Sunday, April 3, 2016

Menyambut Pagi di Tanjung Papuma, Jember

Entah seperti memiliki alarm alami yang ada di dalam otak ini, setiap kali sedang melakukan perjalanan di luar kota, secara alami saya akan bangun pagi jauh sebelum adzan Subuh berkumandang dan mentari muncul dari peraduan. Iya, mungkin semesta sedang mendukung saya untuk menyambut pagi dan beranjak dari buaian mimpi.

Entah mengapa ketika saya sedang berada di luar kota, saya selalu bangun lebih awal dari waktu yang saya pasang pada alarm jam saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi, saya bangun 30 menit lebih awal dari alarm yang saya pasang tadi malam. Saya bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan diri menyambut pagi, kemudian menyibak gorden kamar dan melihat situasi di luar. Ah, masih sepi dan gelap. Saya bergegas membuka pintu dan melihat situasi di luar cottage. Kata mas penjaga kemarin, kalau menjelang Subuh seperti ini kami harus lebih berhati-hati, karena terkadang primata penghuni Papuma sedang "beraksi", hmmm berkeliaran di sekitar penginapan lebih tepatnya. Maklum saja, cottage yang dikelola di Pantai Papuma berlokasi di dekat hutan di mana primata-primata liar tersebut hidup bebas di sana.


Setelah situasi saya rasa kondusif, saya mengajak teman saya untuk bergegas menuju pantai guna menantikan terbitnya matahari pagi bersama. Sekitar pukul 04.30 kami pun keluar cottage dan berjalan kaki menuju ke pantai Papuma. Di luar dugaan saya, sudah terlihat beberapa orang berlalu-lalang menuju pantai untuk menantikan terbitnya mentari. Sebagian besar dari mereka adalah wisatawan yang tidak menyewa penginapan, melainkan tidur di dalam kendaraan yang mereka bawa. ada pula rombongan nelayan yang menanti kapal tiba setelah melaut semalaman. Suasana hening tiba-tiba berubah menjadi riuh. Pengunjung mulai berdatangan ke Pantai Papuma. Sorot lampu kendaraan mulai terlihat dari atas bukit. Kami berdua duduk di pasir pantai, menikmati semburat warna kemerahan di ufuk timur, sambil sesekali merasakan hembusan semilir angin pantai. Untunglah angin pantai di Papuma pagi itu tidak terlalu terasa kencang, jadi saya tidak terlalu khawatir jika masuk angin. Syahdu, rasanya saya sudah lama sekali tidak pernah bangun pagi untuk menanti terbitnya sang mentari.






Cahaya pagi pun semakin cerah, walaupun matahari belum menampakkan bentuknya secara utuh. Perahu-perahu nelayan yang semalam berlayar ke lautan pun satu-per satu mulai berlabuh ke daratan. Seperti biasa, kekompakan nelayan nampak terlihat. Mereka saling bahu-membahu tolong-menolong untuk mengangkat perahu hingga menuju daratan. "Satu, dua, tiga, angkat perahunya !", aba salah satu nelayan yang diikuti oleh nelayan lain yang mengangkat perahu tersebut. Ada satu keunikan yang saya amati dari perahu nelayan tersebut. Adalah perangkap yang terbuat dari sabut kelapa yang dirangkai pada jaring. Perangkap ini berfungsi untuk menjaring nener, yaitu sebutan untuk anak ikan bandeng. Nener-nener tersebut kemudian akan dipelihara di dalam tambak hingga mencapi ukuran konsumsi kemudian dipanen dan dijual ke pasaran.


Usai berbincang dengan para nelayan yang baru pulang mencari ikan, saya pun lanjut melangkahkan kaki ke sebuah bagunan vihara yang berada di tepi Pantai Papuma. Vihara tersebut terletak di dekat bukit, memberikan sedikit kesan tersembunyi. Bangunan vihara tersebut diberi pagar yang terkunci dan tidak semua orang dapat masuk ke kompleks bangunan ini. Saya pun hanya sekedar mengambil gambar dari luar pagar, kemudian pergi berlalu meninggalkan bangunan diiringi dengan bau hio yang dibakar namun tercium samar. Saya kembali ke pantai, kali ini matahari mulai terlihat malu-malu menampakkan wujudnya. Akhirnya apa yang kami nanti-nanti tiba. Kami mengambil beberapa gambar dan mengabadikan suasana saat matahari pagi perlahan-lahan menampakkan wujudnya. Akhirnya misi kami ke Papuma lengkap sudah, menantikan matahari terbenam di kala petang dan menyambut mentari pagi dari peraduan. Kami pun melanjutkan langkah menyusuri pantai, sambil sesekali menikmati hempasan ombak, kemudian pergi ke warung makan untuk menyantap sarapan. Terima kasih Papuma untuk kenangan indah yang kau berikan untuk kami dalam kunjungan kali ini.

10 comments:

  1. Foto-fotomu kayaknya klo lebih di-close up bagus Bro. Yang foto kedua dari atas itu (yang ada ibu-anak) itu karang gede di sisi kanan foto kayaknya fotogenik klo dari deket. Habis itu foto kedua dari bawah, latar belakang gunung/bukit yang berkabut itu kayaknya menarik klo lebih diekspos. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap masbro, nuhun yak buat masukannya :D

      Delete
  2. indah sekali ciptaaNya.... Maha besar Allah.... Dan ada vihara??? wah ajdi pingin ke sana. Aku suka pantai , aku suka lihat vihara

    ReplyDelete
  3. Sunrise yang cantik, ciptaan Tuhan memang indah :)

    ReplyDelete
  4. Dulu pas ke sini juga naksir sama sunrisenya. Tapi waktu itu kan tidur di gazebo deket pantai, sandal gunung saya hilang entah digondol siapa, tapi yang penting tetep hepi lihat sunrisenya Papuma meskipun sandal hilang :D

    Foto-fotonya apik mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. loh Qy, jangan2 aku dulu pernah baca blogmu pas mau ke Papuma pertama kali sekitaran tahun 2012, mungkin pas kita belum kenal. Aku waktu itu ragu mau nginep outdoor di Papuma gara2 baca pengalaman sendal gunungnya ilang :D

      hahaha

      aku ngincer Payangan sekarang, pengen explore sebelum ramai dikunjungi orang2 :)

      Delete
  5. Ada nomor telp yang bisa dihubungi untuk pesan cottage di Papuma?

    ReplyDelete
  6. Pertanyaan yang sama, ada nomor telp yang bisa dihubungi untuk pesan cottage di Papuma?

    ReplyDelete

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com