Wednesday, August 24, 2016

Main Sebentar Menikmati Kemegahan Candi Penataran

Ada keasyikan tersendiri ketika menjelajahi bongkahan-bongkahan batuan andesit yang tertata membentuk bangunan megah penuh nilai sejarah. Imajinasi saya seolah tergelitik, serasa diajak untuk kembali menyusuri dan menikmati suasana kejayaan kerajaan Hindu di bumi nusantara.



Dua puluh menit perjalanan menggunakan jasa ojek motor terasa berlalu begitu saja. Pemandangan hamparan persawahan dengan udara sejuk membuat perjalanan dari Kota Blitar menuju Candi Penataran pagi ini terasa menyenangkan. Tak terasa, saya pun tiba di kompleks Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Suasana tenang dan sejuk khas pedesaan di kawasan lereng Gunung Kelud ini cukup kental terasa ketika menapakkan kaki di daerah Penataran ini.


Sepasang arca Dwarapala berukuran cukup besar nampak berdiri dengan kokoh di bagian gerbang, seolah sedang menyambut kedatangan pengunjung di Kompleks Candi Penataran. Arca Dwarapala yang membawa sebuah senjata bernama gada ini sekilas bentuknya mirip seperti pentungan. Banyak masyarakat sekitar candi menyebut Arca Dwarapala dengan sebutan Reco Pentung karena ornamen senjata gada yang ada pada arca ini mirip seperti pentungan. Saya kemudian berjalan kaki menuju ke bagian pos jaga candi. Di sini pengunjung dipersilahkan untuk mengisi buku tamu dan memberi uang sumbangan suka rela. Iya, untuk masuk ke dalam Kompleks Candi Penataran pengunjung tidak dipungut tiket masuk seperti pada candi-candi yang ada di wilayah Jogja dan sekitarnya. Di sini, pengunjung cukup memberi uang sumbangan seikhlasnya saja.



Kompleks Candi Penataran memiliki beberapa bagian yang menarik untuk dikunjungi. Bagian depan kompleks candi terdiri dari bangunan Bale Agung, Pendopo Teras dan Candi Angka Tahun. Bagian Bale Agung dan Pendopo Teras kini hanya tersisa bagian pondasinya saja yang masih utuh. Bagian Pendopo Teras memiliki struktur umpak yang berfungsi untuk penyanggga tiang. Pada jaman dahulu, bagian Pendopo Teras ini digunakan untuk tempat meletakkan sesaji pada saat upacara keagamaan dan juga digunakan sebagai tempat peristirahatan raja. Bagian yang menarik dari bangunan Pendopo Teras ini adalah bagian dinding bangunan dengan relief-relief yang sebagian besar masih nampak utuh. Pada tiap bagian ujung bangunan terdapat ornamen dua ekor ular naga yang tubuhnya saling berlilitan. Ornamen tubuh ular naga yang saling berlilitan ini semakin menambah daya tarik bagian Pendopo Teras.


Pada bagian berikutnya kita akan menemukan Candi Angka Tahun. Bangunan ini mungkin menjadi bagian yang paling familiar di antara bangunan-bangunan lain yang berada di dalam Kompleks Candi Penataran. Candi ini sering malang-melintang di dunia maya ketika kalian memasukkan kata kunci "Candi Penataran" di Google. Di bagian dalam bangunan Candi Angka Tahun ini terdapat sebuah arca Ganesha. Yang cukup menarik perhatian dari bagian candi ini adalah adanya arca wanita yang ditafsirkan sebagai perwujudan dari Gayatri Rajapatni. Arca wanita ini cukup asing bagi saya karena sebagian besar candi yang pernah saya kunjungi hampir tidak pernah saya temukan ornamen arca ini.


Bergeser menuju bagian tengah, kita akan menemukan bangunan Candi Naga yang letaknya tidak jauh dari Candi Angka Tahun. Bangunan Candi Naga memang nampak tidak utuh secara keseluruhan, hanya masih tersisa bagian pondasi dan dinding bangunannya saja, namun kita bisa melihat dengan jelas ornamen naga yang mengelilingi bagian dinding candi ini. Di dekat Candi Naga ini terdapat sebuah candi yang masih belum utuh bentuknya. Nampak bebatuan masih terlihat berserakan, hanya membentuk sebuah pondasi bangunan candi saja.



Memasuki bagian belakang, kita akan menemukan bangunan candi utama yang terdiri dari tiga buah teras, mirip punden berundak. Kalian pun bisa naik ke bagian atas bangunan candi utama ini dan menikmati bagian Kompleks Candi Penataran dari atas ketinggian. Ada hal menarik ketika saya berada di bagian atas bangunan candi utama ini. Selain bekas sesaji, saya juga melihat adanya bahan bangunan dari batu bata yang menutup bagian lantai di candi ini. Tak semua bagian lantai terbuat dari batuan andesit, melainkan ada pula campuran batu bata. Saya duduk sejenak di bagian atas candi utama ini. Menikmati pemandangan Candi Penataran dengan udara segar sekaligus merasakan hempasan angin yang sedikit kencang menerpa badan.


Banyak ornamen relief yang cukup menarik di bagian candi utama ini. Relief-relief berbentuk hewan yang menceritakan tentang kisah fabel cukup banyak mendominasi bagian dinding candi utama ini. Sayang, pihak pengelola Candi Penataran tidak menyediakan pemandu untuk menemani pengunjung berkeliling sambil menjelaskan tentang candi ini beserta dengan relief-relief yang ada di dalamnya. Saya rasa jika ada seorang pemandu yang cukup paham mengenai Candi Penataran beserta kisah-kisah relief di sana akan jauh lebih menarik lagi untuk menyusurinya.


Akhirnya, perjalanan saya pun berakhir di bagian belakang dari Kompleks Candi Penataran ini. Ada sebuah kolam yang mata air yang jernih. Bagian bangunan kolam dikeilingi oleh batuan andesit dengan relief fabel. Ada pula ikan air tawar yang hidup dan berkembang biak di sana. Konon, mata air ini dianggap suci dan keramat, sehingga banyak orang yang ngalap berkah di sana dengan mengambil air tersebut, entah untuk cuci muka dan lainnya. Ikan yang hidup di sana pun juga dibiarkan begitu saja, tak ada seorang pun yang berani menangkapnya.


Bagi saya, Kompleks Candi Penataran ini cukup membawa kesan. Selain keindahan bangunan candi dengan ornamen relief dan arca yang terbilang masih banyak yang utuh, penataan taman dan kebersihan lingkungan di kompleks candi ini pun sangat terawat. Hanya sayang sih belum tersedia jasa pemandu untuk menemani pengunjung yang ingin berkeliling sambil mempelajari sejarah dan seluk beluk candi ini.


Hari pun beranjak siang, saya kemudian berjalan menuju pos depan untuk menunggu jemputan ojek motor yang akan mengantarkan saya kembali ke Kota Blitar. Sambil menunggu jemputan, saya duduk di bawah pohon maja yang berbuah cukup lebat. Bentuk buah maja sekilas mirip seperti jeruk pamelo, namun konon rasanya sangat pahit. Keberadaan pohon maja ini memang cukup kental dengan sejarah asal nama bedirinya Kerajaan Majapahit dahulu.

keterangan :
Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Candi ini buka dari pukul 07.00 - 17.00 WIB. Tidak ada tarif khusus (karcis) untuk memasuki area candi, cukup mengisi buku tamu dan memberi uang suka rela.

Tahun 2016 ini sudah tidak ada lagi jasa angkot yang beroperasi dari Kota Blitar menuju Candi Penataran. Cara paling mudah adalah menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan jasa ojek jika Anda datang sendirian. Jika datang berombongan, sewa mobil tentu lebih disarankan.

Untuk jasa ojek, Anda bisa meminta tolong bagian resepsionis hotel untuk dicarikan mengingat jasa angkutan umum cukup sulit didapatkan di kota ini.

Untuk tarif ojek, sekali jalan Anda harus merogoh kocek Rp 25.000,- (data bulan Maret 2016). Jadi untuk pulang-pergi membutuhkan kocek sebesar Rp 50.000,- Harga yang cukup sebanding dengan jarak yang harus ditempuh menurut saya. Jangan lupa untuk meminta kontak bapak ojek untuk menjemput Anda setelah puas berkeliling Candi Penataran.

The last but not the least, jangan buang sampah dan corat-coret di kompleks candi ya untuk menjaga kelestariannya :)

10 comments:

  1. pernah ke Blitar tp belum kesampaian kesini TT

    ReplyDelete
    Replies
    1. kapan-kapan mampir kemari deh, deket sama kota kok lokasinya :)

      Delete
  2. bentuk atas candinya khas banget yak kalo di jawa timur, seperti candi di Situs Trowulan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, rata-rata candi di Jawa Timur yang pernah aku kunjungi memiliki ciri khas yang sama di bagian atasnya :D

      Delete
  3. Candi Hindu ini kebanyakan menggunakan relief dan ornamen arca berupa binatang ya mas?
    Ada naga, gajah, terus juga anjing bahkan ada kolam ikannya yang sejernih itu lho :)
    Sebenarnya tertarik banget sama candi, tapi tak pernah bisa menceritakannya wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, ayok nulis tentang candi, aku nantikan ceritanya di blogmu :D

      Delete
  4. Setahu saya Gayatri Rajapatni itu salah satu istri Raden Wijaya, raja Majapahit periode awal, Mas hehe.

    ReplyDelete
  5. Bagus info nya, makin menambah wawasan

    ReplyDelete
  6. thanks for your information, good luck !

    ReplyDelete

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com