Thursday, May 26, 2016

Pantai Pancer - Menelisik Perkampungan Nelayan Lokal Pesisir Selatan Banyuwangi

Sebuah perjalanan memang butuh perencanaan. Namun, kadangkala hal-hal di luar rencana justru membuat perjalanan kita lebih menarik dan penuh cerita. Berawal dari iseng susur pantai, akhirnya menemukan sebuah perkampungan nelayan dengan kesibukan bongkar muat hasil tangkapan semalam.

Udara dingin menyapa kami di Pantai Pulau Merah pagi ini. Suasana masih sunyi senyap dari hiruk-pikuk manusia. Hanya terdengar suara ombak yang sesekali menghempas ke daratan dan beberapa anjing berlarian. Di sekitar pantai sudah terlihat satu dua warung yang masih buka dan melayani pengunjung yang memesan segelas kopi dan mie instan untuk menghalau udara dingin. Hingar bingar panggung hiburan semalam seolah sirna saat orang-orang kembali menikmati peraduan dan terlelap dalam tidurnya.


Syahdu, menikmati suasana pagi ditemani suara hempasan ombak yang menghujam daratan. Senyap, karena pagi itu suasana masih gelap. Tak ada orang yang berlalu-lalang karena masih terlelap. Duduk di atas pasir pantai sambil menikmati suasana pagi, ditemani kerlipan lampu perahu nelayan yang berada di seberang sana. Saya berbincang bersama seorang kawan, tentang pekerjaan, tentang kehidupan, dan tentang impian. Tiba-tiba obrolan random kami buyar di saat orang-orang datang ke pantai dan membuat keramaian. Mungkin mereka kegirangan, bangun pagi langsung disambut oleh hamparan pasir dan ombak pantai. Namun kegaduhan itu hanya berlangsung sebentar saat tiba-tiba turun hujan. Saya pun beranjak dan berteduh di salah satu payung besar yang masih terbuka, yang biasa disewakan bersama kursi malas di sana. Duduk terdiam sambil menerawang jauh ke tengah lautan, ah kenapa hujan tiba-tiba turun dengan deras pagi ini?

Pelangi yang Terlihat Samar
Setelah cukup lama duduk terdiam di bawah payung besar, akhirnya perlahan-lahan hujan pun reda. Matahari mulai kembali menampakkan wujudnya dan diam-diam pelangi pun datang menggantikan kepergian hujan. Saya mulai kegirangan, mencoba mengabadikan gambar lewat kamera. Namun apa daya, pandangan dari lensa mata serasa jauh lebih indah daripada bidikan kamera. Samar-samar terlihat perahu nelayan terombang-ambing oleh ombak di kejauhan sana. Terlihat pula bukit-bukit hijau yang seolah menjadi benteng pertahanan dari hempasan ombak laut selatan. Kami pun beranjak meninggalkan payung pantai yang melindungi kami dari air hujan tadi. Seolah ada sebuah panggilan yang mengajak kami untuk berjalan kaki menuju kerumunan perahu di seberang lautan sana. Iya, kami pun mulai berjalan kaki menyusuri pasir pantai menuju dusun seberang tempat perahu-perahu kecil itu terlihat terombang-ambing oleh ombak lautan.


Tak terasa kaki ini sudah jauh melangkah meninggalkan Pantai Pulau Merah. Pulau karang yang menjadi ikon Pantai Pulau Merah pun terlihat berbeda bentuknya dari sisi kami berjalan sekarang. Wujud Gunung Tumpang Pitu yang berada di sisi Pantai Pulau Merah terlihat jelas dari sisi kami berdiri sekarang. Gunung yang indah, yang menjadi benteng alami bagi warga sekitar dari ganasnya ombak laut selatan, Namun sayang, Gunung Tumpang Pitu ini keberadaannya makin terancam karena kegiatan penambangan emas di sana. Kami tidak berjalan sendirian, ada rombongan bapak-bapak yang berjalan mengikuti kami. Beliau-beliau ini juga wisatawan yang semalam menginap di Pantai Pulau Merah, yang mungkin juga penasaran dengan suasana di seberang sana. Lagi-lagi kami melihat semburat pelangi yang muncul di atas bukit dekat dusun seberang yang akan kami tuju. Indah nian warnanya dan kali ini kami berhasil membidiknya melalui lensa kamera. Sepanjang perjalanan susur pantai dari Pulau Merah menuju Pancer memang terlihat sepi tak berpenghuni. Hanya terlihat kawanan anjing yang lari-lari di sekitar pantai pada pagi hari. Pantainya pun masih terlihat alami dan jarang dijamah manusia. Kita masih dapat melihat umang-umang dan kepiting kecil bebas berlarian di pasir pantai ini. Ya, keberadaan hewan-hewan ini menjadi indikator jika pantai ini memang benar-benar masih sepi.

Tiba di Pantai Mustika
Kurang lebih tiga puluh menit berjalan kaki, kami pun menemukan sebuah perkampungan. Perkampungan tersebut nampak sepi dari hiruk-pikuk saat kami tiba. "Ini perkampungan beneran kan bukan halusinasi doang?", celetuk saya sambil bercanda. Dari kejauhan nampak pohon kelapa berderet rapi di tepian pantai. Suasananya senyap, seolah tak ada seorang pun di sana. Nampak beberapa perahu nelayan sedang bersandar di tepian, di dekat deretan pohon kelapa yang tumbuh rindang. Tak terasa langkah kaki kami membawa kami ke Pantai Mustika, salah satu pantai yang berada satu deretan dengan Pantai Pulau Merah. Pantai ini masih relatif sepi, tak seramai seperti Pantai Pulau Merah yang berada di sebelah.


Pantai Mustika nampak masih bersih dan terlihat alami. Pantainya berada dalam teluk, sehingga ombak di Pantai Mustika ini tidak terlalu besar. Ciri khas Pantai Mustika ini adalah keberadaan pohon kelapa yang menjadikannya rindang. Ada beberapa gazebo kecil yang dibuat untuk pengunjung yang datang. Pengunjung dapat duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan pantai dan menyantap bekal makanan yang dibawa. Pantai Mustika membentuk setengah lingkarang dengan pasir putih dan air laut kebiruan serta ombak yang lumayan tenang. Pantai ini cukup aman bagi pengunjung yang ingin bermain ombak, namun tentu saja kewaspadaan diri harus selalu diperhatikan demi keselamatan.


Penamaan Pantai Mustika konon memiliki cerita tersendiri. Pantai Mustika memang tidak jauh dari legenda Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul. Konon, dahulu Nyi Roro Kidul pernah datang ke pantai ini. Sewaktu beliau pulang, mustika yang beliau kenakan tertinggal di pantai ini. Lalu ada seseorang yang menemukan mustika tersebut dan membuangnya ke laut dengan harapan akan kembali ke pemiliknya karena dia mengetahui mustika tersebut adalah milik Nyi Roro Kidul penguasa Pantai Selatan. Dari situlah pantai ini dinamakan Pantai Mustika. Entah benar atau tidaknya cerita tersebut, tapi legenda tentang mustika Nyi Roro Kidul yang tertinggal seolah menjadi legenda turun-temurun di masyarakat yang tinggal di Pantai Mustika ini.

Kami tidak lama-lama menikmati Pantai Mustika ini. Kerumuman orang-orang yang ada di pantai seberang lebih menarik perhatian kami daripada keheningan Pantai Mustika di pagi hari. Kami pun kembali melanjutkan langkah kaki menuju susunan bebatuan yang berfungsi sebagai pembatas dan pemecah ombak yang ada di sebelah, di mana hiruk-pikuk masyarakat sedang menggeliat di sana.

Menikmati Hiruk-Pikuk Pantai Pancer di Pagi Hari
Di balik susunan bebatuan yang menjadi batas wilayah Pantai Mustika, terlihat banyak perahu nelayan yang bersandar dan sedang membongkar muat hasil tangkapan ikan semalam. Kami tiba di Pantai pancer, sebuah pantai yang berfungsi sebagai tempat berlabuh perahu nelayan sekaligus sebagai tempat pelelangan ikan. Pagi itu para nelayan sedang bongkar muat ikan tuna dan ikan tongkol hasil melaut semalaman. Semua orang nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang membawa ikan dari perahu ke daratan. Ada yang mempersiapkan kotak-kotak yang berisi es batu untuk tempat penyimpanan ikan. Ada yang menyiapkan kendaraan untuk membawa ikan-ikan yang sudah dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan. Ada pula segerombolan ibu-ibu yang menunggu di pinggir pantai sambil menunggu pengepul ikan yang datang.


Awalnya saya agak ragu untuk mengambil gambar dan berbincang dengan masyarakat sekitar karena takut mengganggu aktivitas bongkar muat yang sedang mereka lakukan. Sampai akhirnya rombongan bapak-bapak yang susur pantai bersama kami tadi menjadi ice breaker dengan warga sekitar. Beliau--beliau ini mulai aktif bertanya dan berinteraksi dengan warga, terutama ibu-ibu yang sedang menunggui ikan tadi. Kumpulan ibu-ibu yang tadi terlihat pendiam dan bermuka agak galak kini cukup ramah berbincang kepada kami. Kami bertanya tentang berapa harga ikan cakalang besar yang sedang dibongkar muat oleh nelayan setempat. Kami cukup terkaget-kaget dengan harga ikan cakalang besar yang ditawarkan di tempat pelelangan ikan di Pantai Pancer ini. Harga satu ekor ikan cakalang dihargai Rp 60.000,00 saja, masih bisa ditawar. Satu ekor ikan cakalang besar tersebut mungkin memiliki bobot antara tujuh sampai sembilan kilogram. Saya hanya bisa tercengang karena harga yang ditawarkan begitu murah. Jauh lebih murah daripada ikan yang saya beli di Papuma kemarin.



Saya bersama rombongan bapak-bapak tadi meminta izin kepada ibu-ibu ini untuk mengangkat ikan-ikan tersebut sebagai objek foto untuk kenang-kenangan. Berbeda dengan ikan yang biasa saya temui di supermarket atau pasar, ikan segar hasil tangkapan nelayan ini tidak terlalu berbau amis. Mungkin karena ikan-ikan hasil tangkapan ini masih benar-benar segar diambil dari lautan. Walaupun menjadi pelabuhan nelayan dan tempat pelelangan ikan, namun Pantai Pancer ini terlihat cukup bersih dan sama sekali tidak terkesan kumuh. Saya baru sadar, ternyata perkampungan di sekitar sini jika pagi terlihat sepi karena sebagian besar penduduknya beraktivitas bongkar muat tangkapan ikan di Pantai Pancer ini.

Rasanya saya masih ingin berlama-lama berada di Banyuwangi dan sejenak menikmati Pantai Pancer dan Pantai Mustika ini. Sayang, kami sudah berjanji kepada bapak ojek untuk menjemput kami pagi ini di penginapan. Dengan terburu-buru kami mencari jasa ojek untuk mengantar kami kembali ke Pantai Pulau Merah. Kami sudah tidak sanggup lagi berjalan kaki menyusuri pantai untuk kembali, ditambah waktu kami yang mepet sehingga jasa ojek dapat mempersingkat waktu tempuh kami. Beruntung kami bertemu dengan seorang nelayan yang merangkap sebagai ketua kelompok sadar wisata di Pantai Mustika ini. Beliau bersedia mengantarkan kami ke penginapan, tapi beliau izin untuk mandi dan membersihkan diri setelah selesai melaut tadi pagi. Masa tunggu ini kami gunakan untuk membeli sarapan yang ada di warung makan di Pantai Mustika.

Sarapan Nasi Pecel Lauk Udang yang Terasa Istimewa
Dari pengalaman santap malam tadi malam di salah satu warung makan di Pantai Pulau Merah membuat kami harus jeli saat membeli makanan. Bukan masalah rasa, melainkan harga makanan yang cukup tinggi bagi kami. Dari beberapa menu yang tersedia di salah satu warung di Pantai Mustika, kami menjatuhkan pilihan kepada menu nasi pecel. Kami dibuat melongo dan berpikir sejenak saat ibu pemilik warung menawarkan lauk kepada kami. "Mau lauk udang apa cumi mbak?", dengan ragu kami berpikir dan terdiam sejenak. Kami memilih lauk tahu dan tempe karena berpikir jika menggunakan lauk udang atau cumi, pasti harganya akan jadi mahal. Seolah mengerti kegelisahan kami, ibu warung pun hanya tertawa dan berakata, "Tenang saja mbak, di sini harganya tidak dinaikkan seperti pantai sebelah kok, mau pakai udang atau cumi harganya sama, cuma sepuluh ribu saja".


Tanpa berpikir panjang, kami pun memilih lauk udang, walau cumi masak tinta hitamnya juga menggoda. Nasi pecelnya enak, rasa sambalnya pas, perpaduan antara pedas dan gurih. Tekstur kacangnya pun masih terasa. Dan yang membuat kami cukup keheranan adalah porsi udangnya. Porsi udangnya banyak dan masih segar. Cara masaknya pun pas dan tidak terasa amis. Walaupun dibalut dengan tepung yang agak tebal, namun tekstur daging udangnya masih terasa.


Sayang, kami tidak bisa berlama-lama menikmati Pantai Pancer dan Pantai Mustika karena kami harus buru-buru kembali ke penginapan. Kami sudah berjanji dengan bapak ojek yang mengantar kami kemarin untuk menjemput kami di Pantai Pulau Merah. Pagi ini kami harus kembali ke Surabaya dan melanjutkan perjalanan menuju Jogja. Bapak ojek yang mengantar kami juga keheranan, kenapa kami terlalu buru-buru berada di Pulau Merah. Sore kami baru tiba di sana, kemudian keesokan paginya kami sudah harus pergi dari sana. Ah, mungkin lain kali saya akan meluangkan waktu lebih untuk menikmati pesisir selatan Banyuwangi ini pak !

Note :
Saya baru menyadari satu hal, jika Pantai Pancer ini bersebelahan dengan Pantai Wedi Ireng. Pantai Wedi Ireng ini cukup banyak direkomendasikan oleh warga Banyuwangi untuk dikunjungi karena keindahan pantainya yang menggoda. Ada dua cara untuk mencapai Pantai Wedi Ireng. Cara pertama yaitu menggunakan jasa perahu dari Pantai Pancer. Biaya sewa perahu sekitar Rp 50.000,00 per orang untuk rute pulang pergi. Cara kedua yaitu dengan jalan kaki menyusuri bukit di dekat Pantai Pancer. Lama perjalanan sekitar 30 menit menyusuri bukit. Mungkin lain kali saya pasti akan datang kembali ke Banyuwangi :)

No comments:

Post a Comment

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com