Saturday, December 12, 2015

Menggapai Gunung Prau, Sekali Lagi !

Kata orang, ajaklah temanmu mendaki gunung, maka kamu akan mengetahui kepribadian asli mereka seperti apa. Tapi apa jadinya, jika kita mendaki gunung bersama orang-orang yang baru saja kita kenal dalam forum para pejalan?


Kumandang Adzan Ashar bergema dari pengeras suara masjid di perkampungan Dieng Kulon. Kami segera mempersiapkan diri melakukan pendakian sore ini karena rombongan teman-teman Komunitas Backpacker Indonesia chapter Cilegon, Bandung, Banyuwangi, Purwokerto, dan Jakarta sudah tiba. Ini adalah kali pertama saya bertatap muka langsung dengan mereka, walaupun sebelumnya kami sudah cukup intens berkomunikasi lewat group Whatsapp. Jadwal pendakian akhirnya kami ajukan menjadi sore hari mengingat anggota pendakian kali ini sebagian besar adalah pemula. Awalnya kami berencana memulai pendakian sekitar pukul delapan malam, sekalian menanti kedatangan anggota dari Semarang. Namun mengingat kondisi dan jumlah anggota dalam pendakian cukup banyak, akhirnya kami putuskan untuk mengajukan jadwal pendakian.

Thursday, November 26, 2015

[Adv] Intip-Intip Pilihan Paket Wisata dari Pikavia

Tren melakukan perjalanan rasanya semakin gencar menjangkiti semua kalangan beberapa tahun belakangan. Melakakukan sebuah perjalanan dianggap sebagai sebuah terapi energi dari segala kepenatan rutinitas harian. Menikmati keindahan alam, belajar kebudayaan dan adat istiadat setempat, serta merasakan kuliner lokal memberikan pengalaman tersendiri bagi mereka yang gemar melakukan perjalanan. Ada perjalanan yang dilakukan mandiri, namun ada kalanya kita memilih menggunakan jasa operator wisata karena kepraktisan yang ditawarkan. Pokoknya siap jalan, tanpa harus memikirkan urusan ini itu dalam perjalanan. Tapi, ada kalanya kita merasa khawatir dengan operator trip yang akan kita gunakan, apakah mereka bisa dipercaya, atau jangan-jangan mereka akan menipu kita dengan kedok paket wisata yang mereka tawarkan kepada kita?


Ada kabar gembira bagi para pelancong yang gemar melakukan perjalanan menggunakan jasa operator wisata. Adalah Pikavia, sebuah online travel fair pertama di Indonesia yang hadir mempertemukan operator wisata dengan para pelancong yang ingin melakukan perjalanan, Di situs Pikavia, kita dapat menemukan berbagai macam pilihan paket wisata yang ditawarkan oleh berbagai operator tour di seluruh Indonesia. Pikavia menjadi sebuah wadah bagi operator wisata untuk menawarkan paket wisata yang mereka sediakan bagi para pelancong, sehingga membuat pelancong leluasa untuk memilih pilihan paket wisata sesuai dengan bulan keberangkatan, budget, serta pilihan fasilitas yang mereka inginkan.

Tuesday, November 3, 2015

Menikmati Keindahan Telaga Warna dari Bukit Sidengkeng

Telaga Warna menjadi salah satu primadona bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Akses jalan yang mudah serta fasilitas pendukung wisata yng lengkap, menjadikan Telaga Warna hampir selalu ramai oleh kunjungan wisatawan. Namun, ada cara lain menikmati keindahan Telaga Warna ini, yaitu dengan mendaki Bukit Sidengkeng !


Arloji yang melingkar di tangan sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dengan sedikit rasa malas saya mulai berbenah meninggalkan kamar di Losmen Bu Djono yang saya tempati. Rasanya ini adalah bangun tersiang yang pernah saya lakukan ketika berkunjung di Dieng. Biasanya saya sudah mulai berbenah dari pukul tiga dini hari untuk memulai perjalanan menuju Bukit Sikunir guna berburu pemandangan matahari terbit. Namun, kali ini saya sengaja bangun lebih siang dari biasanya, karena saya hanya ingin berkunjung ke Bukit Sidengkeng di Wana Wisata Petak 9, selebihnya, saya ingin gunakan waktu untuk beristirahat mengumpulkan tenaga guna melakukan pendakian ke Gunung Prau sore nanti.

Suasana perkampungan di Dieng Wetan masih terasa sepi pagi. Cahaya matahari bersinar cukup cerah, namun udara masih saja terasa dingin menusuk tulang. Sebenarnya saya ingin menggunakan jasa ojek motor untuk menuju Petak Sembilan, namun sayang, tidak terlihat satu orang pun di pangkalan. Satu-satunya pilihan adalah dengan berjalan kaki, menembus udara dingin khas Dieng yang cukup membuat tubuh menggigil pagi ini. Sekitar lima menit berjalan, saya melihat rombangan pemuda sedang menghangatkan diri dengan tungku perapian khas Dieng. Ah, hal tersebut mengingatkan saya akan suasana KKN tiga tahun silam di dusun sebelah. Saya meneruskan langkah kaki, sambil sesekali menyapa petani yang sudah bersiap menggarap ladang milik mereka. Sesekali saya harus berdamai dengan aroma yang sedikit kurang sedap yang berasal dari tumpukan pupuk organik yang diletakkan di pinggir jalan. Baunya memang tidak terlalu seberapa pekat, namun sedikit memekakan indera penciuman saya. Suasana pagi ini benar-benar masih sepi dari hiruk-pikuk wisatawan, mungkin mereka masih terpusat di Desa Sembungan, menikmati pemandangan matahari terbit dari puncak Bukit Sikunir sana.

Monday, October 19, 2015

Menggapai Sunrise di Sikunir

Cahaya bulan purnama menjadi teman setia selama kami melakukan perjalanan menuju Desa Sembungan. Dinginnya udara menjelang fajar terasa menusuk tulang seolah tak kami perdulikan. Diiringi pekatnya kabut pagi yang menyambut kedatangan kami, membuat kami semakin semangat untuk  mengejar terbitnya sang mentari di atas bukit nanti.

Suara alarm yang berbunyi nyaring memecah keheningan di salah satu kamar kecil di Losmen Bu Djono. Saya, Ajeng, dan Bang Ari pun segera terbangun, beranjak dari hangatnya selimut yang menepis dinginnya udara Dieng di kala dini hari. Kami segera bergegas, menyiapkan diri untuk memulai pendakian ke Bukit Sikunir. Suasana di depan losmen ternyata cukup riuh oleh pengunjung yang bersiap menuju Desa Sembungan. Tampak beberapa mobil dan motor yang sudah bersiap menuju ke sana, seolah tak satupun orang ingin ketinggalan momen matahari terbit dari atas bukit pagi itu.


Bukit Sikunir merupakan sebuah bukit yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian sekitar 2.463 meter di atas permukaan laut. Dengan mobil pick up sayur yang kami sewa, petualangan menuju Bukit Sikunir pun dimulai. Saya dan Bang Ari duduk di bagian bak pick up, satu kawan lagi, Ajeng, duduk di bagian depan di samping pak sopir. Dinginnya udara Dieng membuai lembut ke sekujur tubuh. ditemani sinar rembulan pun tampak malu-malu mengiringi perjalanan kami menuju Desa Sembungan semakin membuat perjalanan ke Dieng kali ini terasa begitu berkesan. Dua puluh menit perjalanan akhirnya kami memasuki area Desa Sembungan. Jalan aspal yang mulai rusak menjadi teman setia sepanjang perjalanan menuju kemari. Guncangan dari jalan aspal yang sudah banyak berlubang seolah membangunkan kami dari kantuk dan rasa malas akibat udara dingin yang menusuk.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com