Wednesday, June 20, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Terdampar di Yog Homestay


Ketika perjalanan menuju Bromo yang kembali terbersit di pikiran saya adalah mencari penginapan untuk tempat saya tinggal selama di Bromo. Di wilayah Bromo memang terdapat beberapa pilihan tempat untuk menginap, mulai dari hotel sampai dengan homestay. Selama perjalanan sebenarnya si sopir bison sudah menawarkan saya untuk menginap di beberapa tempat yang beliau rekomendasikan, namun saya masih pikir-pikir, jangan-jangan tempat menginap yang dia rekomendasikan sudah dibundling dengan harga calo. Saya pun masih menolaknya dengan halus, berharap dapat menemukan penginapan sendiri dengan harga yang lebih murah.



Berdasarkan informasi yang saya cari di internet, harga sewa hotel berkisar antara Rp 250.000,00 sampai sekian, sedangkan untuk sewa homestay berkisar antara Rp 80.000,00 sampai dengan Rp 100.000,00 per-kamar. Dari informasi di internet banyak yang merekomendasikan untuk menginap di Yoschi Hotel, namun ternyata jarak antara hotel dengan pintu masuk kawasan Bromo masih lumayan jauh jaraknya. Sampai saya tidak menyadari akhirnya si bison tiba di pemberhentian terakhir. Saya pun turun dari bison dan disambut oleh pemilik homestay yang berada di dekat pemberhentian terakhir si bison. Saya pun ditawari untuk menginap di homestay milik beliau. Saya tentu melihat-lihat dulu kondisi homestay-nya sebelum memutuskan untuk menginap di tempat tersebut.



Untuk homestay dengan kamar mandi luar alias joint bathroom dibandrol dengan harga Rp 100.000,00 per-kamar, sedangkan untuk kamar mandi dalam dibandrol dengan harga Rp 150.000,00. Untuk jam ceck out diberi toleransi hingga pukul 12.00 siang pada keesokan harinya. Daripada saya pusing-pusing keliling mencari penginapan saya pun langsung memutuskan untuk menyewa homestay  ini. Suasana homestay ini cukup bersih dan nyaman, mulai dari kamar, ruang tamu, hingga kamar mandinya pun cukup bersih. Terdapat sekitar 6 kamar tidur dengan kamar mandi luar dan juga 2 kamar tidur dengan kamar mandi dalam. Di dalam setiap kamar terdapat kasur, bantal, selimut, meja, dan juga cermin. Bagi saya sih homestay ini mirip dengan kamar kost, hehehe, kamarnya tidak terlalu luas tetapi cukup nyaman :)


Salah satu yang menjadi kejutan tinggal di homestay ini adalah jarak antara homestay dengan Gunung Batok dan juga gurun pasir Bromo yang sangat dekat. Tinggal berjalan kaki sebentar saja Anda dapat menikmati keindahan Gunung Batok dari atas bukit. Selain lokasinya yang cukup strategis yaitu dekat dengan pintu masuk menuju Gunung Bromo, lokasi homestay ini juga cukup dekat dengan warung makan maupun cafe-cafe milik hotel yang berada di sekitar homestay. Menurut saya homestay ini cukup recomended lah untuk dijadikan tempat beristirahat selama Anda di Bromo. Pemandangan Gunung Batok siang itu agak tertutup oleh badai pasir, walaupun begitu tapi pemandangan yang disajikan tetap saja terlihat sangat cantik dan menawan :)

Trip To Bromo Day 2 : Aku dan Balada Si "Bison"


Sesampainya di terminal Probolinggo hal yang terlintas di dalam pikiran saya adalah mencari kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju Bromo. Orang-orang setempat menyebut kendaraan yang satu ini dengan sebutan bison, bentuknya seperti minibus yang berisi sekitar 12 orang. Tidak sulit kok untuk menemukan keberadaan bison-bison ini. Anda cukup keluar dari terminal dan berjalan ke arah kiri. Di luar terminal bison-bison ini sudah menanti kehadiran Anda.

Bison adalah sebuatn kendaraan yang akan mengantarkan Anda dari Probolinggo menuju darah Bromo. Kendaraan ini semacam minibus Elf yang jadul, mampu memuat sekitar 12 orang. Di sinilah awal perjuangan menuju daerah Bromo dimulai, maksud saya adalah naik bison ini merupakan awal mula dari keberuntungan Anda. Jika Anda sedang beruntung bertemu dengan traveller-traveller lain yang menuju Bromo, maka si bison ini akan segera berangkat mengantarkan Anda, tapi jika Anda sedang apes dan sedang sepi traveller, maka bersabarlah untuk menunggu si bison ini berangkat. Bisa saja Anda menunggu satu, dua, bahkan tiga jam lebih untuk menunggu si bison ini berangkat, karena moto si sopir adalah tidak akan memberangkatkan si bison jika penumpangnya tidak penuh. Cara lain untuk menghemat waktu adalah dengan men-charter si bison ini sesuai dengan harga yang disepakati. Untuk tarif normal bison ini dari Probolinggo menuju Bromo adalah Rp 25.000,00 tapi jika Anda sedang apes dan harus men-charter si bison ini, Anda akan dikenakan biaya sekitar Rp 150.000,00 sampai dengan Rp 200.000,00 tergantung pintar-pintar Anda menawar dan nego dengan si sopir.


Sepertinya nasib naas sedang menghampiri saya. Pagi itu saya harus sabar menunggu sekitar 3,5 jam di dalam bison dengan keadaan seperti disauna karena panasnya. Beruntung si sopir sepertinya pengertian dan segera menyalakan mesin si bison dan berangkat menuju Bromo. Ada beberapa hal unik yang saya temui di dalam bison ini, mulai dari si sopir yang sepertinya orang Madura dengan logat bahasanya yang khas, hingga tragedi lagu "Baby"-nya Justin Beiber yang berubah menjadi lagu dangdut yang diputar di dalam bison selama perjalanan. Sungguh unik bison-bison di sini, dijamin full of music selama perjalanan, mulai dari musik-musik dugem, musik lokal, musik Indonesia, hingga musik dangdut lengkap diputar di dalam bison ini.


Keunikan lain yang saya temui ketika si sopir bertanya kepada saya tentang asal saya dan kemudian saya jawab dari Jogja, jawaban yang langsung terlintas oleh si sopir adalah tentang sepeda hias di alun-alun kidul dan juga warung angkringan dengan menu sego kucing, sate usus, sate telur puyuh, dan gorengan yang menurut beliau murah meriah itu. Saya menangkap bahwa image Jogja memang tidak jauh-jauh dari keberadaan warung angkringan dengan menu sego kucing yang berisi nasi sekepal, sambal, dan juga suwiran bandeng.


Oh iya, walaupun nada bicara si sopir ini lumayan keras dengan logat Maduranya yang khas, tapi si sopir sangat sopan kepada penumpang dan lumayan enak juga diajak bicara selama perjalanan, walau kadang cara nyetirnya agak menguras adrenalin terutama di daerah tanjakan maupun ketika bersimpangan dengan kendaraan lainnya. Jangan heran jika sepanjang perjalanan si sopir juga menaikkan penumpang yang berasal dari penduduk sekitar dengan beraneka macam barang bawaannya.

Perjalanan dari Probolinggo menuju Bromo memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan jalan berkelak-kelok khas pegunungan walaupun tidak terlalu ekstrim medannya. Sepanjang perjalanan menuju Bromo mata ini benar-benar dimanjakan dengan pemandangan serba hijau dan perbukitan khas pegunungan. Nasib naas di bison tadi benar-benar tergantikan dengan pemandangan alam yang sungguh sangat luar biasa dan juga kedatangan saya siang itu disambut dengan awan yang berwarna biru cerah...hmmmm betapa beruntungnya saya siang itu ketika tiba di daerah Bromo :)

Pembukaan Acara Pasar Kangen Jogja 2012

Maaf nyempilin postingan ini dulu ya sebelum lanjut lagi tentang kisah perjalanan ke Bromo kemarin :)


Yak hari ini (19/6) adalah pembukaan acara Pasar Kangen Jogja yang bertepatan dengan rangkaian dari acara Festival Kesenian Jogja yang rutin setiap tahun digelar. Apa itu Pasar Kangen Jogja? Pasar kangen Jogja adalah sebuah acara yang memadukan antara pagelaran kesenian daerah, kuliner-kuliner jadul, serta stand-stand yang menjual beberapa pernak-pernik unik bahkan antik. Pasar Kangen Jogja tahun ini digelar di halaman Taman Budaya Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan mulai tanggal 19 Juni 2012 sampai dengan 24 Juni 2012.



Pembukaan acara ini dimulai pada pukul 16.00 WIB dengan sambutan-sambutan dari pihak-pihak terkait. Setelah itu dilanjutkan dengan perform dari master kendang Jogja yaitu Sujud Kendang. Hmmm...ketika perform kendang ini saya kurang begitu memperhatikan karena saya diajak teman saya untuk mencicipi beberapa kuliner jadul yang mungkin saja sudah jarang ditemui. Setelah solo perform master kendang, acara dilanjutkan dengan penampilan dari kesenian lokal masyarakat Jogja, kali ini berasal dari Paguyuban Reog Rembun Budaya dari Kulon Progo. Yap, setiap hari akan ada penampilan pentas seni yang berbeda-beda yang berasal dari paguyuban-paguyuban seni yang ada di Yogyakarta.



Bagi Anda yang ingin merasakan nuansa jadul serta ingin berburu kuliner-kuliner jadul seperti buntel (semacam urap dari daun pepaya), jajan pasar, hawug-hawug, tiwul, sengkulun, lopis ketan, lopis legendar, wedang uwuh, cenil, dan sebagainya serta barang-barang kerajinan yang unik-unik. Event Pasar Kangen Jogja ini mulai buka pada pukul 10.00 sampai dengan pukul 22.00 malam


Untuk tahun ini, acara Pasar Kangen Jogja juga bertepatan dengan Pameran Seni Budaya Potensi Kampung dan Tonil yang diberi judul "Tarkam Tarman (Antar Kampung Antar Teman). Pameran ini menggelar potensi dari 7 kampung yang ada di Yogyakarta, yaitu kampung Gemblakan Bawah, Kadipaten Kulon, Kricak Kidul, Nyutran, Pasekan, Sonopakis Kidul, dan Terban.



Sesuai dengan temanya yaitu Pasar Kangen Jogja, acara ini memang menyuguhkan suasana jadul guna mengobati rasa kangen terhadap suasana pasar pada jaman dahulu. Bagi Anda yang ingin meraskan suasana pasar yang jadul, monggo silahkan mampir ke Pasar Kangen Jogja yang diselanggarakan di pelataran Taman Budaya Yogyakarta ini. 

Tuesday, June 19, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Dari Surabaya ke Probolinggo Naik Patas Akas Asri

sumber : www.google.co.id
Setelah beristirahat sejenak dan mencuci muka di kamar mandi, saya melanjutkan perjalanan untuk mencari bus tujuan Probolinggo. Sempat sedikit was-was juga sih di Terminal Purabaya ini karena saya sendirian dan tempat ini lumayan asing bagi saya. Saya hanya was-was dengan calo tiket yang mungkin saja berbuat nekat, hehehe. Dengan pembawaan tenang saya mencari petugas terminal untuk menanyakan rute bus tujuan Probolinggo. Setelah mendapatkan informasi yang cukup saya melenggang menuju terminal pemberangkatan bus antar kota. Syukurlah orang-orang di sini lumayan baik, mereka dengan sopan akan memberi tahu lokasi bus sesuai dengan kota yang akan kita tuju, tidak seperti bayangan saya yang akan dijadikan mangsa empuk oleh para calo -_-

Saya memilih menggunakan bus patas Akas Asri untuk perjalanan saya dari Surabaya menuju Probolinggo. Awalnya saya memang sedikit bingung karena tulisan jurusan di masing-masing bus tidak ada yang menunjukkan arah ke Probolinggo. Setelah saya sadari, ternyata untuk menuju Probolinggo, Anda harus menggunakan bus dengan rute Surabaya - Jember - Banyuwangi. Saya memilih bus patas karena alasan kenyamanan dan keamanan, karena bus patas dijamin tidak akan ada pengamen dan pedagang asongan yang masuk ke dalam bus.

Sekitar pukul 05.40 pagi bus pun berangkat dari terminal Surabaya menuju Probolinggo. Perjalanan dari Surabaya menuju Probolinggo memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan jika jalanan lancar. Tiket yang harus dibayarkan untuk rute Surabaya - Probolinggo ini adalah Rp 23.000,00 per-orang. Sepanjang 2 jam perjalanan tersebut saya mengamati corak perkotaan di Jawa Timur, terutama di sekitar Surabaya bahwa rata-rata kota-kota di sini mengandalkan sektor industri sebagai pola perekonomian. Rute yang ditempuh adalah Surabaya -  Pasuruhan - Probolinggo. Sekitar pukul 07.45 akhirnya saya tiba juga di terminal Probolinggo. Saya beristirahat sejenak dan bertanya kepada petugas kendaraan dengan rute Bromo. Oke, saya agak mengalami gegar budaya di kota ini karena bahasa yang digunakan sama sekali saya tidak mengerti. Dilihat dari logatnya sih, masyarakat di sini banyak yang berasal dari Madura dan menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa komunikasi sehari-hari mereka.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com