Showing posts with label Bantul. Show all posts
Showing posts with label Bantul. Show all posts

Friday, June 19, 2015

Menikmati Atraksi Paralayang dari Atas Samudera

Jalur konblok yang berkelok dengan kontur menanjak membuat saya sedikit was-was ketika melewatinya. "Tolong siap-siap turun dari boncengan ya, kalau motor ini tidak kuat di tanjakan terakhir nanti", pinta saya kepada seorang kawan yang membonceng di belakang.

Motor yang saya kendarai akhirnya kuat melewati tanjakan demi tanjakan jalan menuju Bukit Parangendog. Beberapa kali ke bukit ini, hampir saja motor yang saya kendarai tidak kuat melewati tanjakan terakhir dengan kemiringan yang cukup curam. Dari pengalaman tersebut saya selalu berpesan kepada kawan yang membonceng saya untuk siap-tiap turun dari boncengan, kalau-kalau motor yang saya kendarai tidak sanggup melewati tanjakan terakhir tersebut.


Bukit Parangendog terasa lebih ramai dibandingkan dengan beberapa tahun silam. Mungkin sudah banyak orang yang mengenal keberadaan bukit ini dari media sosial yang semakin digemari kalangan anak muda jaman sekarang. Bukit Parangendog merupakan sebuah bukit kecil yang berada di atas Pantai Parangtritis yang terkenal dengan legenda Ratu Pantai Selatan. Bukit kecil ini memiliki pemandangan yang indah. Kita dapat melihat hamparan pesisir pantai selatan, hutan-hutan dan perbukitan, serta hamparan persawahan dari atas ketinggian. Bukit Parangendog juga menjadi salah satu lokasi menikmati pemandangan matahari tenggelam di kala senja tiba.

Monday, April 28, 2014

Pantai Pandansari - Cerita Tentang Mercusuar dan Agrowisata Buah Naga

Suatu siang dengan sinar matahari yang cukup terik menyengat kulit. Laju kendaraan saya arahkan menuju daerah pesisir Bantul untuk sekedar menikmati ombak pantai agar bisa sedikit terhibur. Seusai membayar uang retribusi, motor pun melaju menuju Pantai Pandansari yang nampak begitu sepi. Seperti kebanyakan pantai di pesisir Bantul, Pantai Pandansari memang kurang begitu memiliki pemandangan yang menarik. Pantai pasir berwarna cokelat kehitaman dengan ombak pantai yang terlihat tidak begitu jernih. Hanya nampak pepohonan pandan laut dan cemara laut yang tumbuh subur di tepi pantai yang memberi suasana hijau di sekitarnya.

Pesona Pantai Pandansari bukan terletak pada hamparan pasir pantainya. Keunikan pantai ini adalah adanya menara suar atau mercusuar setinggi sekitar 40 meter serta lahan pertanian pesisir dengan komoditi utama buah naga yang tumbuh subur. Banyak wisatawan yang datang ke Pantai Pandansari ini untuk sekedar menikmati pemandangan pantai dari atas ketinggian menara suar. Bangunan menara suar ini berada di satu kompleks rumah dinas yang tidak jauh dari pantai. Untuk masuk ke dalam bangunan menara suar silahkan meminta izin kepada penjaga kompleks rumah dinas tersebut. Cukup membayar uang suka rela untuk kebersihan, sang penjaga akan mempersilahkan kita masuk dan naik ke bangunan mercusuar tersebut.

Monday, June 17, 2013

Air Terjun Jurang Pulosari, Kini Mulai Diminati Wisatawan

Nikmatilah setiap jengkal perjalanan, jangan ragu untuk berbincang dengan penduduk sekitar.

Perjalanan menyambangi keindahan Curug Banyunibo memberikan saya sebuah pembelajaran, bahwa sejatinya sebuah perjalanan bukanlah tentang destinasi yang kita tuju, melainkan bagaimana kita bisa menikmati setiap proses di dalam melakukan sebuah perjalanan itu sendiri.


Usai menikmati keindahan alam di Curug Banyunibo, perjalanan saya lanjutkan menuju Jurang Pulosari, salah satu air terjun yang lokasinya tak jauh dari Curug Banyunibo ini. Perjalanan menuju Jurang Pulosari pun tak kalah menantang. Jalan setapak dengan cor blok dengan medan naik turun dan sedikit berkelok pun tetap setia menemani sepanjang perjalanan.


Tuesday, June 11, 2013

Curug Banyunibo - Wisata Air Andalan di Daerah Pajangan, Bantul

Bantul, sebuah wilayah yang terletak di sebelah selatan Yogyakarta memang terkenal dengan ragam pilihan wisatanya. Mulai dari wisata pantai di pesisir selatan, menikmati suasana pedesaan yang tenang, kuliner tradisionalnya yang memanjakan lidah, serta terkenal sebagai sentra penghasil barang-barang kerajinan yang beraneka rupa. Siang itu kendaraan saya arahkan menuju desa Krebet, sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Pajangan, sebelah barat wilayah Bantul yang terkenal dengan kerajinan batik kayunya. 


Tujuan saya kali ini tidak untuk menikmati wisata batik kayu yang disajikan di Desa Krebet, melainkan mencari keberadaan sebuah curug yang berlokasi tidak jauh dari desa wisata ini. Curug Banyunibo, sebuah air terjun yang tergolong baru, yang kini mulai dikembangkan oleh warga setempat sebagai obyek wisata. Secara administratif Curug Banyunibo ini berada di Dusun Kabrokan Kulon, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Perjalanan menuju Curug Banyunibo memang cukup berliku. Mulai dari jalan aspal yang mulai tidak rata dengan medan naik turun, dilanjutkan dengan jalan setapak yang dikeraskan dengan cor blok menyusuri hutan dan deretan perkampungan. Namun, pemandangan perbukitan yang cukup rindang sedikit mengalihkan perhatian dari rasa lelah saat perjalanan. Lokasi curug ini sedikit "mblusuk" memang. Tapi tak perlu khawatir tersesat, karena petunjuk jalan sudah dipasang, walaupun berukuran cukup kecil. Jika ragu dan tidak ingin tersesat, jangan takut bertanya dengan penduduk setempat, dengan ramah mereka akan menjelaskan rute menuju Curug Banyunibo ini dengan jelas.

Monday, March 4, 2013

Parangtritis dalam Balutan Lembayung Senja

Banyak rasa yang terpendam dan tak dapat terungkap dalam rangkaian kata. Dia mencoba berlari mengejar senja hingga ujung samudera. Mungkin hanya dengan senja beradu dengan ganasnya ombak samudera bisa sejenak melupakan segala beban pikiran yang sedang dirasa. Parangtritis, menjadi tempat pelarian untuk kesekian kalinya dengan pemandangan senja menjadi incarannya.


Tak perduli berapa banyak orang yang lalu lalang di sekelilingnya, toh tak seorang pun yang dikenalnya. Hanya sebuah kamera yang ada pada genggaman dan tak perduli bagaimana ia memainkan. Kesendirian membawanya hanyut dalam suasana pesisir pantai yang dia damba. Samar-samar dari kejauhan terlihat sosok nelayan berjalan menyusuri tepian pantai dengan jaring kecil di kedua tangannya. Sesekali gelombang besar menghantam dan seolah tak ada rasa ketakutan terpancar di antara raut wajah mereka. Apa yang mereka cari? Entahlah, mungkin saja undur-undur laut yang akan mereka jadikan keripik renyah kemudian mereka jajakan guna menyambung kehidupan.


Pandangannya pun kini beralih pada hamparan pasir kering yang tak tersentuh oleh ombak. Dia duduk termangu melihat luasnya hamparan laut berpadu dengan semilir angin angin laut yang membuat suasana makin syahdu. Matahari perlahan berjalan menuju peraduan. Namun sayang, apa yang dia nantikan tak kunjung datang. Sang mentari pergi meninggalkan bumi diiringi sekumpulan awan mendung yang berjalan perlahan. "Ah, sepertinya moment golden sunset tidak akan datang", gumamnya dengan sedikit menyiratkan raut muka kecewa. 



Perempuan dalam temaram senja,
Yogyakarta, Februari 2013

Monday, February 18, 2013

Hutan Pinus Dlingo - Sejuknya Udara Pagi di Antara Rapatnya Pepohonan

Hamparan pemandangan hijau yang membentang seolah tak pernah henti-hentinya memanjakan mata, ditambah sejuknya udara siap memikat hati bagi siapa saja untuk berkunjung ke hutan dengan jenis tanaman yang seragam ini.


Siapa sangka jika di salah satu sudut Yogyakarta memiliki sebuah hutan pinus dengan pemandangan yang cantik serta udara yang sejuk? Tak jauh dari Kebun Buah Mangunan, kita akan menemukan sebuah hutan pinus yang bernama Hutan Pinus Dlingo. Secara administratif, Hutan Pinus Dlingo ini terletak di Desa Muntuk, Kecamatan Dligo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Untuk menuju hutan pinus ini cukup mudah, karena papan petunjuk arah sudah tersedia dan udah untuk ditemukan.

Thursday, February 14, 2013

Kebun Buah Mangunan - Menikmati Suasana Pagi dari Gardu Pandang

Morning is always amazing ! Bangun di pagi hari, menikmati semilir angin yang menyejukkan hati, serta menikmati suara hening yang menyelimuti, dan selalu ada pemandangan indah di pagi hari !


Mentari pun masih samar menampakkan cahayanya dibalut dengan semilir angin yang menghantarkan hawa dingin di sekujur kulit, tak menumbangkan niat untuk menjelajahi salah satu sudut di wilayah selatan Yogyakarta. Tujuan saya kali ini adalah mengunjungi Kebun Buah Mangunan yang terletak di Dusun Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, atau tepatnya di sebelah selatan Imogiri. Lokasi ini memiliki penorama alam yang cukup cantik, serta hawa yang cukup sejuk, karena berada di wilayah dataran tinggi.

Sunday, January 27, 2013

Gumuk Pasir Parangtritis - Menikmati Hamparan Gurun Pasir ala Jogja

Jogja memiliki pesona alam yang seolah tak habis untuk dieksplorasi. Mulai dari deretan pantai-pantai cantik di pesisir selatan, pemandangan pegunungan, goa-goa yang beraneka macam, air terjun, bahkan gurun pasir pun dapat kita temukan.


Mengeksplorasi keindahan alam di wilayah Yogyakarta memang seolah tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Kita pun seolah dimanjakan dengan pilihan wisata alam yang sangat beragam. Tak hanya deretan pegunungan dan juga hamparan pantai-pantai yang membentang di pesisir selatan, Yogyakarta juga memiliki sebuah gurun pasir yang tak kalah menarik. Mungkin bagi sebagian orang akan terasa sangat janggal mengingat Yogyakarta memiliki iklim tropis yang hampir tidak memungkinkan untuk munculnya gurun pasir.  Gurun pasir sendiri memang cukup populer dan dapat mudah ditemukan di negara-negara yang berada di kawasan Timur Tengah. Jika di Jogja, fenomena padang pasir ini diberi sebutan gumuk pasir. Gumuk sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya gundukan tanah yang menyembul ke atas. Anda dapat melihat fenomena alam ini membentang dari Pantai Parangtritis hingga hilir Sungai Opak. Akses jalurnya cukup mudah, tinggal susuri saja jalan yang menghubungkan antara Pantai Parangtritis, Pantai Parangkusumo, dan Pantai Depok.

Friday, January 25, 2013

Pantai Parangendog - Menikmati Sisi Lain Bagian Timur Pantai Parangtritis

Nama Pantai Parangendog mungkin memang masih cukup asing di telinga para wisatawan. Nama Pantai Parangtritis memang lebih familiar bagi para wisatawan karena pantai ini memang pantai yang sangat terkenal di pesisir selatan Jogja. Pantai Parangendog sendiri merupakan sebutan untuk pantai yang terletak di ujung timur Pantai Parangtritis, tepatnya dekat dengan tebing-tebing. 


Nama Parangendog sendiri mungkin lebih familiar untuk sebutan bukit yang terletak di atas Pantai Parangtritis. Kita dapat melihat hamparan pesisir pantai selatan dari arah Bukit Parangendog ini. Pantai Parangendog terletak tidak jauh dari air terjun musiman yang hanya muncul pada saat musim penghujan ini. Pantai ini memiliki hamparan pasir yang cukup landai dan ombak yang lumayan tenang, namun Anda harus penuh dengan kewaspadaan. Pantai Parangendog ini cukup relatif lebih sepi jika dibandingkan dengan Pantai Parangtritis, walaupun lokasi keduanya cukup berdekatan. 

Air Terjun Parangendog - Air Terjun Musiman di Pantai Parangtritis

Di antara hamparan pasir lembut dan deburan ombak yang menantang, Pantai Parangtritis memiliki air terjun musiman yang tak kalah menawan untuk diabadikan.


Pantai Parangtritis memang pantai yang cukup tersohor di pesisir selatan Jogja yang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan legenda tentang Nyi Roro Kidul sang penunggu pantai pesisir selatan Jawa. Pantai ini menjadi lokasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Jogja. Selain menikmati hamparan pasir serta deburan ombak, pantai ini menyimpan keunikan yang tidak dapat kita temui setiap saat. Keunikan tersebut adalah keberadaan sebuah air terjun yang hanya dapat kita temui di musim penghujan saja. Beberapa orang ada yang menamai air terjun ini dengan nama air terjun Parangtritis, namun ada pula yang menyebut air terjun Parangendog.

Thursday, May 31, 2012

Tempuran, Pertemuan Dua Arus Sungai di Desa Sriharjo, Imogiri, Yogyakarta


Berawal dari kegiatan kuliah lapangan di Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta dan ketidaksengajaan atas informasi penduduk sekitar lah saya dapat menemukan tempat yang menurut saya cukup unik ini. Penduduk sekitar menyebutnya sebagai daerah tempuran, yaitu pertemuan di antara dua buah arus sungai, antara Sungai Oyo yang berhulu di Gunung Kidul dan juga Sungai Opak. 


Pemandangan di Desa Sriharjo ini tak kalah cantik. Diapit oleh deretan pegunungan karst di sisi selatan dan hamparan persawahan yang cukup subur. Pemandangan yang cukup meneduhkan mata di tengah aktivitas di perkotaan yang padat dengan lalu lalang kendaraan. Penduduknya pun tak kalah ramah menyambut kedatangan kami yang akan melakukan penelitian.



Daerah tempuran ini memang sedikit agak tersembunyi di antara ladang dan sawah milik penduduk. Jalur menuju ke daerah ini masih jalan setapak, tentu saja setelah keluar dari jalan desa yang sudah dibangun. Setelah melewati jalur setapak, kita masih harus berjalan kaki melewati tegalan milik penduduk sebelum akhirnya menemukan pertemuan dua buah arus sungai yang memiliki pemandangan yang cantik ini.




Suasananya memang cukup sepi karena agak tersembunyi. Jeram-jeram yang ada di sungai ini mengingatkan saya ketika saya melakukan river tubing di Gunung Kidul, rasanya ingin langsung masuk saja ke sungai untuk menikmati alirannya, hehehe. Pemandangan di pinggir sungai cukup cantik dengan batu-batu padasnya, serta hujaunya pepohonan di sekitar sungai cocok juga kok untuk berfoto ria di tempat ini.

Saturday, May 19, 2012

Mangut Lele dan Gudeg Mbah Marto Nggeneng


Jogja memang tidak bisa dipisahkan dengan beragam kulinernya yang khas. Kota ini memang memiliki kuliner legendaris yang patut untuk Anda cicipi satu per satu bagi Anda yang memang gemar berburu kuliner. Acara hunting kuliner kali ini saya putuskan untuk icip-icip ke warung sego Nggeneng Mbah Marto yang terletak di daerah Sewon, Bantul, tepatnya di belakang kampus ISI (Institut Seni Indonesia). Dari beberapa artikel dan acara kuliner di televisi, warung ini lebih terkenal dengan sajian mangut lele dan gudegnya.

Oke mari langsung saja kita mulai review-nya :)

Bagaimana cara menuju warung ini?
Oke dibutuhkan kejelian untuk menemukan warung sego Nggeneng Mbah Marto ini karena letaknya berada di tengah-tengah perkampungan penduduk dan hampir tidak ada papan petunjuk nama warung ini seperti warung-warung atau rumah makan pada umumnya. Oke saya akan sedikit menjelaskan ancer-ancer menuju warung ini. Dari arah Jogja langsung saja ambil jalan menuju Jalan Parangtritis arah ke kampus ISI Jogja. Dari kampus ISI masih lurus saja ke selatan sampai menemukan Kantor Pos cabang Sewon di kiri jalan. Nah di seberang jalan Kantor Pos tersebut (di sebelah kanan) ada gang kecil, masuk saja ke sana terus saja ketemu tikungan belok saja ke kiri sampai pertigaan yang dekat masjid. Dari pertigaan tersebut belok saja ke kiri ikuti jalan sampai Anda menemukan gang pertama di kanan jalan setelah jembatan kecil. Masuk saja gang di sebelah kanan tersebut sampai menemukan sebuah bangunan warung kecil di kanan jalan. Di depan warung tersebut ada gang kecil, masuk saja sampai Anda menemukan sebuah rumah kecil di kanan jalan yang terdapat sumur di depannya. Nah itulah warungnya Mbah Marto. Karena memang lokasinya yang mblusuk dan jalannya yang cukup kecil, jadi pintar-pintarlah untuk memilih waktu kedatangan, kalau Anda tidak ingin ribet untuk mencari tempat parkir kendaraan. Kalau masih bingung dengan lokasinya yang agak sedikit njlimet, silahkan menggunakan GPS manual alias bertanya kepada penduduk sekitar, pasti mereka akan menjelaskan lokasinya karena warung ini memang cukup terkenal.

Bagaimana dengan warungnya sendiri?
Nah, ini salah satu ciri khas dari warungnya Mbah Marto, jika warung-warung lain pada umumnya menggelar dagangannya di bagian depan warung, berbeda halnya dengan warung ini. Warung ini berdiri menyatu dengan rumah permanen sederhana, bagian depannya hanya ada beberapa meja dan kursi yang menanjang. Jangan harap Anda akan menemukan dagangan makanan di bagian depan, yang ada adalah orang yang ramai-ramai makan di depan rumah.


Pengunjung yang akan membeli makanan harus masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke bagian pawon atau dapur yang masih beralaskan tanah. Ini yang menjadi keunikan warung ini, yaitu makanan yang dijual disajikan langsung di pawon ini. Pawon yang masih khas dapur Jawa pada jaman kuno, memberikan nostalgia tersendiri bagi saya. Kompor yang digunakan masih menggunakan tungku yang terbuat dari batu bata, bahan bakar untuk memasak yang masih menggunakan kayu bakar dan sabut kelapa, dan adanya pemandangan ROL (ray of light) yang ditimbulkan dari asap dapur yang mengepul saat digunakan memasak yang terkena pancaran sinar matahari dari bagian atap rumah.


Makanannya pun disajikan di baskom-baskom besar yang diletakkan di atas amben (dipan yang terbuat dari kayu). Pengunjung yang akan makan disitu biasanya dipersilahkan untuk mengambil sendiri menu-menu makanan yang mereka sukai. Bagi yang ingin dibungkus, Mbah Marto dengan sabar dan telaten akan melayani pelanggan disertai dengan sendau gurau beliau. Oh iya karena Mbah Marto ini sudah sepuh (tua), dan pendengaran beliau mulai menurun, jadi bagi Anda yang akan berkomunikasi dengan belau harap menggunakan suara yang agak sedikit keras volumenya, dan satu lagi gunakanlah bahasa Jawa untuk mempermudah komunikasi dengan beliau secara langsung karena beliau tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia :)

Bagaimana dengan menu-menunya?
Warung sego Nggeneng Mbah Marto ini lebih terkenal dengan mangut lele dan gudegnya yang memiliki ciri khas tersendiri. Untuk icip-icip kali ini saya memang tidak berpikir panjang lagi dan langsung mengambil nasi, mangut lele, gudeg, serta kerupuk. Sebenarnya cukup banyak pilihan menu yang disediakan di warung ini antara lain adalah opor ayam yang terdiri dari ayam, tahu, tempe, dan telur yang diberi bumbu kuning yang segar, ada juga sambel goreng krecek, serta ada pula garang asem.


Masakan mangut lelenya ini memiliki ciri khas yaitu lele ditusuk dengan pelepah daun kelapa dan diasap dengan sabut kelapa yang memberikan aroma sangit pada lelenya. Kuahnya ini yang bikin nagih, yaitu rasa pedas yang memberikan sensasi rasa segar apalagi untuk sajian makan siang yang semakin menggugah selera. Tapi menurut saya bumbunya ini masih kurang merasuk ke dalam lelenya sih, tapi sensasi pedas dan segar dari rasa kuah mangut ini boleh lah untuk dimaafkan.


Gudegnya sendiri juga unik, berbeda dengan gudeg-gudeg lainnya yang hanya berbahan dasar nangka muda, gudeg di warung ini diberi campuran daun pepaya. Jadi ya rasa gudeg ini jadi ada rasa pahit-pahitnya gitu yang semakin menambah kenikmatan dan konon daun pepaya juga menambah nafsu makan. Nah, sembari menikmati mangut lele dan gudeg, jangan lupa untuk mengambil kerupuknya yang menurut saya tak kalah istimewa. Kerupuknya berukuran besar dan rasanya gurih.

Bagaimana dengan harganya?
Untuk menu-menu yang saya ambil, yaitu nasi, gudeg, mangut lele, kerupuk dan es teh dihargai Rp 14.000,00 saja oleh si embah. Menurut saya cukup terjangkau, sebanding dengan rasa, suasana warung yang tradisional khas pawon ndeso dan juga keramahan dari Mbah Marto yang selalu setia melayani pelanggannya dengan setulus hati.


Nah, penasaran dengan kenikmatan mangut lele langsung dari pawon ini? Silahkan saja blusukan ke warung mbah Marto Nggeneng yang terletak di belakang kampus ISI Jogja ini :)

Wednesday, May 16, 2012

Wedang Uwuh - Wedang "Sampah" Khas Imogiri


Jalan-jalan ke wilayah Imogiri tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi salah satu minumah khas yang bernama wedang uwuh. Di dalam bahasa Jawa, wedang berarti minuman hangat, dan uwuh berarti sampah. Nah, banyak orang yang menyebut wedang uwuh ini sebagai wedang sampah karena wedang ini terdiri dari bahan-bahan dedaunan sehingga tampilannya sekilas mirip seperti sampah ketika dicampur di dalam gelas.


Tidak sulit untuk menemukan warung yang menjual wedang uwuh ini di sekitar Pemakaman Imogiri. Icip-icip wedang uwuh ini saya dan teman mencoba di salah satu warung yang letaknya tak jauh dari pasar. Jika dilihat dari warnanya, wedang uwuh ini memiliki warna kemerah-merahan dengan aroma herbal yang khas. 


Bahan-bahan campuran wedang uwuh ini antara lain adalah jahe, serutan kayu secang, kayu manis, cengkih, daun pala, batang sereh, dan diberi gula batu. Nah, bahan serutan batang secang inilah yang memberikan efek warna kemerahan pada wedang uwuh ini. Aromanya khas, rasanya perpaduan dari manis, pedas yang berasal dari jahe dan bahan rempah lainnya serta memberikan efek hangat pada badan. Wedang uwuh ini memang cocok dinikmati ketika sore atau malam hari.


Satu gelas wedang uwuh ini dihargai Rp 3.000,00 saja. Bila masih belum cukup minum satu gelas wedang uwuh ini jangan khawatir, karena si penjual juga menyediakan termos yang berisi air panas untuk menyeduh kembali wedang uwuh Anda. Selain diminum di tempat, warung-warung ini juga menyediakan wedang uwuh di dalam kemasan yang dapat Anda seduh sendiri dan cocok untuk dijadikan untuk buah tangan khas dari daerah Imogiri, Bantul.

Saturday, May 12, 2012

Sowan ke Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri


Apa sih yang Anda pikirkan jika mendengar daerah Imogiri? Pasti yang terbersit pertama di dalam pikiran adalah sebuah kompleks makam raja-raja keturunan Mataram, baik raja dari Surakarta maupun Yogyakarta yang terletak di atas bukit atau sebuah area pemakaman yang memiliki ratusan buah anak tangga untuk menuju kompleksnya. Ya, berbekal rasa penasaran untuk merasakan bagaimana atmosfer kompleks pemakaman raja-raja Mataram tersebut saya dan teman segera bertolak menuju daerah selatan Yogyakarta ini. Oke tenang saja saya tidak akan membahas hal-hal yang mistis dipostingan ini, saya hanya ingin memberikan gambaran saja mengenai tempat ini yang menurut saya memiliki keindahan arsitektur tersendiri khas bangunan Jawa kuno. Kompleks pemakaman Imogiri memang lebih dikategorikan sebagai wisata spiritual.


Secara administratif, lokasi ini terletak di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Perjalanan dari Jogja menuju daerah Imogiri ini memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan motor. Ya, untuk memudahkan mobilitas Anda, saya sarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju Imogiri ini. Rute yang ditempuh adalah dari Kota Jogja ambil saja jalan menuju Terminal Giwangan yang melalui Jalan Pramuka, lalu lurus saja menyeberang ring road, susuri saja Jalan Imogiri Timur maka Anda akan tiba di area pemakaman Raja-Raja Mataram Imogiri ini. Tenang saja, jalan untuk ke lokasi sudah diaspal halus dan cukup datar tidak ada tanjakan berat.




Apa saja yang dapat kita temui di makam Raja-Raja Mataram di Imogiri ini? Hmmm sepanjang pengamatan saya ada beberapa hal yang cukup menarik yang saya temui di Imogiri ini, antara lain adalah :
  1. Banyaknya anak tangga yang harus kita lewati. Ya ini lah tantangan pertama yang harus kita takhlukkan sekaligus untuk menguji ketahanan fisik kita. Jumlah anak tangga yang harus kita lewati untuk dapat mencapai area pemakaman raja-raja ini sekitar kurang lebih 409 buah anak tangga. Pada awal perjalanan dari anak tangga pertama yang dekat dengan area parkir memang belum terasa sih, tapi setelah masuk di dalam gerbang maka Anda akan menemukan sebuah kejutan yaitu anak tangga yang menjulang tinggi menuju atas bukit. Hehehe....tapi tenang saja, pemandangan di kanan-kiri tangga cukup menyejukkan mata karena pepohonan di hutan yang masih terjaga keasriannya.
  2. Setelah memasuki sebuah gapura sebelum menaiki anak tangga pertama yang menuju ke area pemakaman, ada sebuah masjid dengan bangunan tua yang beratapkan limasan dan terdapat sebuah tugu jam yang bertuliskan PB X. Masjid tua nan sederhana ini masih digunakan untuk tempat beribadah masyarakat sekitar. Sebelum menaiki tangga terdapat kotak infaq untuk biaya pemeliharaan masjid tersebut.
  3. Sepanjang menaiki anak tangga tersebut jangan kaget jika di sebelah kanan dan kiri tangga terdapat beberapa nisan, karena perbukitan ini memang juga dijadikan sebagai area pemakaman oleh masyarakat sekitar, dikenal dengan nama Wanalaya, pasarean umum Pajimatan. Karena bukit ini cukup dikeramatkan, maka memang tidak diperbolehkan untuk berbuat yang tidak sopan, berburu, mengambil kayu dan merusak tanaman. Pantaslah jika perbukitan ini kondisinya masih asri dengan pepohonan yang masih sangat terjaga.
  4. Keunikan selanjutnya adalah keindahan bangunan kompleks pemakaman Imogiri ini sendiri, yaitu sebagian besar dari bangunannya terbuat dari konstruksi batu bata dan memberikan kesan bangunan Jawa kuno yang kental. Ya, keindahan ini akan kita temukan setelah kita meniti ratusan anak tangga tersebut dan sampailah kita di gerbang masuk kompleks pemakaman, yang terkenal dengan nama "gapura supit urang".
  5. Di dalam gerbang "gapura supit urang" ini terdapat dua buah pendopo bagi abdi dalem, yaitu pendopo untuk Kraton Surakarta yang terletak di sebelah kanan dan pendopo untuk Kraton Yogyakarta di sebelah kiri, pun demikian dengan kompleks makamnya, untuk makam Sultan Agung dan keturunan raja Mataram Islam ditempatkan di bagian tengah, makam raja-raja Yogyakarta dan keturunannya di tempatkan di sebelah kiri, dan makam raja-raja Surakarta dan keturunannya di tempatkan di sebelah kiri.
  6. Di kompleks pendopo ini juga terdapat empat buah gentong (alat penyimpan air dari tanah liat) yang merupakan persembahan dari kerajaan-kerajaan sahabat Sultan Agung. Air yang terdapat di gentong ini konon memiliki khasiat, bagi pengunjung yang menginginkannya dapat meminta air tersebut dengan memberi sumbangan seikhlasnya.



Bagi pengunjung yang hanya sekedar jalan-jalan menikmati suasana dan keindahan bangunan di pemakaman Imogiri ini dipersilahkan, tidak ada persyaratan khusus. Nah, bagi pengunjung yang ingin berziarah ke sini ada persyaratan khusus, antara lain bagi pria harus memakai pakaian berupa beskap berwarna hitam atau biru tua garis-garis tanpa memakai keris. Bagi perempuan diwajibakan untuk memakai kemben dan kain panjang. Tenang saja, abdi dalem di sini sudah menyediakan persewaan baju tersebut dengan biaya Rp 6.000,00 per-baju (data Mei 2012). Oh iya bagi peziarah juga tidak diperkenankan menggunakan perhiasan. Bagi Anda yang ingin berziarah ada waktu-waktu tertentu yang disediakan antara lain adalah :
  • Minggu (10.00 -13.00 WIB)
  • Senin (10.00 - 13.00 WIB)
  • Jumat (13.30 - 16.00 WIB)
  • tanggal 1 Syawal, 8 Syawal, dan 10 besar (10.30 - 13.00 WIB

Nah, saya akan membahas sedikit saja "keunikan" lain yang dimiliki oleh pemakaman raja-raja di Imogiri ini. Selain dari air yang berasal dari gentong yang memiliki khasiat, ada juga hal unik lain seperti adanya daun tujuh macam yang memiliki khasiat bagi suami-istri yang sudah menikah lama tapi belum mendapat momongan. Ada juga cincin kayu, yaitu cincin yang berasal dari kayu dahulu merupakan tongkat milik Sultan Agung yang ditanam dan menjadi pohon. Bagi Anda yang menginginkan cincin kayu ini harus diuji dahulu, yaitu dengan cara kayu tersebut ditaruh ke dalam air, jika tenggelam maka kayu tersebut boleh dibawa pulang oleh pengunjung. Konon kayu ini memiliki khasiat bagi pemiliknya.



Terlepas dari cerita-cerita tersebut memang Jogja merupakan salah satu daerah yang memiliki kearifan lokal dan budaya Jawa yang cukup kental, bahkan cerita-cerita klenik masih dijunjung tinggi oleh masyarakat. Saya sendiri juga belum sempat untuk berziarah masuk ke dalam kompleks makam. Kunjungan saya kali ini memang hanya mengeksplor hingga bagian gerbang supit urang saja. Banyak sekali keunikan-keunikan yang saya dapatkan di kompleks makam Imogiri ini, selain juga menguji ketahanan fisik untuk menaiki dan menuruni ratusan anak tangga.


Bagi Anda yang ingin menguji fisik sekaligus belajar mengenai sejarah Mataram, monggo tempat ini dapat dijadikan sebagai rujukan agenda kunjungan Anda selanjutnya :)

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com