Showing posts with label Candi. Show all posts
Showing posts with label Candi. Show all posts

Wednesday, August 24, 2016

Main Sebentar Menikmati Kemegahan Candi Penataran

Ada keasyikan tersendiri ketika menjelajahi bongkahan-bongkahan batuan andesit yang tertata membentuk bangunan megah penuh nilai sejarah. Imajinasi saya seolah tergelitik, serasa diajak untuk kembali menyusuri dan menikmati suasana kejayaan kerajaan Hindu di bumi nusantara.



Dua puluh menit perjalanan menggunakan jasa ojek motor terasa berlalu begitu saja. Pemandangan hamparan persawahan dengan udara sejuk membuat perjalanan dari Kota Blitar menuju Candi Penataran pagi ini terasa menyenangkan. Tak terasa, saya pun tiba di kompleks Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Suasana tenang dan sejuk khas pedesaan di kawasan lereng Gunung Kelud ini cukup kental terasa ketika menapakkan kaki di daerah Penataran ini.

Friday, June 3, 2016

#KelasHeritage : Berkenalan Lebih Dekat Dengan Candi Borobudur

Siapa yang tak mengenal Candi Borobudur? Candi Budha terbesar di dunia ini sangat tersohor keberadaannya, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Kemegahan bangunan, keindahan relief dan arcanya, serta keluhuran nilai seni dan sejarahnya menjadikan Candi Borobudur ini ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO. Keberadaan Candi Borobudur juga tak lepas dengan kegiatan pariwisata. Bahkan, Candi Borobudur banyak dijadikan sebagai salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi ketika berwisata di Indonesia, khususnya bagi wisatawan yang sedang singgah di Kota Jogja dan sekitarnya. Secara administratif, Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun banyak orang yang salah kaprah mengira Candi Borobudur berada di wilayah Yogyakarta karena lokasinya yang tergolong dekat dengan Kota Gudeg ini. Saya sudah beberapa kali mengunjungi Borobudur. Sekedar bertamasya, mengambil gambar dengan kamera, dan juga melakukan penelitian sosial di kawasan wisata Candi Borobudur ini ketika duduk di bangku perkuliahan dulu.


Namun, semenjak saya mengikuti acara #KelasHeritage yang diadakan oleh Komunitas Yogyakarta Night At The Museum kemarin (29/5), saya mulai sadar dan mempelajari banyak hal tentang Candi Borobudur sendiri. Bahwasanya candi bukan hanya sekedar tempat monumental yang digunakan untuk tamasya atau berfoto semata, melainkan juga sebagai tempat ibadah pemeluk agama Budha dan yang paling penting sebagai generasi muda adalah kita harus belajar bagaimana menjaga dan melestarikan keberadaan candi ini sebagai sebuah warisan budaya untuk generasi anak cucu kita kelak.

Tuesday, October 21, 2014

Candi Abang - The Imaginative Temple

Di daerah Yogyakarta dan sekitaran Jawa Tengah banyak ditemukan bangunan-bangunan candi yang hingga kini masih bisa nikmati keberadaannya. Peradaban Hindu-Budha mulai dari Dinasti Sanjaya hingga Dinasti Syailendra tumbuh subur di kawasan ini, maka tak heran jika beberapa peninggalan mereka masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Hari Sabtu kemarin (18/10) saya diajak oleh kawan untuk jalan-jalan menuju kawasan Candi Abang. Bagi saya, candi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi-candi kecil lain yang pernah saya kunjungi sebelumnya.


Matahari pagi ini cukup terik, laju motor pun saya arahkan menuju kawasan Berbah yang tak jauh dari daerah Prambanan. Udara panas dan berdebu khas musim kemarau menyambut perjalanan kami pagi ini sepanjang menyusuri kawasan Berbah. Beberapa pepohonan nampak meranggas, namun terlihat kontras dengan tanaman palawija nampak cukup subur tumbuh di ladang-ladang yang dikelola oleh penduduk sekitar. Tibalah kami di sebuah bukit, dengan jalan aspal baru berkontur menanjak menuju sebuah perkampungan yang tak jauh dari lokasi di mana Candi Abang berada. Kami pun berhenti di salah satu rumah penduduk, kemudian meminta izin untuk menitipkan motor kami.

Monday, February 25, 2013

Candi Plaosan - Menikmati Sunrise yang Mengesankan

Saya selalu menikmati datangnya pagi, karena banyak hal menarik yang telah menanti untuk dinikmati !



Bangun di pagi buta ketika orang-orang masih memejamkan mata menikmati peraduan sebelum kembali dengan padatanya ritunitas keseharian. Langit pun masih nampak gelap, diselimuti lampu-lampu di sepanjang pemukiman yang tampak gemerlapan. Udara dingin yang menusuk badan serta heningnya suasana sang fajar tak menghalangi niat saya dan teman-teman untuk menuju Candi Plaosan yang terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta. Pukul 03.45 dini hari, saya bersama teman-teman pun berangkat menuju lokasi Candi Plaosan tersebut, berharap mendapatkan pemandangan matahari terbit seperti yang kami inginkan. Jalanan di Kota Jogja yang semula lengang, berubah cukup padat dengan lalu-lalang kendaraan ketika memasuki Jalan Solo, jalan utama yang menghubungkan Kota Jogja dengan Kota Solo.

Wednesday, February 20, 2013

Situs Arca Gupolo - Situs Arkeologi yang Tersembunyi di Dekat Candi Ijo

Melihat bongkahan batu yang terpahat sedemikian rupa hingga membentuk sebuah maha karya bernilai sejarah tinggi akan menimbulkan decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Di balik keeksotisannya, arca ini memiliki cerita pilu karena keberadaannya seolah dibiarkan begitu saja.



Sinar matahari pun tidak terasa begitu terik menyinari karena mendung yang menggelayuti awan hari siang hari ini. Saya mendaatkan mandat dari seorang teman yang penasaran akan keberadaan Candi Ijo, sebuah candi yang terletak di perbukitan paling tinggi di antara candi-candi lain yang tersebar di daerah Jogja. Selesai menjelajahi Candi Ijo, saya pun teringat akan keberadaan Arca Gupolo yang terletak tidak jauh dari kompleks candi ini. Saya pun bergegas mencari infomasi dari petugas yang berjaga di candi tentang keberadaan Arca Gupolo ini.

Saturday, December 15, 2012

Candi Badut - Perpaduan Gaya Arsitektural Candi Jawa Tengah dan Jawa Timur

Melihat bangunan yang terbuat dari batuan andesit tersebut, pikiran serasa melayang membayangkan kejayaan di masa kerajaan. Candi, sebuah bukti kejayaan sekaligus bukti tingginya peradaban seni arsitektural dari masa lampau dari sebuah kerajaan.



Menemukan bangunan candi di Malang merupakan sebuah kejutan. Saya sebelumnya memang belum mengetahui tentang keberadaan bangunan candi di kota ini. Kebetulan melintas di kawasan perumahan Bukit Tidar, saya melihat tulisan "menuju ke Candi Badut", kemudian saya meminta teman saya untuk mampir ke bangunan tersebut. Secara administratif, Candi Badut terletak di Dusun Badut, Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Untuk berkunjung ke candi ini cukup melapor saja kepada petugas jaga yang berjaga di post penjagaan. Bedanya masuk ke area candi di daerah Jogja/Jawa Tengah dengan candi di Malang ini adalah kita tidak perlu membayar iyuran sepeser pun. Berbeda dengan candi-candi di Jogja maupun di Jawa Tengah

Sunday, November 18, 2012

Candi Dwarawati - Candi Kecil yang Letaknya Menyendiri


Keberadaan Candi Dwarawati ini memang kurang begitu dikenal oleh wisatawan yang berkunjung di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Candi Dwarawati memang tidak seterkenal seperti Kompleks Candi Arjuna yang ramai oleh kunjungan wisatawan. Candi ini nyaris sepi dari kunjungan wisatawan karena lokasinya yang sedikit tersembunyi di antara kompleks perkampungan warga dan juga deretan perkebunan kentang. Saya sendiri pun baru mengetahui candi ini setelah diajak survei oleh teman saya yang merupakan mahasiswa jurusan Arkeologi. 


Menurut sejarah, Candi Dwarawati ini sebenarnya merupakan sebuah kompleks bangunan percandian seperti di Kompleks Candi Arjuna. Dahulu terdapat bangunan Candi Pandu, Candi Margasari, Candi Margasari dan juga Candi Dwarawati. Namun sayang, ketiga bangunan candi yang lain sudah tidak berbentuk lagi, tinggal tersisa bangunan Candi Dwarawati yang kemudian dipugar pada tahun 1980 untuk mengembalikan bentuk bangunannya yang berantakan ketika ditemukan. Candi Dwarawati merupakan kompleks candi yang berada di bagian timur Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di wilayah Bukir Perahu. Secara administratif, candi ini berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. 


Candi Dwarawati memiliki dimensi ukuran panjang 5 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 6 meter. Pada bagian dinding luar candi terdapat bangunan relung candi dengan bentuk melengkung dan meruncing pada bagian atasnya. Relung inilah sebagai tempat untuk meletakkan arca. Namun sayang, relung-relung tersebut yang seharusnya diisi dengan arca Ganesha, Agastya, dan Dewi Durga ternyata dalam keadaan kosong, entah dicuri atau malah diamankan di Museum Kailasa? Hal unik lainnya dari candi ini adalah kesan seolah-olah candi ini memiliki bangunan bertingkat karena kemiripan antara bangunan bagian atap candi dengan bagian tubuh candi. Selain itu pada bagian atap candi terdapat ukiran-ukiran cantik di sekitar relungnya. Satu hal lagi yang disayangkan, bagunan atap candi ini entah di mana, hilang tidak menyatu dengan bagian candi lainnya, atau mungkin ditumpuk di sekitar candi, karena terlihat beberapa batuan candi yang berserakan.



Sangat disayangkan memang jika benda-benda peninggalan bersejarah semacam ini hanya dibiarkan begitu saja tanpa mendapatkan perhatian untuk dilestarikan. Saya hanya membayangkan jika candi ini memiliki bentuk yang utuh alangkah indahnya bangunan ini. Di kompleks Candi Dwarawati ini tidak ada petugas yang berjaga. Pengunjung bisa bebas masuk ke dalam candi kapan saja. Ya, mungkin saja penduduk yang tinggal di sekitar kompleks candi inilah yang ikut serta menjaga dan merawat keberadaan bangunan Candi Dwarawati ini.

Lokasinya yang dikelilingi oleh perbukitan dan hamparan perkebunan kentang, menjadikan kompleks Candi Dwarawati ini memiliki udara yang cukup sejuk. Sayang, sore itu udara mendung dan kabut mulai turun, jadilah kami kurang mendapatkan pemandangan alam yang mengelilingi Candi Dwarawati ini. Ya, dan lagi-lagi kekurangan informasi mengenai keberadaan candi ini menjadikan pengunjung kurang mendapatkan edukasi yang memadai mengenai sejarah Candi Dwarawati ini. Semoga pihak yang terkait segera menambah fasilitas seperti papan pengumuman yang berisi mengenai cerita singkat sejarah berdirinya candi, kapan ditemukan hingga tahapan pemugaran. Adanya fasilitas tambahan informasi semacam itu akan membuat pengunjung mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai sejarah peninggalan bangsa dari masa lalu. 

Sunday, September 23, 2012

Candi Bima - Candi Unik Akulturasi Budaya India

Menapaki kawasan pelataran Candi Bima ini serasa dibawa ke sebuah dimensi lain. Bentuk bangunannya yang unik memberikan nuansa seolah-olah kita sedang berada di negeri antah berantah.


Menapaki jejak-jejak warisan arkeologi di kawasan dataran Tinggi Dieng seolah tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Mulai dari Kompleks Candi Arjuna yang ramai dikunjungi, Candi Setiaki yang masih terus direstorasi, Candi Gatotkaca dan juga Museum Kailasa yang menyimpan koleksi arca. Candi Bima berdiri kokoh di persimpangan jalan menuju pintu masuk Kawah Sikidang. Setelah menaiki beberapa anak tangga, kita akan disambut dengan bangunan candi yang gagah berdiri dikelilingi oleh bunga-bunga Hortensia yang bermekaran di taman. Jika dilihat dari bangunan fisiknya, Candi Bima merupakan candi terbesar di antara candi-candi yang berada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng ini dengan ukuran 6x6 meter dengan ketinggian 8 meter.


Candi Bima memiliki keunikan dari segi bentuk bangunannya yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk candi yang tersebar di wilayah Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Kaki Candi Bima memiliki denah bujur sangkar dengan setiap sisi terdapat penampil yang agak menonjol keluar sehingga seolah-olah memberikan kesan denah dasar Candi Bima ini berbentuk segi delapan. Keunikan lain dari bangunan candi ini adalah bagian atapnya yang berbentuk seperti sebuah mangkok yang ditangkupkan atau mirip dengan bentuk Shikara. Bagian atap candi ini terdiri dari lima buah tingkat, semakin ke atas bentuknya semakin mengecil. Pada masing-masing bidang tingkatan terdapat relung-relung yang berbentuk melengkung dengan hiasan relief kepala dewa di dalamnya. Hiasan relief motif seperti ini lebih dikenal dengan nama Arca Kudu, yang menjadi ciri khas bangunan candi di India.


Satu hal yang menjadi keprihatinan kita sebagai generasi penerus bangsa adalah masih maraknya pencurian benda-benda peninggalan bersejarah. Candi Bima tidak lepas dari tangan-tangan nakal dari oknum yang tidak bertangung jawab. Beberapa Arca Kudu yang menjadi penghias relung candi menjadi sasaran para pencuri. Informasi yang saya peroleh, dahulu Candi Bima memiliki Arca Kudu sebanyak 24 buah, namun kini yang tersisa hanya 13 buah. Petugas dari BP3 yang ditugaskan dikawasan Dataran Tinggi Dieng pun setiap malam disiagakan untuk berjaga di kompleks Candi Bima untuk menjaga keamanan candi.


Candi-candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini sekali lagi masih minim sekali mengenai informasi yang menjelaskan tentang keberadaan candi. Menurut saya selalu ada yang kurang jika kita berkunjung ke tempat yang bersejarah namun tidak terdapat papan informasi yang menjelaskan tentang tempat tersebut. Kita hanya bisa menikmati keindahan bangunan candi saja tanpa bisa mengenal lebih dalam mengenai keberadaan candi tersebut seperti sejarah pembangunannya, informasi mengenai kegiatan restorasi dan sebagainya. Semoga saja cepat atau lambat pihak-pihak yang berwenang segera memberikan tambahan fasilitas mengenai informasi bangunan candi tersebut.

Friday, September 21, 2012

Candi Gatotkaca - Candi yang Dekat dengan Museum Kailasa


Menikmati keindahan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng seperti Kompleks Candi Arjuna dan Candi Setiaki tidak lengkap rasanya jika tidak melanjutkan langkah kaki menuju Candi Gatotkaca. Candi ini terletak tidak jauh dari Museum Kailasa, museum yang menyimpan koleksi arca-arca. Jika Anda berjalan dari arah Kompleks Candi Arjuna, di sepanjang jalan setapak akan disambut dengan pohon cemara dan bunga sedap malam yang ditata sedemikian rupa sehingga sepanjang perjalanan terasa menyejukkan mata.



Candi Gatotkaca terletak di sebelah barat Telaga Balekambang dan berada di dekat Bukit Pangonan. Tak heran jika Candi Gatotkaca ini memiliki latar belakang panorama perbukitan dan telaga yang indah. Candi Gatotkaca merupakan candi bercorakkan agama Hindu. Ciri khas tersebut secara jelas dapat dilihat dari adanya bangunan yoni yang berada di dalam bangunan candi. Candi ini memiliki bentuk kotak persegi empat berukuran 4,5 x 4,5 meter. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh candi ini adalah adanya kala makara berbentuk wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah di salah satu  sisi bangunan candinya.



Di sekitar bangunan utama Candi Gatotkaca ini terdapat reruntuhan bebatuan yang terlihat berserakan. Entah, mungkin saja bebatuan tersebut adalah bangunan candi perwara yang sudah rusak dan belum sempat direstorasi kembali. Satu hal yang disayangkan di candi ini adalah belum adanya informasi yang jelas mengenai keberadaan bangunan candi ini, seperti sejarh kapan dibangun, ditemukan, dan dilakukan kegiatan restorasi bangunan candi. Andai saja fasilitas ini dilengkapi, tentu saja wisata candi ini semakin menambah nilai edukasi.

Thursday, September 20, 2012

Candi Setiaki - Candi yang Masih Terus Direstorasi


Dataran Tinggi Dieng menyimpan harta karun berupa bangunan candi nan eksotis selain pesona panorama alamnya yang dramatis. Satu lagi harta karun bangunan candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, yaitu Candi Setiaki. Kompleks Candi Setiaki ini berlokasi tidak jauh dengan Kompleks Candi Arjuna, hanya tinggal melangkahkan kaki beberapa meter saja kita akan sampai di kompleks candi. Candi bercorak agama Hindu ini terletak di tengah-tengah padang rumput yang diapit oleh kebun milik penduduk. Corak candi Hindu terlihat jelas dari bangunan yoni yang terletak di bagian dalam candi. Lokasinya yang terpisah dengan kompleks candi lain memberikan kesan seolah-olah candi ini menyendiri di antara rerumputan yang tumbuh alami.


Menurut informasi yang saya dengar, candi ini baru saja selesai dipugar oleh Balai Pelestarian Benda Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Namun, pemugaran candi ini belum rampung secara keseluruhan, masih ada bagian dari bangunan candi yang belum selesai dikerjakan. Hal yang paling kasat mata yang dapat kita lihat adalah bangunan candi ini masih belum memiliki atap, hanya bangunan pondasi dan badan candi saja yang selesai dipasang. Pemugaran bangunan candi ini terdiri dari bagian pondasi candi yang masih batuan asli, sedangkan pada bagian badan candi merupakan batuan baru yang ditatah dan diukir sedemikian rupa hingga menyeruapi bangunan aslinya. Batuan asli dari bangunan badan candi sudah mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan lagi. Di sekeliling bangunan candi memang terlihat beberapa batu yang teronggok begitu saja, diperkirakan batuan ini merupakan batu asli dari bangunan Candi Setiaki.



Di sekeliling Candi Setiaki ini konon masih terdapat bangunan candi lainnya, hanya saja kondisinya dalam keadaan yang mengenaskan. Sepanjang mata memandang hanya terlihat bangunan-bangunan yang menyerupai bagian dari pondasi candi saja. Bangunan pondasi candi tersebut sebagian besar sudah tertutup oleh rimbunnya rumput liar yang tumbuh subur di sekelilingnya. Saya membayangkan jika kompleks tersebut berdiri candi-candi yang kokoh dan terawat dengan baik alangkah indahnya dan kayanya negeri ini akan peninggalan benda-benda bersejarah kejayaan masa lampau.

Sunday, September 16, 2012

Kompleks Candi Arjuna - Candi Hindu Tertua di Indonesia


Kompleks Candi Arjuna tidak dipungkiri lagi merupakan salah satu daya tarik utama pariwisata yang ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Candi ini memiliki daya tarik tersendiri sehingga hampir tidak pernah sepi oleh pengunjung, apalagi ketika akhir pekan tiba. Kompleks Candi Arjuna merupakan candi peninggalan Hindu tertua di Indonesia, dibangun sekitar abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 atau sekitar tahun 809 Masehi. Penemuan kompleks Candi Arjuna ini berawal dari seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814 yang secara tidak sengaja melihat sekumpulan candi yang tergenang di dalam air rawa. Pada tahun 1856 kemudian dilakukan upaya pengeringan rawa untuk menyelamatkan bangunan candi. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menindaklanjuti upaya pengeringan rawa pada tahun 1864 setelah sempat terhenti beberapa tahun sebelumnya.



Kompleks Candi Arjuna memiliki beberapa bangunan candi. Pemberian nama-nama candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng berdasarkan nama tokoh dalam cerita pewayangan yang diadopsi dari Kitab Mahabarata. Di kompleks ini terdapat lima buah bangunan candi, dengan Candi Arjuna sebagai candi utama karena bangunan fisiknya yang terlihat lebih besar dibandingkan dengan bangunan candi lainnya. Candi ini berhadapan langsung dengan Candi Semar, candi unik dengan bentuk atap seperti bangunan limasan, bukan seperti atap candi yang lazim seperti candi Hindu lainnya yang berbentuk meruncing pada bagian atapnya. Candi lainnya adalah Candi Sembadra, Candi Puntadewa, dan Candi Srikandi yang berada sejajar dengan Candi Arjuna.


Bangunan candi di kompleks percandian Arjuna ini memiliki kondisi bangunan yang masih cukup baik, relief-relief pun masih nampak terawat. Di sekeliling bangunan candi terdapat taman-taman dengan pohon cemara, tanaman bunga, serta rumput yang tertata. Keberadaan taman ini memberikan suasana asri di antara kompleks candi yang terlihat cukup gersang. Tanah berumput di sekitar kompleks candi banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat terutama anak-anak untuk bermain bola. Ada juga penduduk yang memanfaatkan rerumputan sebagai tempat merebahkan badan untuk berjemur. Kebiasaan berjemur inilah yang menjadi ciri khas warga Dieng untuk menghangatkan badan dari serbuan dinginnya udara sekitar. Jika beruntung, Anda dapat bertemu dengan anak berambut gimbal di kompleks candi ini. Anak berambut gimbal memang menjadi ciri khas dari warga Dieng karena dianggap memiliki keistimewaan. Anda pun dapat mengajaknya foto bersama anak-anak berambut gimbal ini.



Kompleks Candi Arjuna hingga kini masih dimanfaatkan sebagai tempat beribadah umat Hindu. Menurut informasi bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Pulau Dewata untuk beribadah di sini. Selain itu juga kompleks percandian ini dijadikan sebagai wisata spiritual, khususnya bagi para bule yang ingin melakukan  meditasi. Kegiatan meditasi ini juga mrupakan hal favorit di kalangan bule yang saya temui mengunjungi Dataran Tinggi Dieng ini. Jadi jangan heran jika di dalam bangunan candi terkadang masih terlihat bekas sesaji maupun bekas dupa yang terbakar.


Ada sebuah mitos yang beredar jika Anda berada di kompleks candi ini pada tengah malam. Mitos yang saya dengan sih jika pikiran sedang kosong atau melamun, pandangan mata seolah-olah melihat kondisi sekitar kompleks candi serasa dikelilingi oleh sebuah telaga. Entah, mungkin juga masih ada hubungannya dengan kondisi masa lalu candi yang tergenang oleh air air rawa :) Saya pernah jalan-jalan tengah malam  di kompleks candi dengan beberapa teman dari Unpad yang sedang bertandang di Dieng serta ditemani dengan bapak-bapak penjaga Museum Kailasa. Malam itu tidak ada sesuatu yang janggal sih, kecuali hasil gambar di kamera yang ada penampakan seperti "asap". Si bapak penjaga museum hanya berkata,"sudah biasa kok mas kayak gini", dan kami semua hanya terdiam, hihihihi.

Menurut saya Kompleks Candi Arjuna ini masih minim mengenai informasi keberadaan candi, seperti sejarahnya, maupun cerita-cerita mengenai kegiatan pemugaran dan lainnya, seperti layaknya candi-candi di sekitar Jogja yang sudah mempunyai papan informasi mengenai keberadaan candi. Hal lainnya yang masih minim adalah masih kurangnya fasilitas tempat sampah sehingga ada pengunjung yang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan. Semoga saja ke depan fasilitas-fasilitas tersebut segera ditambah oleh dinas yang berwenang agar semakin menambah kenyamanan bagi pengunjung Kompleks Candi Arjuna.

Keterangan
lokasi : Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
jam buka : dari pagi sampai dengan sore
harga tiket Rp 10.000,00 untuk tiket terusan Kompleks Candi Arjuna dan Kawah Sikidang

Tuesday, March 13, 2012

Candi Lumbung - Candi Budha yang Berada di Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan


Berjalan-jalan di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan jangan hanya berhenti di kompleks percandian utama saja, di kompleks taman wisata candi ini masih ada beberapa candi-candi lain yang layak untuk Anda kunjungi. Selain untuk menambah pengetahuan, Anda pun bisa menambah koleksi foto tentang perjalanan candi-candi yang pernah Anda jelajahi. Penjelajahan saya kali ini lanjutkan untuk menyusuri bangunan Candi Lumbung yang masih di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan. Candi ini terletak tidak jauh dengan kompleks Candi Bubrah.


Candi Lumbung merupakan candi yang berlatarkan agama Budha. Menurut perkiraan, candi ini dibangun sekitar abad ke-9 pada masa pemerintahan Kerjaan Mataram Kuno. Jika dinalar pada masa tersebut sudah tercipta toleransi umat beragama antara penganut agama Hindu dan juga penganut agama Budha. Lihat saja di dalam satu kompleks, terdapat Candi Prambanan dengan latar belakang agama Hindu dan di sekitarnya terdapat kompleks Candi Sewu dan juga Candi Bubrah yang memiliki latar belakang agama Budha.


Kompleks Candi Lumbung sendiri terdiri dari satu buah bangunan candi utama di bagian tengah dan dikelilingi oleh 16 candi perwara atau candi pendamping di sekelilingnya. Candi utama dan candi perwara sampai kini masih dalam tahap pemugaran. Bangunan candi utama masih terlihat belum sempurna pemugarannya karena bagian atap candi masih belum ada. Candi perwara pun baru 4 bangunan candi saja yang hampir rampung proses pengerjaan pemugarannya, namun di bagian candi perwara ini masih terdapat beberapa kayu untuk menyangga bangunan. Sedangkan bangunan candi perwara yang lain masih dibiarkan dalam keadaan reruntuhan, hanya terlihat beberapa kontruksi stupa-stupa kecil khas bangunan candi yang berlatarkan agama Budha. Bagian candi utama terdapat relief-relief yang menggambarkan ornamen-ornamen seorang dewi yang cantik, dengan bangunan candi utama ini menghadap ke arah timur.


Nama lumbung sendiri dalam bahasa Jawa berarti tempat untuk menyimpan padi dan hasil bumi. Diperkirakan pemberian nama Candi Lumbung ini dikarenakan konon katanya bentuk candi ini mirip dengan bangunan lumbung untuk menyimpam padi hasil pertanian. Namun, saya kurang paham betul sih di mana letak kemiripannya dengan bangunan lumbung yang biasa ada pada bangunan rumah masyarakat Jawa.



Selain bangunan candi utama dan bangunan candi perwara, di kompleks Candi Lumbung ini juga terdapat beberapa arca yang diletakkan di sebelah barat candi utama. Sayang, beberapa arca tersebut kepalanya hilang dipenggal, ada pula arca yang masih utuh, namun saya mengira arca tersebut sepertinya hanya arca duplikat. Selain arca-arca yang diletakkan di bagian halaman, juga terdapat benda-benda yang mirip seperti stupa, bak pion-pion yang ditata dalam sebuah papan catur.


Hmmm, semoga saja proses pemugaran candi ini segera selesai sehingga kita dapat menikmati keindahan candi ini secara utuh. Memang benar sih menurut sebuah buku, ketika kita melihat bangunan yang secara fisik belum dalam keadaan yang utuh, imajinasi kita seolah-olah diajak untuk bermain membayangkan bagaimana bentuk bangunan tersebut secara utuh kelak, tanpa ada batasan bagaimana kita mengimajinasikan bangunan tersebut karena memang tidak ada aturan yang baku untuk kita mengembangkan sebuah imajinasi.


Bagi Anda yang sedang berkunjung ke Taman Wisata Candi Prambanan jangan hanya berkeliling di kompleks candi utama saja, sempatkan juga untuk menikmati bangunan candi lainnya seperti bangunan Candi SewuCandi Bubrah, maupun Candi Lumbung ini.

Monday, March 5, 2012

Candi Bubrah - Candi yang Rekonstruksi Bangunannya Benar-Benar "Bubrah"


Kata "bubrah" dalam bahasa Jawa sendiri secara garis besar memiliki arti benar-benar rusak dan tidak memiliki rupa atau bentuk lagi. Nah, di Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan masih beberapa candi diantaranya adalah Candi Bubrah ini. Dinamakan Candi Bubrah karena memang sejak pertama kali ditemukan kondisi candi ini dalam keadaan yang rusak parah atau orang Jawa menyebutnya "bubrah".


Candi Bubrah ini merupakan candi yang berlatarkan agama Budha, diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-9, satu periode pembangunannya dengan Candi Sewu. Letak Candi Bubrah memang tak jauh dengan lokasi Candi Sewu, yaitu terletak di sebelah selatan. Karena kondisinya yang rusak parah dan kurang mendapatkan perhatian dari pengelola, sangat jarang wisatawan bahkan hampir tidak ada wisatawan yang berminat untuk mengunjungi candi ini. Tak ayal lagi jika candi ini memang tidak memiliki daya tarik jika dibandingkan dengan candi-candi lain yang berada satu kompleks di Taman Wisata Candi Prambanan ini. Sangat sedikit informasi yang menceritakan tentang keberadaan Candi Bubrah ini karena mungkin tidak adanya prasasti yang menceritakan mengenai pembangunan Candi Bubrah ini.


Di sekitar kompleks Candi Bubrah ini terdapat batu-batu yang berserakan, entah mungkin batu tersebut merupakan bagian dari struktur candi atau tidak. Jika dilihat sekilas terdapat perbedaan warna batu yang ada di susunan bangunan candi dengan batu-batu yang berserakan tersebut. Jika struktur batu yang ada di bangunan kompleks Candi Bubrah ini rata-rata berwarna hitam gelap, sedangkan batu-batu yang berserakan memiliki warna yang cenderung lebih terang.

Tuesday, February 28, 2012

Candi Gana - Candi yang Sedang Dalam Tahap Pra-Pemugaran


Melanjutkan perjalanan mengeksplorasi candi-candi yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, kali ini perjalanan saya lanjutkan menyusuri Candi Gana, candi yang sedang dalam tahap pra-pemugaran yang terletak tidak jauh dari kompleks Candi Sewu tepatnya di sebelah timur kompleks dan Candi Gana ini berada di tengah-tengah pemukiman rumah warga. Secara administratif Candi Gana ini terletak di Dusun Bener, Kelurahan Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Perjalanan menuju lokasi akan lebih mudah jika Anda menggunakan kendaraan pribadi. Ancer-ancer jalannya adalah dari arah Jogja langsung saja menuju Jalan Raya Jogja-Solo arah menuju Prambanan, sampai di simpang tiga lampu merah, belok saja ke kiri (utara) menuju Candi Prambanan lurus terus ke utara arah ke Candi Sewu. Cari plakat tulisan praktik dokter (saya agak lupa dokter siapa), ada gang kecil belok saja ke kanan (arah timur), lurus saja sampai ketemu bangunan Sekolah Dasar (SD) lalu lurus sedikit, maka sampailah Anda di Candi Gana ini yang terletak di sebelah kiri jalan.


Jika Anda bingung, Anda dapat menggunakan alternatif jalan lain yaitu dari simpang tiga lampu merah Prambanan belok ke kiri (arah utara) lurus saja sampai menemukan simpang tiga Kokosan belok saja ke kanan (arah timur), pada simpang tiga aspal pertama belok saja ke kanan (arah selatan) lurus saja sampai memasuki Desa Bener, kompleks candi berada di sebelah kanan jika melewati jalur ini. Jika Anda masih bingung, gunakan saja GPS manual alias bertanya kepada penduduk sekitar :P




Dari beberapa literatur yang saya baca, candi ini dinamakan Candi Gana karena konon banyak ditemukan hiasan gana yang menggambarkan orang kerdil. Candi ini juga memiliki relief-relief yang unik seperti pola-pola melingkar, ada pula relief yang menggambarkan seorang putri yang dilingkari beberapa ekor ular, ada pula relief yang berbentuk seperti kaki binatang, entah itu kaki singa atau kaki anjing. Menurut pak satpam yang menjaga kompleks candi tersebut, beberapa relief kini sudah diselamatkan dan disimpan di BP3 yang lokasinya tidak jauh dari kompleks candi ini. Ketika saya berkunjung di sini, ada seorang petugas dari BP3 yang sedang mengamati candi ini dan menuturkan bahwa candi ini memang sedang dalam masa pra-pemugaran. Masih dilakukan beberapa penggalian untuk menemukan struktur batu yang masih tertimbun tanah dan juga sedang dilakukan pencocokan antara batu yang satu dengan batu yang lain.


Ada hal yang unik lagi yaitu candi ini konon berlatar belakang agama Hindhu, namun ada bangunan yang mirip dengan stupa yang biasa ada di candi yang berlatarkan agama Budha. Bangunan mirip stupa ini berada di bagian pojok bangunan candi. Cerita unik lainnya adalah konon sebelum candi ini diubah namanya menjadi Candi Gana, candi ini pernah dijuluki sebagai Candi Asu karena konon dahulu banyak anjing yang berada di candi ini sebelum dipugar sehingga alhasil petugas penjaga candi ini harus membersihkan kotoran anjing yang berserakan. Masyarakat di sekitar candi menjuluki tempat ini sebagai "kandang asu". Entah benar atau tidak sampai sekarang pun Candi Gana ini masih cukup populer dengan sebutan "Candi Asu".


Walaupun candi ini belum dalam keadaan utuh, tak ada salahnya jika sejenak Anda berkunjung ke candi ini. Anda bisa menggunakan imajinasi Anda untuk membayangkan bagaimana bentuk candi ini jika kelak sudah selesai dilakukan pemugaran :)

Wednesday, February 22, 2012

"Blusukan" Ke Candi Gebang


"Ambil buku atau peta, tunjuk satu tempat, kumpulkan informasi, kumpulkan kebernian, and you will be there to explore those place", begitulah kira-kira inti dari petikan percakapan Nadine Chandrawinata dan Duma Riris Silalahi di acaranya Hidden Paradise yang ditayangkan oleh Kompas TV, kata-kata itu selalu menginspirasi saya untuk tidak ragu menjelajahi setiap tempat yang saya anggap menarik, although I should alone to go that place. Yah, walau pengalaman menjelajah saya masih sedikit dan masih "bau kencur", but I promise one day I will exploring the beauty of Indonesia :)

Berbekal buku Situs-Situs Marjinal Jogja dan informasi yang saya dapat dari blognya Mas Wijna dan Mas Wijanarko saya kumpulkan beberapa informasi mengenai keberadaan candi yang tidak jauh dari Kota Jogja ini. Candi Gebang, yak mungkin bagi sebagian orang di Jogja lebih mengenal nama Candi Gebang sebagai nama sebuah perumahan dibandingkan dengan keberadaan bangunan candi itu sendiri. Berbekal informasi dari blog dan GPS konvensional alias nanya sana-nanya sini akhirnya saya dapat menemukan bangunan candi yang satu ini, dan memang benar sih setelah saya bertanya kepada beberapa orang dan sempat nyasar, sebagian besar dari mereka tidak mengetahui keberadaan candi ini, namun lebih familiar dengan keberadaan kompleks perumahannya -__-


Bagaimana cara untuk menuju Candi Gebang? Sebenarnya cukup mudah untuk menemukan keberadaan Candi Gebang ini, saya sarankan lebih baik Anda menggunakan kendaraan pribadi untuk dapat lebih mudah menuju lokasi. Secara administratif, Candi Gebang terletak di Desa Gebang, Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Cukup gampang-gapang susah mencari lokasi candi ini. Dari arah Gejayan ambil saja jalan ke utara sampai dengan ringroad, lalu belok ke timur arah menuju kampus UPN di daerah Condong Catur. Setelah JIH (Jogja International Hospital) agak pelankan saja laju kendaraan sampai Anda menemukan baliho besar bertuliskan "Perumahan Candi Indah" lalu belok saja ke kiri lurus ikuti jalan sampai menemukan sebuah jembatan. Dari jembatan tersebut belok saja ke arah kanan di gang pertama setelah jembatan, tak perlu khawatir karena ada papan petunjuk ke Candi Gebang. Dari gang setelah jembatan itu ada pertigaan kecil, jika ke kanan ke arah perumahan, ambillah jalan ke arah kiri melewati jalan setapak yang kiri kanannya adalah ladang penduduk, lurus ikuti jalan, belok ke kiri sedikit sampai bertemu kembali dengan jalan halus lalu belok ke kanan, lurus saja sampai mentok, lalu belok ke arah kanan melewati jalan yang terbuat dari pavin. Ikuti saja jalan pavin tersebut hingga tibalah Anda di Candi Gebang.

Parkirkan saja kendaraan Anda di dekat pos satpam yang menjaga Candi Gebang tersebut. Retribusi yang harus dibayarkan untuk memasuki candi ini sebesar Rp 2.000,00 per-orang. Menurut saya kompleks Candi Gebang ini lebih terawat dan rapi dibandingkan dengan kompleks candi-candi marjinal lainnya yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Ketika saya berkunjung ke sini, terdapat beberapa pekerja yang sedang membersihkan bangunan candi dari lumut, ada pula yang sedang membersihkan area taman dan memotong rumput. Di sudut-sudut taman juga disediakan bangku untuk duduk dan sejenak mengistirahatkan kaki sambil memandang candi.


Candi Gebang merupakan candi yang bercorakkan agama Hindu, hal ini dapat kita lihat dari arca-arca yang ada di candi tersebut. Ada arca Ganesha yang berbentuk seperti gajah, lalu ada pula arca Nandiswara, serta  yoni yang terletak di dalam relung candi. Bangunan candi ini kecil dan tidak memiliki tangga untuk masuk ke dalam relung candi. Hanya sayang ketika saya berkunjung, arca Nandiswara yang konon kepalanya hilang ini ditutupi dengan sebuah kaos dalam -_- saya tidak tahu apa maksudnya tersebut. Bangunan candi ini menghadap ke arah barat, jadi memang jadi kurang leluasa untuk mengambil gambar dari depan candi karena sedikit menyisakan ruang dan medannya yang menurun agak curam di bawah.


Masih belum banyak literatur yang membahas mengenai Candi Gebang ini, dari papan keterangan mengenai candi ini disebutkan bahwa Candi Gebang dibangun sekitar tahun 730 sampai dengan 800 masehi. Candi Gebang sendiri pertama kali ditemukan pada bulan November tahun 1936 oleh seorang penduduk yang mencangkul tanah untuk mencari batu yang tanpa sengaja menemukan arca Ganesha. Pada tahun 1937 sampai 1939 Candi Gebang dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala (Oudheid Dients) yang dipimpin oleh Dr. Van Ramondt pada masa pemerintahan kolonial Belanda.


Ada satu hal yang menarik yang terpampang di papan keterangan mengenai Candi Gebang ini, yaitu "Saat ini kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya untuk turut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini". 


Hmmm sebagai generasi penersus seharusnya kita harus mempertahan dan melestarikan peninggalan sejarah yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi ini, syukur-syukur jika kita mau untuk mempelajari kembali sejarah yang kita miliki di Indonesia ini.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com