Friday, December 9, 2016

Ayam Betutu Men Tempeh Gilimanuk yang Melegenda

Matahari sudah pulang ke peraduan saat lapal feri yang saya tumpangi sedang antri untuk merapat di dermaga pelabuhan. Hari sudah menjelang petang ditemani rintik hujan gerimis yang turun dari awan. Saya dan beberapa kawan segera bergegas turun dari kapal sesaat setelah kapal berhasil merapat. Ditemani riuhnya rombongan siswa peserta study tour yang satu kapal, kami berjalan menyisiri lorong pejalan kaki yang terlihat masih sepi.


Saya sempat celingukan saat menginjakkan kaki di ruang kedatangan Pelabuhan Gilimanuk. Petang itu kegiatan penyeberangan agak sedikit lengang. Antrian kendaraan dan penumpang yang akan menggunakan jasa kapal penyeberangan tidak terlalu padat seperti biasa.

Jasa ojek yang biasa mangkal di area pelabuhan pun juga tak terlihat menawarkan jasa. Kami pun melanjutkan langkah kaki dan menemukan jasa ojek motor setelah melewati pos pengecekan KTP untuk masuk area Bali.

Setelah tawar menawar harga, akhirnya saya pun diantarkan jasa ojek motor ini menuju warung makan ayam betutu Men Tempeh, salah watu warung ayam betutu yang terkenal di wilayah Gilimanuk.

Sunday, November 13, 2016

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Banyuwangi 2016 - Sak Corot Dadi Seduluran !

Kesibukan menjelang perhelatan acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu nampak terlihat dari warga Desa Kemiren yang mulai beramai-ramai membersihkan bagian halaman depan rumah, menata meja dan kursi dengan rapi, memasang lampu hias untuk menambah semarak suasana di malam hari. Tak lupa musik khas Banyuwangian diperdengarkan melalui pengeras suara yang semakin menambah meriah suasana desa.


Suasana meriah begitu kental terasa di sepanjang jalan utama Desa Kemiren petang itu. Seluruh penduduk desa nampak sibuk membersihkan halaman depan rumah sambil menata meja dan kursi untuk menyambut tamu yang akan hadir dalam acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang rutin diselenggarakan setiap tahun di Desa Kemiren, desa adat masyarakat Using, suku asli Banyuwangi.

Hampir seluruh ruas jalan utama di Desa Kemiren sudah ditutup aksesnya untuk kendaraan bermotor sejak menjelang petang guna menyambut acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang akan digelar malam ini. Jalan desa sepanjang kurang lebih 1.5 kilometer ini akan steril dari kendaraan bermotor sehingga pengunjung dapat leluasa berjalan kaki sepanjang jalan desa untuk menikmati Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang memasuki tahun keempat penyelenggaraannya tahun ini.

Saturday, October 8, 2016

Sarapan Nasi Liwet Bu Sri di Pasar Gede Solo

Solo menjadi salah satu kota yang cukup ngangenin bagi saya. Selain ritme kehidupan dan nuansa kotanya, kuliner tradisionalnya yang khas juga menjadi alasan saya untuk selalu kembali menyambangi kota ini. 

Suasana pagi di Kota Solo pagi itu terasa begitu syahdu. Mendung tipis menggelayut di antara mega. Pagi itu saya janjian bertemu dengan kawan di kawasan Pasar Gede Solo, sekalian sarapan pagi dan mencari beberapa jajajan tradisional. Dari Hotel Loji, saya sengaja memilih menggunakan transportasi becak agar lebih bisa menikmati suasana pagi di Kota Solo ini. Jalanan di Solo pagi itu terasa cukup ramai dengan lalu-lalang kendaraan yang menuju ke tempat kerja. Beberapa pedagang sudah nampak sibuk membuka toko dan membenahi lapak dagangan mereka. Akhirnya, setelah sepuluh menit perjalanan saya pun tiba di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro.


Sesuai dengan instruksi kawan, saya pun menanti kedatangannya tepat di area pintu masuk pasar. Nampak para penjual dan pembeli sudah sibuk dengan kegiatan jual-beli. Oh, iya, saya ingat, di dekat pintu masuk pasar ini biasanya terdapat penjual pecel ndeso yang enak itu. Sayang, setelah saya berkeliling dan bertanya kepada tukang parkir, saya mendapatkan informasi jika beliau sedang tidak berjualan hari ini. "Duh mas, kalau pecel ndeso biasanya hanya jualan hari Sabtu dan Minggu, kalau hari biasa gini beliau tidak jualan", jelas bapak tukang parkir yang berjaga di sekitar pintu masuk pasar. Ketika saya sedang asyik mengamati lapak pedagang di dekat pintu masuk pasar, kawan saya pun datang menghampiri. "Yuk, cobain nasi liwet, rasanya gak kalah enak sama yang di Keprabon !" ajaknya pagi itu.

Saturday, September 24, 2016

Kampung Coklat Blitar - Nongkrong Asyik di Bawah Rindangnya Perkebunan Coklat

Tak hanya memiliki wisata sejarah dan wisata alam yang menarik untuk ditelusuri, Blitar juga memiliki wisata edukasi yang menarik untuk dikunjungi. Adalah Kampung Coklat, salah satu destinasi wisata yang kini sedang naik daun di Kabupaten Blitar. Konsep nongkrong cantik sambil menikmati hidangan cokelat langsung di area perkebunan menjadi daya tarik dari kampung wisata ini.

Plesiran ke Kampung Coklat Blitar menjadi salah satu agenda perjalanan saya mengunjungi Bumi Patria ini. Kampung Coklat digadang-gadang menjadi salah satu tempat wisata yang sedang hits di kabupaten ini. Ditemani seorang kawan yang berdomisili di Blitar, saya pun diajak menikmati keunikan dari Kampung Coklat ini. Kampung Coklat berlokasi di daerah Kademangan, sekitar dua puluh menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Blitar. 


Kesan pertama ketika tiba di kawasan Kampung Coklat adalah perasaan aneh. Bayangan saya tentang Kampung Coklat adalah suasana perkebunan di alam terbuka seperti suasana di agrowisata apel yang ada di Kota Batu sana. Tapi, Kampung Coklat memiliki keuinikan tersendiri dan terkesan agak nyeleneh menurut saya. Di bagian depan, kita akan disambut dengan baliho besar dan bangunan kios yang mirip seperti sebuah pertokoan. Dari samping "pertokoan" inilah langkah kita digiring memasuki lorong besar yang dijadikan sebagai gudang penyimpanan biji cokelat hasil panen perkebunan sekaligus tempat penjemuran biji-biji cokelat tersebut. Aroma cokelat yang khas pun langsung semerbak tercium oleh hidung ketika melewati lorong besar ini.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com