Showing posts with label Probolinggo. Show all posts
Showing posts with label Probolinggo. Show all posts

Tuesday, April 8, 2014

Potret dari Gili Ketapang

Hanya sekedar foto asal, asal jepret, asal ambil !

Suatu sore di salah satu sudut Pulau Gili Ketapang. 


Di antara sampah-sampah berserakan di tepi pantai, saya melihat seorang perempuan setengah baya mengenakan baju kutang dengan bawahan jarik menggendong sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Entah apa yang sedang beliau cari di antara sampah-sampah yang berceceran di pinggir pantai tersebut. Kulitnya nampak legam disengat sinar matahari yang terasa lebih terik di pulau ini. Sesekali dia memungut sesuatu untuk dimasukkan ke dalam keranjang bambu miliknya. Tatapannya nampak kosong ketika memandangi hamparan air laut di depannya, terkadang juga memandang aneh ke arah kami, segerombol orang asing yang sedang berkunjung di pulau tempat beliau tinggal. Entah apa yang beliau pikirkan, usai beristirahat pun beliau kembali memungut beberapa barang yang kembali dimasukkan ke dalam keranjang bambu tersebut.

Tuesday, April 1, 2014

Menyegarkan Pikiran di Ranu Segaran

Usia menikmati keheningan di Ranu Agung, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Ranu Segaran. Jarak antara Ranu Agung dan Ranu Segaran relatif cukup dekat, memakan waktu sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Ranu Segaran mungkin lebih populer dijadikan sebagai obyek wisata dibandingkan dengan Ranu Agung. Pengunjung di Ranu Segaran lebih ramai dibandingkan dengan pengunjung di Ranu Agung. Mungkin kemudahan akses jalan menuju Ranu Segaran serta fasilitas yang disediakan menjadikan obyek wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan.


Ranu Segaran memiliki fasilitas wisata yang cukup memadai dibandingkan dengan Ranu Agung. Di tempat ini sudah terdapat sebuah warung makan, fasilitas mushola, kamar mandi umum, bahkan sudah terdapat permainan air seperti perahu motor dan sepeda air berbentuk bebek. Di sekitar Ranu Segaran ini juga terdapat pemandian air panas alami yang berada di dekat aliran air sungai. Saya sendiri tidak menyambangi tempat tersebut karena rasa lelah dan cuaca gerimis serta kabut yang datang menyambut.

Friday, March 28, 2014

Keheningan Ranu Agung di Probolinggo

Truk TNI pun kembali melaju melintasi jalanan beraspal di Kota Probolinggo. Kali ini perjalanan Tour De Probolinggo dilanjutkan menuju beberapa desa yang ada di kawasan Pegunungan Argopuro. Saya tak ingat betul rute mana saja yang kami lewati. Hanya beberapa tempat yang saya ingat. Rute yang kami tempuh melewati sebuah pabrik gula kemudian menuju ke arah Kali Bokong, searah dengan Songa Rafting sebagai operator wisata arum jeram di Sungai Pekalen. Jalur yang kami lewati cukup berkelok, naik turun, aspal jalan yang mulai banyak berlubang, diselingi dengan jurang dan perbukitan di sisi kiri dan kanan jalan. Kabut pun sesekali datang menyambut diselingi udara dingin yang seolah saling bersahut.


Suasana perjalanan terkadang memang sedikit mendebarkan, terlebih ketika kendaraan kami harus berpapasan dengan kendaraan lain. Lebar jalan yang tak seberapa, apalagi ada jurang di sisi kanan dan kiri jalan, serta beberapa ruas jalan yang terkikis terkena longsoran. Tujuan kami adalah untuk berkeliling di Desa Tiris, sebuah desa yang berada di kaki Pegunungan Argopuro. Kami akan mengunjungi Ranu Agung, sebuah danau vulkanik yang ada di kawasan lereng perbukitan.

Thursday, March 20, 2014

Pulau Gili Ketapang - Miniatur Madura di Utara Probolinggo

Tak ada jembatan penghubung antar pulau yang kokoh, pun demikian dengan kapal-kapal besar yang mengangkut penumpang, barang bahkan kendaraan untuk menyeberang. Hanya ada perahu motor sebagai sarana transportasi yang mengantarkan penumpang dan barang menuju ke pulau seberang. Suasana Pelabuhan Tanjung Tembaga pagi itu masih cukup lengang. Hanya terlihat beberapa kapal nelayan yang bersandar dan bongkar muatan.


Di hari ketiga ini, panitia Tour De Probolinggo mengajak para peserta menyeberang ke Pulau Gili Ketapang, sebuah pulau kecil dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Usai berkemas dan membereskan tenda, dengan penuh semangat kami berjalan kaki menuju pelabuhan untuk kemudian naik ke atas perahu dan bersiap untuk menyeberang. Cuaca pagi ini pun cukup bersahabat. Ombak laut cukup tenang, pun demikian dengan sinar matahari yang tidak terlalu terik membakar kulit.

Tuesday, March 18, 2014

Museum Probolinggo : Wahana Pengenalan Sejarah Kota Probolinggo

Malam pun semakin larut, namun acara penjelajahan museum di Kota Probolinggo pun belum berakhir. Kali ini para peserta diajak berkeliling ke sebuah gedung tua di kawasan Jalan Suroyo. Dari bagian depan nampak pesawat udara kuno, lokomotif tua, serta tank yang dipajang di halaman. Inilah Museum Probolinggo, salah satu wahana pengenalan sejarah Kota Probolinggo.


Museum Probolinggo merupakan salah satu wahana wisata yang cukup baru di Kota Probolinggo. Museum ini diresmikan pada tahun 2009 dengan menempati sebuah gedung tua yang dahulu bernama Gedung Panti Budaya. Dahulu bangunan ini merupakan sebuah gedung serba guna, kemudian dialihfungsikan sebagai museum sebagai wahana untuk memperkenalkan perkembangan sejarah Kota Probolinggo.

Sunday, March 16, 2014

Nite at The Museum : Museum Dr Moh Saleh Probolinggo

Bukan Tour De Probolinggo namanya jika tidak ada kejutan di dalam acaranya. Usai meletakkan barang-barang di tenda yang berada di dekat pelabuhan, kami semua diajak untuk berkeliling mengunjungi museum yang ada di Kota Probolinggo. Biasanya museum hanya buka dari pagi sampai sore, kali ini panitia mempersiapkan acara yang menarik, lain dari biasanya. Yap, night at the museum ! Apa? berkunjung ke museum di malam hari? Iya ! Kami semua diajak berkunjung ke museum di malam hari oleh panitia Tour De Probolinggo !


Nama Dr Moh Saleh mungkin saja kurang kita kenal di dalam sejarah pahlawan nasional Indonesia. Nama beliau memang kurang banyak dibahas di pelajaran sejarah selama saya duduk di bangku sekolah dulu. Merujuk dari beberapa artikel yang saya baca di internet, beliau merupakan lulusan STOVIA, sekolah kedokteran di jaman penjajahan Belanda. Beliau juga seangkatan dengan Dr Sutomo, salah satu tokoh pendiri organisasi Budi Utomo.

Friday, March 14, 2014

Kecantikan Gereja Merah Probolinggo

Senja pun berjalan perlahan menuju peraduan. Hari pun hampir gelap ketika truk yang kami tumpangi berhenti di kawasan Jalan Suroyo, tak jauh dari alun-alun Kota Probolinggo. Ada sebuah bangunan unik dengan warna yang cukup mencolok dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Ternyata, kami semua diajak untuk masuk ke dalam sebuah gereja, yang dikenal dengan sebutan Gereja Merah. Segenap pengurus gereja dan ibu pendeta pun sudah menantikan kedatangan kami, menyambut dengan senyum ramah dan penuh suka cita.


Setelah sesi perkenalan diri, ibu pendeta pun menceritakan sejarah singkat mengenai Gereja Merah yang unik ini. Gereja Merah merupakan salah satu bangunan peninggalan jaman Kolonialisme Belanda yang hingga kini masih dapat kita nikmati keberadaannya. Gereja Merah dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda. Selain dari warnanya, keunikan bangunan Gereja Merah juga dapat dilihat dari struktur bangunannya. Struktur bangunan Gereja Merah ini terbuat dari baja, termasuk hingga ke dinding dan atapnya. Gereja ini konon dibangun dengan sistem knock down, di mana seluruh rangka baja bangunan dibuat di Belanda, kemudian dibongkar, lalu dibawa dengan kapal menuju ke Probolinggo untuk dipasang kembali. Hingga kini, bangunan yang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya tersebut tetap dipertahankan seperti bentuk aslinya. Hanya saja ada sedikit renovasi di bagian dalam bangunan, yaitu penambahan lapisan triplek yang diberi warna kuning untuk lapisan di bagian dinding. 

Batik Tenggeran Khas Probolinggo

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Kota Probolinggo, namun belum sempat untuk menjelajahi keunikan yang disajikan di kota yang terkenal dengan mangganya tersebut. Probolinggo bagi saya menjadi semacam kota transit, sebelum menuju Kawasan Bromo maupun melanjutkan perjalanan ke Kota Jember. Tapi siapa sangka, kota yang terletak di pesisir utara Jawa ini memiliki tempat wisata yang tak kalah menarik untuk dijelajahi.


Usai menikmati keindahan Air Terjun Madakaripura, seluruh peserta Tour De Probolinggo diajak untuk berkeliling kota sembari mengenalkan potensi wisatanya. Perjalanan menuju Kota Probolinggo pun tak kalah memberikan kesan. Dan lagi-lagi, truk TNI lah menjadi kendaraan yang mengantarkan para peserta keliling Kota Probolinggo. Saya ingat ada kejadian lucu ketika truk yang kami tumpangi memasuki Kota Probolinggo. Ada sebuah mobil yang berhenti tepat di belakang truk kami ketika di lampu merah. Seketika seluruh penumpang di dalam mobil tersebut memandang kami semua dengan ekspresi terheran-heran. Tak hanya penumpang yang ada di dalam mobil tersebut saja, hampir semua masyarakat yang berpapasan dengan truk kami memandang seluruh isi penumpang dengan ekspresi terheran-heran. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan. 

Thursday, March 13, 2014

Air Terjun Madakaripura - Keindahan Persemedian Maha Patih Gadjah Mada dan Ironi Masyarakatnya

Jalan yang berkelok dengan kontur yang naik turun memaksa kami semua untuk sering membenarkan posisi duduk di atas truk TNI yang berguncang-guncang selama perjalanan. Belum lagi rasa kurang nyaman karena kursi kayu yang saling berhadapan, sekilas mirip seperti tatanan kursi di dalam kereta komuter. Begitulah sedikit gambaran perjalanan para peserta Tour De Probolinggo menuju Air Terjun Madakaripura. Kebersamaan di antara kesederhanaan. Namun, mungkin seperti itulah perjalanan menuju surga, penuh dengan jalan yang terjal dan berliku sebelum akhirnya kita bisa menikmati keindahan di balik perjuangan.


Saya melihat ada beberapa pos retribusi yang harus dilalui sebelum menuju pintu parkir Air Terjun Madakaripura ini. Mungkin karena banyaknya pos retribusi yang harus dilalui inilah menyebabkan banyak tulisan di blog yang menyebutkan bahwa banyak pungutan liar untuk menuju Air Terjun Madakaripura. Minimnya akses transportasi umum juga menjadi cerita lain yang membuat para wisatawan mengurungkan niat mereka untuk berkunjung ke Air Terjun Madakaripura usai puas menjelajahi Kawasan Bromo. Padahal air terjun ini memiliki potensi yang menarik sebagai wisata minat khusus.

Thursday, March 6, 2014

TDP Hari 2 : We Don't Get The Sunrise at Bromo !

Dinginnya udara pegunungan di kala fajar memang membuat betah bagi siapa saja untuk berlama-lama menikmati empuknya kasur berbalut dengan hangatnya selimut yang tebal. Namun, di kala fajar inilah geliat kehidupan di kawasan Bromo dimulai. Orang rela datang jauh-jauh ke Bromo untuk dibangunkan di kala fajar demi menikmati indahnya matahari terbit di ufuk timur sana. 


Dinginnya udara Bromo memang membuat siapa saja malas untuk beranjak dari peraduan. Udara pagi ini memang serasa kurang bersahabat. Angin bertiup cukup kencang, ditambah dengan kabut yang sesekali berdatangan. Sweater dan jaket yang saya kenakan pun seolah masih belum bisa menahan dinginnya udara yang menerpa ke seluruh badan. Tujuan kami pagi ini adalah ingin melihat sunrise di Bukit Punuk Sapi, yang berlokasi di sekitaran Lava View Lodge, tidak jauh dari penginapan kami di Bromo Permai. Untuk menuju ke sana kami pun harus berjalan kaki melewati jalan setapak. Perjalanan ini pun menempuh waktu kurang lebih 30 menit. Medan yang kami lalui pun tidak terlalu terjal, karena sepertinya jalan setapak tersebut sudah cukup sering dilalui oleh orang. 

Saturday, March 1, 2014

TDP Hari 1 : Bersih-Bersih Sampah di Kawasan Kaldera Pasir Bromo

Kawasan Wisata Bromo memang menjadi salah satu andalah sektor pariwisata di wilayah Probolinggo. Tak hanya terkenal di kancah nasional, keindahan matahari terbit dan pemandangan alam di Kawasan Bromo ini bahkan sudah mendunia sehingga banyak dikunjungi oleh turis manca negara. Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu pintu masuk utama menuju kawasan Wisata Bromo. Banyak wisatawan yang memilih masuk ke kawasan Bromo melalui Kabupaten Probolinggo karena akses jalan maupun kendaraan umum yang cukup memadai dari wilayah ini.


Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu kolaborasi warisan alam dan penyelamatan lingkungan, seluruh peserta Tour De Probolinggo tak hanya diajak untuk berjalan-jalan menikmati keindahan alam Kawasan Bromo Tengger Semeru, melainkan melakukan aksi nyata untuk penyelamatan lingkungan. Salah satu kegiatan tersebut adalah memungut sampah di kawasan lautan pasir hingga kawasan di sekitaran Pura Luhur Poten Bromo. Seluruh peserta berjalan kaki dari penginapan di kawasan Bromo Permai hingga menyusuri kawasan kaldera pasir. Mungkin banyak dari kita ketika menyusuri kawasan ini menggunakan kendaraan bermotor seperti jeep maupun sepeda motor tidak terlalu menyadari keberadaan sampah yang cukup banyak berserakan mengotori kawasan ini. Cukup miris juga, ternyata di kawasan ini banyak sampah bekas bungkus makanan yang dibuang begitu saja oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan karena ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab ini berdampak pada kotornya lingkungan yang seharusnya kita jaga bersama kebersihannya.

Thursday, February 20, 2014

Tour De Probolinggo – Wahana Pengenalan Potensi Wisata di Kawasan Probolinggo

Hujan gerimis menyambut kedatangan saya di Terminal Bayuangga Probolinggo malam itu. Sepi, begitulah suasana yang saya rasakan ketika tiba di terminal kedatangan. Setelah saya mengirim pesan kepada panitia, kemudian bergabunglah saya dengan para peserta yang sudah berkumpul di salah satu sudut terminal. Satu per satu pun kami pun saling berkenalan, menanyakan nama dan daerah asal. Di sinilah kami, para peserta dari beberapa kota di Indonesia berkumpul dalam acara Tour De Probolinggo, sebuah acara yang mengkolaborasikan antara kegiatan wawasan alam, penyelamatan lingkungan, dan membumikan kearifan. Bagi saya, acara ini merupakan salah satu wahana untuk memperkenalkan potensi wisata alam dan budaya yang dimiliki oleh Kawasan Probolinggo.


Tepat pukul 11 malam seluruh peserta sudah berkumpul di Terminal Bayuangga. Pada tengah malam ini peserta dijadwalkan menuju Gunung Bromo untuk melihat matahari terbit pada keesokan harinya. Namun sayang, kondisi alam berkata lain. Hujan turun dengan lebat di lereng sana sehingga mengharuskan kami untuk tetap tinggal di kota demi keselamatan para peserta. Tak ada kasur empuk, tak ada selimut hangat, kami semua menggelar matras dan menjadikan tas ransel kami sebagai bantal. Tapi dari sinilah suasana akrab dimulai, walaupun kami masih terasa kaku untuk saling berkenalan dan berbincang akrab. Kalau orang Jawa Timuran memberi istilah “cangkruk”, kata lain dari jagongan, kongkow, atau nongkrong bareng sambil membicarakan beberapa topik pembicaraan. Tak terasa kantuk pun mulai menyergap, kami semua tidur bersama ditemani dengan gigitan nyamuk-nyamuk terminal yang cukup ganas menghisap darah dari tubuh kami.

Saturday, July 6, 2013

Bromo, Lukisan Pagi dari Sang Hyang Widhi

Lembabnya udara pagi yang berkumpul menjadi embun, berpadu dengan syahdunya desiran suara angin gunung yang menggema. Aktivitas di Bromo memang bisa dikatakan sedikit tidak biasa. Kehidupan dimulai ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi, di mana setiap orang mulai terlelap dalam tidur nyenyaknya. Di saat itulah justru kehidupan di Bromo mulai menggeliat, di mana orang-orang bersiap keluar menembus dinginnya udara gunung demi mengejar terbitnya matahari dari ufuk timur.


Menjelang pukul tiga pagi suasana homestay yang saya tinggali pun terdengar cukup riuh. Suara bapak-bapak mengetok-ngetok pintu kamar dibarengi seruan dengan suara yang cukup nyaring mencoba membangunkan setiap tamu yang sedang menikmati peraduan. Suara panggilan tersebut tidak saya hiraukan, walau sempat mengganggu ketenangan istirahat saya. Sengaja memang, kedatangan saya ke Bromo kali ini khusus untuk menikmati acara jazz gunung, bukan untuk memburu sunrise di penanjakan.

Wednesday, July 3, 2013

Merdunya Gunung ala Jazz Gunung 2013

Tak hanya keindahan alamnya saja yang mempesona, Bromo pun memiliki event musik tahunan yang menyajikan nuansa lain dari sebuah pagelaran musik.

Panggung musik terbuka dengan hiasan rentetan bambu sebagai latar belakangnya, dipadu dengan pemandangan perbukitan khas daerah pegunungan menyambut kedatangan para penonton yang ingin menikmati alunan musik jazz sore itu. Sinar matahari pun perlahan sirna diterjang kabut yang sesekali datang menyambut. Udara dingin yang menusuk kulit pun seolah tak menjadi penghalang bagi penikmat musik jazz untuk datang ke acara dengan suasana panggung terbuka. Semakin malam, kursi penonton di tribun pun semakin dipadati oleh para penikmat musik. Tua, muda, bahkan hingga anak-anak pun datang membaur demi menikmati alunan jazz bernuansa etnik yang dilantunkan oleh musisi ternama tanah air. 


Jazz Gunung, sebuah pagelaran musik jazz tahunan yang mengambil lokasi di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang keindahan perbukitan daerah pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bayangkan betapa dinginnya lokasi tersebut, namun alunan musik jazz seolah menghangatkan suasana panggung di Java Banana Bromo sore hingga malam itu. Jazz Gunung tahun ini diadakan selama dua hari berturut-turut, mulai dari tanggal 21 - 22 Juni 2013. Gelaran musik Jazz Gunung tahun ini sudah menginjak tahun kelima penyelenggaraannya.

Saturday, December 29, 2012

BROMO !

Tulisan ini murni adalah pengalaman penulis ketika mengunjungi Gunung Bromo, salah satu destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Berhubung banyak yang menanyakan bagaimana cara menuju Bromo, di mana tempat menginapnya, bagaimana cara untuk berkeliling Bromo, bagaimana sewa jeep dan sebagainya, maka penulis akan kembali membuat ulasan mengenai perjalanan menuju Bromo !



Perjalanan menuju Gunung Bromo adalah pengalaman pertama saya solo traveling alias bepergian seorang diri tanpa teman yang mendampingi. Saya akan kembali me-review perjalanan saya menuju Bromo dengan starting point Yogyakarta.

Sunday, July 1, 2012

Petualangan di Bromo pun Berakhir di Pasir Berbisik


Tidak dipungkiri lagi spot Pasir Berbisik di kawasan Bromo memang memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang pernah singgah di sana. Keindahan pasir berbisik Bromo akan lebih terasa daya pikatnya jika kita berkunjung pada siang hari, ketika matahari sudah cukup terik dan angin-angin mulai menerbangkan partikel-partikel pasir. Romantis, sekaligus magis, ada daya tarik tersendiri sehingga bagi siapa pun akan berdecak kagum menikmati suasana di Pasir Berbisik Bromo.


Pada hari sebelumnya saya memang sudah mengunjungi spot Pasir Berbisik ini, tapi kali ini kunjungan saya ke spot yang sama seperti mengucapkan "kata pamitan" kepada Bromo karena hari ini adalah hari terakhir saya berada di sini. Badai pasir memang menjadi pemandangan yang lumrah di area ini, namun justru itulah yang menjadi daya tarik lokasi Pasir Berbisik. Hmmm, berat memang rasanya meninggalkan Bromo, rasanya ingin memperpanjang lama tinggal agar saya bisa mengeksplorasi keindahan di kawasan ini.


Motor pun kembali dinyalakan dan langsung menuju ke penginapan. Siang itu spot Pasir Berbisik maupun pendakian Bromo sudah tampak lengang, banyak wisatawan yang telah meninggalkan Bromo untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sesampainya di penginapan saya pun segera bergegas untuk mengemasi barang dan membersihkan diri. Untung saja di depan penginapan sudah tersedia sebuah bison, jadi saya bisa langsung melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Untuk perjalanan menggunakan bison dari sini tarif yang dipatok memang fix Rp 25.000,00 per-orang, jadi tak usah khawatir untuk tawar-menawar harga seperti pemberangkatan dari Probolinggo. Saya pun segera berpamitan kepada mas-mas tukang ojek yang mengantarkan saya tadi yang masih satu keluarga dengan si pemilik penginapan. 


Siang itu sepertinya Bromo memang berat meninggalkan saya kali ya, sepanjang perjalanan pulang kondisi cuaca tiba-tiba saja mendung dan turun kabut, berbeda dengan sewaktu saya tiba yang cuacanya cerah, hehehe. Ya, Bromo memang memberikan kenangan dan pengalaman yang manis bagi saya :)

Saturday, June 30, 2012

Trip To Bromo Day 3 : Tersihir Pesona Keindahan Danau Ranu Pane



Perjalanan saya kali ini berhenti di salah satu spot yang cukup terkenal di kaki Gunung Semeru, yaitu danau Ranu Pane, sebuah danau tidak terlalu luas namum memiliki pemandangan alam yang sangat indah di sekelilingnya. Danau Ranu Pane ini merupakan salah satu dari tiga danau yang terletak dii Taman Nasional Bromo - Tengger - Semeru. Secara administratif danau Ranu Pane ini terletak di Kabupaten Lumajang. Danau ini terletak di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan air laut. Lokasi Danau Ranu Pane ini biasanya dijadikan sebagai tempat beristirahat oleh para pendaki sebelum menuju ke Puncak Mahameru, yaitu puncak dari Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. 


Danau ini dikelilingi oleh deretan perbukitan yang berdiri kokoh. Terdapat pula beberapa bangunan rumah milik penduduk dan juga pura tempat beribadah yang berada di sekitar danau ini. Rata-rata penduduk di daerah ini memang menganut agama Hindu Tengger. Di antara deretan perbukitan tersebut terdapat perkebunan warga yang rata-rata ditamani berbagai macam sayur-mayur. Sepertinya warga di sini memang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan perkebunan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata dan menentramkan jiwa, suasana danau yang sangat tenang, udara yang bersih, seolah-olah membuat beban yang ada di pikiran lepas begitu saja ketika menginjakkan tempat ini, Ranu Pane.



Dari kejauhan kita dapat melihat puncak Gunung Semeru yang terlihat samar tertutup oleh deretan perbukitan. Namun sayang air danau Ranu Pane ini tidak terlalu jernih dan terjadi pencemaran yaitu adanya tanaman semacam bunga air yang sekilas terlihat seperti tanaman sejenis ganggang yang tumbuh subur hingga menutupi sebagian dari permukaan air danau ini. Jika dilihat sekilas danau ini jadi mirip seperti lapangan sepak bola karena tertutup tanaman ganggang tersebut. Tanaman ini juga mengancam kelangsungan ekosistem di dalam Danau Ranu Pane itu sendiri. Sampai sekarang pun penduduk sekitar bekerja sama dengan petugas berusaha untuk membersihkan tanaman bunga air yang menganggu pemandangan dan juga ekosistem Danau Ranu Pane ini.

Rasanya memang ingin berlama-lama menikmati keindahan Danau Ranu Pane ini. Sayang rasanya jika harus cepat-cepat meninggalkan pemandangan alam yang sangat indah yang tersaji di depan mata. Saya pun berjanji di dalam hati untuk suatu saat nanti datang kembali ke tempat ini, tempat yang membawa sebuah ketentraman jiwa. Hmmm...semoga saja saya bisa segera merealisasikannya.

Oh iya, biaya tambahan yang dikenakan untuk sampai ke Danau Ranu Pane ini adalah sebesar Rp 50.000,00 dengan menggunakan ojek. Mahal memang, tapi pengalaman dan kepuasan batin yang didapatkan memang tidak akan terhitung dengan nominal rupiah tadi. Ya, setidaknya itu pendapat saya sih, kalau lain kali ke sini lagi mungkin saya bisa menyiasati agar biaya yang saya keluarkan lebih hemat, hehehe.

Friday, June 29, 2012

Trip To Bromo Day 3 : Kemegahan Itu Bernama Semeru


Sepanjang perjalanan menuju danau yang dimaksudkan tadi memang mata saya terasa dimanjakan dengan pemandangan alam yang tersaji di depan mata saya. Deretan perbukitan terjal yang ditanami sayur-sayuran oleh penduduk, tanaman pinus di pinggir jalan, udara pegunungan yang masih sangat bersih belum tercemar polusi kendaraan bermotor, dan pemandangan yang tak kalah hebat adalah puncak Gunung Semeru yang terlihat jelas sepanjang perjalanan ini. Ya, gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut itu nampak begitu gagah menampakkan pesonanya. Tak heran banyak para pecinta alam yang mendambakan dapat mendaki ke puncak Gunung Semeru ini. 


Trip To Bromo Day 3 : Menikmati Padang Savana dan Bukit Teletubbies dari Atas Bukit


Puas menikmati spot Pendakian Gunung Bromo, perjalanan dilanjutkan menuju Padang Savana dan Bukit Teletubbies. Perjalanan kali ini memang mengulangi perjalanan yang saya lakukan di hari sebelumnya. Setelah  perjalanan yang cukup menguras adrenalin saya kembali karena si mas tukang ojek yang melakukan manuver-manuver di atas jalur pasir. Oh iya, sebelum langsung menuju spot padang savana, kami berhenti sejenak di tengah lautan pasir untuk mengambil gambar Gunung Batok, kebetulan jika masih pagi seperti ini pemandangan di sekitar lautan pasir masih bersih karena pasir yang masih lembab terkena kabut sehingga belum beterbangan diterpa oleh angin. Enaknya naik ojek memang lebih santai dan bisa berhenti di spot mana saja semau kita. 


Sesampainya di bukit savana saya hanya berhenti sebentar. Kebetulan ketika saya datang sudah ada rombongan muda-mudi dan seorang guide yang berasal dari masyarakat setempat sudah berada di padang savana. Hari sebelumnya saya memang sudah menjelajah tempat ini, jadi memang tidak se-excited kemarin. Saya pun berbincang-bincang dengan si mas tukang ojek dan si bapak-bapak pemandu rombongan muda-mudi itu. Dari obrolan tersebut si bapak memberitahu saya bahwa ada danau yang lumayan cantik di balik bukit. Selain danau, ada pula air terjun atau orang Jawa Timur menyebutnya dengan sebutan coban, namanya Coban Pelangi yang berada di jalur Bromo-Malang. Saya pun antusias mendengarkan cerita mereka dan merasakan penasaran akan keindahan tempat tersebut. Si mas tukang ojek tadi pun menawarkan diri untuk mengantarkan saya untuk menuju danau yang dimaksudkan, ya tentu saja ada tambahan biaya lagi dong untuk menuju ke sana.




Awalnya saya berpikir menimbang-nimbang tawaran tadi. Setelah sepakat dengan harga yang masih ada di kantong saya, si mas tukang ojek pun segera mengambil motornya. Kami pun berpamitan dengan bapak-bapak tadi untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menaiki bukit pun lumayan berat medannya, jalannya lumayan rusak parah, lebih parah daripada jalan menuju Penanjakan 1 belum lagi tanjakan-tanjakan yang cukup curam dengan kondisi jalan yang sempit. Sesampainya di atas bukit, si mas tukang ojek menghentikan laju kendaraannya. Hmmm... si mas nya bilang kalau bukit ini adalah salah satu spot favoritnya. Dari sini kita dapat melihat padang savana yang membentang luas serta kita dapat bebas berteriak sekencang yang kita mampu. Hahahaha tanpa malu-malu si mas nya langsung berteriak dengan lantang. Di spot ini saya memang manfaatkan untuk mengabadikan pemandangan kawasan Bromo dari sisi selatan. Deretan perbukitan yang nampak kokoh, terlihat gagah nan berwibawa, ya itulah gambaran dari deretan perbukitan Bromo di bagian selatan. Dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan padang savana dan bukit Teletubbies dengan sangat leluasa. Pemandangan padang savana dari atas nampak berwarna hijau kecokelatan karena bulan Juni sudah mulai musim kemarau sehingga beberapa tanaman tampak sudah mengering. Hmmm...rasanya ingin berlama-lama memandangi pemandangan deretan perbukitan ini. 

Wednesday, June 27, 2012

Trip To Bromo Day 3 : Pendakian Ke Puncak Gunung Bromo


Spot wajib yang dijelajahi di Bromo setelah spot Penanjakan 1 adalah lokasi pendakian Gunung Bromo. Ya, lokasi ini memang biasanya sudah menjadi satu paket dengan wisata Penanjakan. Gunung Bromo memiliki ketinggian sekitar 2.392 meter di atas permukaan laut. Untuk jalur pendakian ke Gunung Bromo sudah disediakan anak tangga untuk mempermudah pengunjung menuju puncak Gunung Bromo ini. Jumlah anak tangga yang harus kita daki untuk menuju puncak sekitar 250 buah anak tangga, entahlah saya tidak tahu berapa pastinya karena saya tidak menghitungnya :))


Untuk menuju ke anak tangga ini kita harus berjalan cukup jauh, sekitar 1 sampai dengan 2 kilometer dari parkiran Jeep, tetapi jika kita mengendarai motor tentu saja kita bisa parkir lebih dekat dengan lokasi anak tangga. Parkiran Jeep sudah disediakan sedemikian rupa, pengunjung yang tidak kuat berjalan kaki dapat memanfaatkan jasa porter kuda yang tersedia di lokasi. Untuk tarifnya sendiri dari parkiran Jeep menuju lokasi anak tangga pulang-pergi dibandrol dengan harga Rp 75.000,00 sampai dengan Rp 100.000,00, terhantung kelihaian Anda menawar. 


Awalnya sih saya mencoba untuk berjalan kaki, tapi belum sampai anak tangga nafas saya sudah ngos-ngosan tidak karuan. Saya kesulitan bernafas karena debu pasir vulkanik yang beterbangan ke sana kemari  yang berasal dari langkah kaki pengunjung, debu yang terkena angin, maupun langkah kaki kuda-kuda yang lewat cukup menyulitkan saya bernafas walaupun saya sudah tutup dengan masker. Saya pun menyerah di tengah perjalanan dan memutuskan untuk menyewa kuda, kebetulan memang ada satu bapak-bapak yang lumayan gigih membuntuti saja sejak dari parkiran motor dengan kuda putihnya. Setelah nego akhirnya si bapak memberikan harga sewa Rp 60.000,00 untuk pulang-pergi. Lumayan lah untuk menghela nafas, daripada nafas saya nanti sesak di tengah perjalanan karena debu vulkanik jahanam yang beterbangan itu. Oh iya bagi Anda yang berjalan kaki menuju anak tangga harap berhati-hati karena kotoran kuda yang berceceran sepanjang jalan, dianjurkan juga untuk membawa masker atau slayer untuk penutup hidung dari debu vulkanik yang beterbangan.


Ujian berikutnya setelah melewati area yang penuh dengan kotoran kuda dan debu vulkanik yang beterbangan adalah menaiki anak tangga. Anak tangga menuju puncak Bromo ini sudah dalam keadaan yang cukup rusak di beberapa sisi, belum lagi pasir vulkanik yang menutupi anak tangga menjadikan anak tangga tersebut cukup licin dilewati, sebaiknya Anda perlu berhati-hati untuk menaiki anak tangga ini. Setelah melewati 250 anak tangga ini, Anda akan tiba di puncak Gunung Bromo dan melihat sebuah cekungan kawah yang cukup lebar dan dalam. Kawah vulkanik tersebut masih aktif, memiliki diameter sekitar 600 sampai dengan 800 meter, sesekali memang tercium bau belerang namun tidak terlalu menyengat. Dan sekali lagi pendakian ke puncak Gunung Bromo ini sedikit membuat nafas saya tersengal karena debu vulkanik yang beterbangan di anak tangga. Tapi perjuangan itu terbayar dengan pemandangan cantik dari puncak Bromo.


Di puncak Bromo ini lumayan datar dan cukup sempit, kontur tanahnya sedikit labil karena terdiri dari pasir vulkanik, dan kurangnya pagar pembatas menjadikan Anda harus ekstra hati-hati, belum lagi jika pengunjung sedang ramai Anda harus rela berdesak-desakan. Selain menikmati kemegahan kawah Bromo, kita juga dapat melihat Gunung Batok yang terletak persis di sisi samping Gunung Bromo ini.  


Oh iya dari atas sini kita juga bisa melihat jelas sebuah pura umat Hindu Tengger yang terletak di antara Gunung Bromo dan Gunung Batok ini. Pura dan juga jalur pendakian ke Puncak Bromo ini biasanya akan ramai ketika perayaan Yadnya Kasada atau Kasodo yang diselenggarakan pada tanggal 14 atau 15 bulan Kasada (bulan kesepuluh) dalam penaggalan Jawa. Saya dengar informasi dari penduduk sekitar sih tahun ini perayaan Kasada akan jatuh pada bulan Agustus pada pertengahan bulan puasa mendatang. Bagi Anda yang berminat melihat perayaan Kasada, silahkan berkunjung ke Bromo pada bulan Agustus tahun ini.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com