pesisir selatan Kota Jember ini. 

Thursday, December 6, 2012

Tanjung Papuma - Surga Bahari di Selatan Jember

Perjalanan menuju Tanjung Papuma memang penuh kejutan. Kita serasa memasuki dimensi lain dari bumi ini. Melewati hutan belantara yang berisi pohon jati dengan daun yang meranggas pada musim kemarau, menaiki bukit, hingga akhirnya menemukan sebuah lukisan alam yang begitu sempurna karya Sang Pencipta.



Nama Tanjung Papuma mungkin belum sepopuler nama-nama pantai di lain di Indonesia. Namun, pesona Tanjung Papuma tidak kalah elok dengan pantai-pantai lain yang sudah terkenal. Tanjung Papuma terletak sekitar 37 kilometer sebelah selatan Kota Jember. Perjalanan dari Kota Jember memakan waktu sekitar satu jam perjalanan. Akses jalan menuju Tanjung Papuma cukup bagus, walaupun akses jalan setelah loket retribusi dalam keadaan agak rusak, namun masih cukup layak dilalui kendaraan. Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi seperti motor maupun mobil, atau menggunakan jasa tukang ojek untuk dapat sampai ke lokasi.



Papuma sendiri merupakan sebuah singkatan dari Pasir Putih Malikan. Pantai berlokasi di di kawasan hutan konservasi yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur KPH Jember. Sepanjang perjalanan menuju Tanjung Papuma banyak pemandangan menarik yang memanjakan mata setiap pengunjungnya. Setelah memasuki gerbang selamat datang, perjalanan dilanjutkan menelusuri deretan hutan dan perbukitan dengan jalan aspal yang sedikit sempit. Hutan tersebut yang berisi pohon jati diselingi dengan kebun jagung milik warga. Pemandangan yang cukup kontras adalah deretan pohon jati yang subur diselingi dengan pepohonan jati yang meranggas tanpa dedaunan dibalut dengan latar belakang awan biru di pagi hari. Menelusuri jalanan sempit di antara hutan jati ini serasa memasuki sebuah lorong waktu menuju tempat yang tak pernah terduga di dalam benak kita. Menurut salah satu informasi, pohon jati yang meranggas ini memang sengaja dimatikan untuk dipanen hasilnya. Ya, mungkin saja pohon-pohon jati tersebut akan ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Saya sendiri susah menebak-nebak ada apa gerangan di balik deretan perbukitan itu. Apakah di sana sudah dekat dengan garis pantai, atau masih jauh? Perjalanan menelusuri deretan perbukitan dan hutan jati ini memang penuh dengan tebakan.


Tak lama setelah menyusuri hutan jati, tibalah di pertigaan tempat pos retribusi. Jika kita belok ke kiri, maka kita akan menuju Pantai Watu Ulo, jika belok ke kanan, kita akan menuju ke Tanjung Papuma. Jalan menuju ke Tanjung Papuma dari arah pos jaga ini cukup menanjak dan banyak jalan yang berlubang, disarankan bagi yang menggunakan motor atau mobil memasukkan gigi 1 saja ditanjakan ini. Sepanjang jalan tanjakan ini saya melihat vegetasi hutan yang cukup lebat. Dari puncak bukit samar-samar terlihat pesona Tanjung Papuma dengan pasir putihnya  di balik rindangnya pepohonan. Serasa di dalam negeri mimpi, sepertinya kemarin saya masih keliaran di Malioboro tapi pagi ini saya sudah menginjakkan kaki ke Tanjung Papuma !



Hamparan pasir putih, ombak yang cukup tenang di beberapa titik, gradasi warna air laut yang terlihat kontras, jajaran perahu nelayan yang sedang berlabuh, bebatuan karang yang menjulang tinggi, serta deretan pepohonan rindang di tepi pantai menjadi pemandangan khas dari Tanjung Papuma. Untuk ombak di Tanjung Papuma memiliki level yang bermacam-macam. Ada lokasi yang memiliki ombak tenang sehingga aman digunakan untuk bermain, ada pula di beberapa titik yang ombaknya cukup besar dan langsung mengarah ke bebatuan sehingga tidak disarankan bagi pengunjung bermain-main di area ini. Keunikan lain dari Tanjung Papuma adalah kita dapat melihat matahari terbit (sunrise) dan matahari tenggelam (sunset) di satu tempat. Jika kita tiba di pagi hari, selain menikmati menikmati pemandangan matahari terbit, kita juga dapat melihat perahu para nelayan yang bersandar selepas melaut menangkap ikan.




Pesona yang sebenarnya dari Tanjung Papuma adalah keberadaan bebatuan karang yang kokoh menjulang dihantam ganasnya ombak laut selatan. Berjalanlah ke arah selatan, kemudian naiklah ke atas bukit yang bernama Siti Hinggil, di sanalah Anda akan menemui pesona Tanjung Papuma yang sebenarnya. Sebuah batu karang yang menjualng tinggi menyerupai bukit kecil yang berada di tengah lautan menjadi ikon pariwisata di selatan Jember ini. Bebatuan tersebut konon dihuni oleh banyak sekali ular laut sehingga tidak seorang pun berani menyeberang menuju batu tersebut. Di Siti Hinggil ini terdapat sebuah bangunan pendopo, dari sini kita dapat melihat keindahan Tanjung Papuma dari atas bukit, baik dari hamparan garis pantai sampai dengan lebatnya hutan konservasi yang sangat dijaga kelestariannya.



Batu-batu karang besar ini memiliki nama seperti nama di pewayangan seperti Narada di sebelah selatan Siti Hinggil, Batara Guru, Kresna, dan batu kodok di sebelah timur batu Narada. Di bagian Siti Hinggil ini Anda akan puas menikmati keindahan Tanjung Papuma yang terhampar luas di depan mata. Karena letaknya antara hutan konservasi, jangan heran jika Anda melihat sekawanan primata liar berbagai jenis yang bebas berkeliaran. Hutan di sini sangat dilindungi dan tidak diizinkan seorang pun berburu di kawasan ini untuk menjaga kelestariannya. Ya, untuk jaga-jaga saja harap selalu waspada saja jika tidak ingin barang-barang Anda diambil oleh kawanan primata liar ini.

Fasilitas 
Sebagai salah satu obyek wisata andalan di Kota Jember, Tanjung Papuma memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai. Mulai dari deretan warung makan yang dikelola oleh warga sekitar, kamar mandi umum, hingga penginapan yang dikelola oleh Perhutani tersedia di pantai ini. Untuk warung makan, menu yang disajikan rata-rata adalah seafood hasil tangkapan dari nelayan setempat. Untuk pelepas dahaga, Anda dapat memesan es kelapa hijau muda dengan harga Rp 7.000,00 per-bijinya.




Untuk pilihan penginapan, Anda dapat meninap di cottage yang dikelola oleh Perhutani dengan kisaran harga mulai dari Rp 150.000,00 sampai dengan Rp 400.000,00 per-kamar (data November 2012). Awalnya saya berencana ingin meninap di Tanjung Papuma ini, namun sayang nasib sedang tidak berpihak. Kamar yang saya incar ternyata sudah habis dipesan dan tinggal kamar dengan harga Rp 360.000,00 per-malam. Pihak Perhutani menawarkan untuk menyewa tenda dome dengan harga Rp 75.000,00, tetapi saya tolak karena alasan keamanan, mengingat Tanjung Papuma berada di tengah-tengah hutan konservasi dan masih banyak kawanan primata liar di sana. Bagi Anda yang gemar berpetualang di alam bebas, tak ada salahnya mencoba mendirikan tenda sambil menikmati deburan ombak Tanjung Papuma ditemani dengan cahaya api unggun pada malam hari. Dengar-dengar katanya Tanjung Papuma juga bisa dijadikan sebagai spot untuk snorkling. Persewaan alat untuk snorkling dibandrol dengan harga Rp 50.000,00 termasuk jaket pelampung. Saya sendiri sebenarnya penasaran ingin melihat keindahan bawah laut Tanjung Papuma, sayang saya kurang mengetahui informasi untuk persewaan alat snorkling dan juga pemandunya.


Terlepas dari keindahan Tanjung Papuma yang memanjakan mata, ada sedikit kisah pilu yang sedikit mengganggu pandangan mata saya. Ya, banyak sampah yang masih berserakan di beberapa tempat. Sepanjang pengamatan saya Tanjung Papuma ini masih minim dengan fasilitas tempat sampah. Saya melihat banyak sekali sampah-sampah plastik bekas bungkus makanan maupun air mineral yang dibuang begitu saja. Sangat disayangkan memang jika pengunjung yang datang ke sini masih rendah kesadaran mereka akan membuang sampah pada tempatnya, ditambah kurangnya fasilitas pengolahan sampah oleh pihak pengelola. Di sekitar pantai sih saya melihat ada seorang yang menyapu bekas-bekas sampah yang berserakan, baik itu sampah organik maupun sampah anorganik kemudian dia kumpulkan lalu dibakar. Ya, alangkah arifnya jika pengunjung juga memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan untuk menjaga keindahan Tanjung Papuma ini.


Nah, bagi Anda yang penasaran dengan pantai yang bisa melihat view sunrise dan sunset dalam satu tempat sambil menikmati pesona pantai berpasir putih, tak ada salahnya jika menyempatkan diri untuk menyambangi Tanjung Papuma di pesisir selatan Kota Jember ini.

keterangan :
retribusi masuk ke Tanjung Papuma (data November 2012)
hari biasa : Rp 5.000,00 + asuransi
hari libur  : Rp 7.000,00 + asuransi

toilet : Rp 2.000,00

Saya mendapatkan tambahan informasi, bagi Anda yang ingin mengakses fasilitas seperti persewaan alat snorkling, tour bahari, persewaan ATV, flying fox, dan sebagainya, dapat menghubungi pihak Papuma Adventure yang bermarkas di sebelah mushola.

tips : untuk mendapatkan view landscape yang bagus disarankan datang pada pagi hari, sekitar pukul 06.00 sampai dengan pukul 10.00 karena matahari belum terlalu menyengat, dan jangan lupa untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan !

Tuesday, December 4, 2012

Perjalanan dari Jogja Menuju Tanjung Papuma


"Next trip ke mana lagi?", mungkin saja pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepala bagi Anda yang sudah kecanduan apa itu namanya traveling. Mungkin juga bagi Anda sudah memiliki agenda khusus mengenai kapan dan ke mana tempat selanjutnya untuk dijelajahi. Traveling bisa menjadi gaya hidup bahkan juga kebutuhan bagi sebagian orang. Bagi saya traveling merupakan salah satu wahana untuk mengenal diri sendiri, pun demikian juga untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menikmati kekayaan dan keindahan ciptaan tangan-Nya yang maha sempurna. Jujur, saya sendiri tidak pernah memiliki perencanaan untuk bepergian ke mana, karena hampir selalu perencanaan yang saya buat jauh-jauh hari sebelumnya hanya berujung sebagai wacana saja. Ya, perjalanan ke Tanjung Papuma ini merupakan pengalaman solo traveling saya yang kedua, alias perjalanan seorang diri setelah bulan Mei kemarin saya nekat menjelajah seorang diri ke Bromo. Perjalanan kali ini saya pun juga menerapkan prinsip "modal nekat" untuk dapat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keindahan Tanjung Papuma yang sebenarnya. Perjalanan ke Tanjung Papuma juga menjadi perjalanan dadakan, mengingat rencana saya untuk bertandang ke Dieng dan Kawah Ijen saya urungkan karena cuaca yang sedang tidak bersahabat. 

Sebelum saya berangkat ke kampus pada pagi hari, saya sempat berkicau mengutarakan keinginan saya untuk menjelajah Tanjung Papuma. Niatnya sih sekalian memberi kode siapa tahu ada yang berminat untuk bergabung dengan saya. Kicauan saya disambar oleh akun @PapumaJember, yang awalnya saya kira hanya akun-akun spam yang hobi menyambar tweet. Saya pun mencoba menuliskan kicuan kepada akun tersebut untuk bertanya rute kendaraan umum menuju Papuma. Tidak disangka, akun @PapumaJember bukanlah akun spam seperti perkiraan saya. Kicauan saya dibalas dan akun tersebut menjelaskan rute kendaraan umum menuju Tanjung Papuma. Siang hari sepulang dari kampus, saya sempatkan dulu untuk browsing informasi mengenai akses kendaraan umum menuju Papuma. Dari beberapa blog yang saya kunjungi rata-rata memang kurang menjelaskan bagaimana akses menuju Tanjung Papuma. Mereka hanya menjelaskan bagaimana keindahan Tanjung Papuma, dengan tampilan beberapa foto narsis sebagai pelengkap blog mereka. Tidak apalah, toh blog pribadi kan suka-suka si penulis mau menuliskan apa yang dia mau bukan?

Sembari browsing informasi saya menghubungi beberapa teman untuk mengajak trip bersama. Anyway as usual, ajakan saya mereka tolak dengan berbagai macam alasan. Yasudah lah, lebih baik saya jalan sendiri saja daripada tidak terealisasi. Pukul 14.30 saya pun membulatkan tekat untuk berangkat, packing apa adanya dan membawa bekal secukupnya. Sekitar pukul 15.00 saya pun bersiap meninggalkan kost langsung berjalan kaki menuju halte Trans Jogja terdekat untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju terminal Giwangan. Jogja sore itu terasa cukup padat lalu lintasnya, perjalanan dari halte Trans Jogja depan RS Sardjito menuju ke terminal Giwangan memakan waktu sekitar 1 jam lebih. Ya, beginilah, sistem transportasi massal terkadang malah memakan waktu yang panjang.


Perjalanan Jogja-Jember dengan Bus Akas Asri
Kenapa saya memilih transportasi bus antar kota? Menurut saya waktu keberangkatan lebih fleksibel, walau dari segi waktu tempuh maupun biaya lebih mahal jika dibandingkan dengan menggunakan kereta api. Pertimbangan saya lainnya adalah jika menggunakan bus antar kota pada malam hari saya dapat menghemat ongkos penginapan, karena saya bisa istirahat di dalam bus pada malam hari, dan sampai di tujuan pada pagi harinya. Beruntung setelah saya sampai di terminal Giwangan, ada bus tujuan Jogja-Banyuwangi yang akan berangkat. Saya pun segera naik dan mencari tempat duduk yang nyaman bagi saya. Beruntung pula penumpang sore itu tidak terlalu ramai seperti yang biasa saya lihat. Harga tiket bus dari Jogja menuju Jember sebesar Rp 72.000,00 per-orang. Perjalanan dari Jogja menuju Jember memakan waktu sekitar 10-12 jam perjalanan, tergantung dengan kondisi lalu lintas.

Bus Akas Asri ini memiliki seat dengan setelan 3-2, setara dengan kelas AC ekonomi. Satu hal yang kurang nyaman bagi saya adalah tempat duduknya agak sempit di bagian kaki, sehingga agak menyulitkan untuk bergerak atau meluruskan kaki. Kualitas tempat duduk cukup nyaman dan AC-nya cukup kencang kok. Selama perjalanan yang cukup panjang itu jangan harap Anda mendapatkan kupon makan mengingat bus ini hanya berkelas AC ekonomi. Memasuki area Jawa Timur saya pun mulai tertidur lumayan lelap. Terbangun beberapa kali karena kepala saya terbentur kaca dan membalas beberapa pesan singkat. Jika diamati antara bus Sumber Grup, Mira, Eka, maupun Akas Asri memiliki sistem driving yang sama ketika memasuki area Jawa Timur. Si sopir pasti menjalankan bus dengan kecepatan yang cukup tinggi. Agak ngeri juga sih sebenarnya, tapi ya pasrah saja lah, toh si sopir juga sudah berpengalaman dan mempunyai perhitungan dalam menjalankan kendaraannya.

Sekitar pukul 01.30 bus sudah memasuki wilayah antara Pasuruhan dan Probolinggo. Bus ini pun mampir sejenak di pom bensin untuk mengisi bahan bakar sambil mempersilahkan penumpangnya menuju kamar kecil. Pukul 02.00 bus berhenti di salah satu rumah makan di wilayah Probolinggo dan si kondektur mempersilahkan penumpang untuk membeli makanan. Saya memilih tinggal di dalam bus sambil berbincang-bincang dengan beberapa penumpang yang juga memilih tinggal di dalam bus. Sekitar 20 menit kemudian perjalanan pun kembali dilanjutkan. Memasuki kota Probolinggo mengingatkan saya kembali mengenai perjalanan ke Bromo yang pernah saya lakukan beberapa bulan sebelumnya. Tak terasa sekitar pukul 04.30 bus yang saya tumpangi sudah memasuki kota Jember. Sepanjang perjalanan memasuki Kota Jember saya disambut dengan guyuran hujan gerimis yang membuat saya sedikit pesimis. Bus yang saya tumpangi tidak masuk ke dalam Terminal Tawang Alun. Penumpang yang turun di terminal ini dipersilahkan untuk turun di depan terminal. Beruntung sekali ketika saya turun dari bus hujan rintik perlahan mulai berhenti.

Perjalanan dari Jember Menuju Balung
Turun dari bus saya pun dihampiri oleh bapak-bapak yang sepertinya bertugas untuk mencari penumpang. Saya bertanya-tanya mengenai rute kendaraan umum untuk menuju Tanjung Papuma. Walau penampilan si bapak lumayan garang, tapi beliau baik, menjelaskan kepada saya pilihan kendaraan untuk menuju Tanjung Papuma. Sebenarnya saya sudah mengantongi informasi mengenai rute kendaraan umum dari Terminal Tawang Alun Jember menuju Tanjung Papuma dari akun twitter @PapumaJember. Si bapak memberi tahu saya jika dari Terminal Tawang Alun ini saya dapat melanjutkan perjalanan menuju ke daerah Balung kemudian disambung menuju daerah Ambulu dengan menggunakan angkot. Alternatif kedua adalah dengan menyewa jasa ojek langsung dari terminal dengan ongkos Rp 60.000,00 sampai dengan Rp 75.000,00 sekali jalan. Jika menggunakan angkot, terlebih dulu kita menuju daerah Balung. Ongkos yang dikenakan adalah Rp 10.000,00 per-orang dengan lama tempuh perjalanan sekitar 30 menit (data bulan November 2012).

Ketika di terminal si sopir angkot menawari saya untuk menyewa angkotnya saja untuk langsung menuju daerah Papuma. Saya pun dengan sigap menolaknya secara halus, karena tidak ada di dalam perencanaan anggaran saya. Perjalanan dari Terminal Tawang Alun menuju daerah Balung memakan waktu sekitar 30 menit. Satu hal yang unik dari sopir angkot di daerah Jember ini adalah kelakuan si sopir yang terbilang cukup agresif dalam mendapatkan penumpangnya. Dilihat dari logat bicaranya si sopir sepertinya adalah orang Madura. Hal unik yang saya lihat adalah si sopir tak segan-segan untuk memberhentikan angkotnya dan dia mendatangi si calon penumpang langsung untuk menawarkan angkotnya. Walaupun sebelumnya si kernet sudah menawari rute angkot dan si penumpang jelas-jelas menolakknya. Sungguh perjuangan yang cukup gigih untuk mendapatkan penumpang. Hal unik lainnya adalah beberapa masyarakat di Jember masih memanfaatkan air sungai untuk mencuci baju dan buang hajat, setidaknya itulah pemandangan pagi yang saya temui sepanjang perjalanan menuju daerah Balung. Walau air sungai terlihat cukup keruh, namun masih saja penduduk masih memanfaatkan aliran airnya.

Perjalanan dari Balung Menuju Ambulu
Setelah sekitar 30 menit perjalanan dari Terminal Tawang Alun, Jember sampailah saya di daerah Balung. Si sopir mempersilahkan saya turun di pertigaan pasar Balung. Dari pertigaan pasar Balung ini sudah ada bapak-bapak yang menawari saya angkot untuk menuju daerah Ambulu. Naiklah saya ke dalam angkot dan saya harus menunggu sekitar 30 menit karena angkot yang nge-time menunggu sampai penumpang penuh. Di dalam angkot Anda harus rela berdesak-desakan dengan orang maupun barang, karena di pagi hari biasanya banyak pedagang dari daerah Balung menuju Ambulu untuk menjajakan barang dagangan mereka. Sedikit kurang nyaman memang, namun disitulah kenikmatan menaiki angkutan umum. Kita dapat berinteraksi dengan orang-orang dengan berbagai macam latar belakang. Tarif angkot untuk rute Balung - Ambulu ini adalah Rp 10.000,00 per-orang (data November 2012).

Ambulu - Tanjung Papuma Pakai Ojek Motor Saja !
Sesampainya di perempatan Ambulu, semua penumpang pun turun dari angkot. Ada seorang bapak-bapak tukang ojek yang menghampiri saya menawarkan jasanya. Sesuai dengan kesepakatan, untuk sekali jalan menuju Tanjung Papuma biaya yang harus saya bayarkan adalah Rp 30.000,00 (data November 2012). Si bapak akan menawarkan untuk menjemput Anda setelah puas menikmati keindahan Tanjung Papuma. Sekedar tips, jangan lupa untuk meminta nomor telepon si tukang ojek untuk memudahkan Anda berkomunikasi jika sewaktu-waktu Anda minta dijemput. Tukang ojek di sini bisa dipercaya kok. Mereka akan menepati janji untuk menjemput Anda sesuai dengan jam yang sudah disepakati. 

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com