Wednesday, July 6, 2011

Trip To Karimunjawa Day 1 : Welcome Karimunjawa !


Akhirnya setelah menempuh perjalanan laut selama enam jam, saya dan rombongan tiba juga di Karimunjawa. Kesan pertama tiba di pulau ini adalah rasa takjub dan kagum, keindahan alamnya sangat luar biasa. Pasir putih, air laut yang berwarna-warni, deretan perahu yang bersandar di pelabuhan, semua sangat indah dan menyejukkan mata. Turun dari kapal rasanya seperti mendapatkan energi lagi dengan disuguhi panorama alam yang begitu luar biasa. Setelah berkumpul dengan rombongan lain yang sama-sama menggunakan jasa EO yang sama, kami langsung diantar dengan mobil menuju homestay tempat kami menginap selama berada di Karimunjawa. 


Homestay yang kami tempati adalah rumah penduduk yang memang sepertinya difungsikan sebagai tempat tinggal wisatawan ketika sedang berkunjung di Karimunjawa. Hampir semua rumah penduduk yang ada dijadikan sebagai penginapan -mungkin sudah terorganisir-. Rumah yang saya dan rombongan tempati cukup nyaman, kamar tidur yang bersih, kasur yang memadai, serta kamar mandi yang bersih dan ketersediaan air mencukupi. Pemilik rumah sepertinya sudah terbiasa dengan kedatangan tamu yang menginpa di rumahnya. Pemilik rumah pun sangat ramah kepada kami, ya berasa di rumah sendiri jadinya.


Oke satu lagi yang membuat saya cukup surprise adalah welcome drink yang berupa sebaskom es kelapa muda serut yang dicampur dengan sirup cocopandan untuk rombongan kami yang disediakan di homestay. Ah serasa surga dunia ketika meminum es kelapa muda tersebut. Tenggorokan yang tadinya kering dan dahaga yang tak kunjung reda akhirnya terobati dengan es kelapa muda tersebut. Oh iya satu lagi yang perlu Anda ingat, di Karimunjawa ini listrik mulai menyala pada petang menjelang malam hari, jadi jangan harap pada siang hari Anda dapat menikmati tayangan televisi, maupun mencharge ponsel. Jadi ketika malam hari jangan lupa untuk mencharge gadget yang Anda miliki.

Tuesday, July 5, 2011

Trip To Karimunjawa Day 1 : 6 Jam Penyebrangan dengan KMP Muria


Akhirnya apa yang saya takutkan pun terjadi, saya dan rombongan mendapatkan tempat di dek kapal. Sebenarnya di bagian tempat duduk penumpang masih banyak kursi yang kosong, hanya saja diisi dengan matras dan penumpang di sebelahnya berkata tempat duduk tersebut sudah dibooking. Saya rasa sama sekali tidak masuk akal, toh ini kapal di kelas ekonomi dan tidak ada nomer tempat duduk, seharusnya kan memang siapa cepat datang dia yang dapat. Kami sempat bersitegang dengan ibu-ibu sesama rombongan wisata yang dengan egois tetap bersikuku kalau kursi yang masih tersisa sudah dipesan. Ah nyata-nyata itu hanya alibi untuk menyisakan kursi bagi teman-teman ibu-ibu tersebut yang entah kapan masuk ke kapalnya. Akhirnya saya dan rombongan memilih untuk naik ke atas dan mencari tempat di dek kapal. Di luar dugaan pula ternyata di dek kapal pun sudah lumayan penuh dan ramai oleh penumpang lain. Lama-kelamaan menjelang kapal berangkat, dek kapal sudah penuh sesak dengan penumpang, suasananya mirip dengan camp pengungsian -__-


Pukul 08.00 kapal diberangkatkan karena penumpang telah memenuhi kuota. Jadwal pemberangkatan sepertinya diajukan karena biasanya kapal berangkat sekitar pukul 09.00. Pada awal pemberangkatan, di bagian "camp pengungsi" -sebut saja demikian- cukup ramai dengan hingar bingar para penumpang untuk mengusir kejenuhan, maklum lah perjalanan yang akan kami tempuh memakan waktu sekitar enam jam perjalanan. Untuk mengusir kejenuhan ada yang bermain monopoli, bermain kartu, mengobrol dengan sesama rombongan, berfoto ria, melihat laut dan sebagainya. Suasana di dek kapal semakin lama semakin panas, iyalah secara di laut lepas matahari dengan terik langsung bersinar. Kru kapal dengan cekatan memasang terpal untuk menghalau panas dan sebagai tempat berteduh, walau tidak semua bagian dek dapat tertutupi. Keadaan semacam ini semakin membuat mirip seperti camp pengungsian -__-


Dua jam perjalanan awal semua orang masih tampak riang, penuh semangat, hingga memasuki jam ketiga perjalanan di mana ombak mulai sedikit besar dan kapal mulai terasa goncangannya. Akhirnya penumpang yang tadinya riang gembiran penuh semangat tumbang satu per satu. Goncangan di bagian dek memang lebih terasa jika dibandingkan berada di ruang duduk penumpang.


Saya memilih untuk tidur guna menghalau mabuk laut, suasana yang sangat menyiksa bagi saya dan juga mungkin bagi rombongan lainnya. Penumpang lain pun satu per satu mengambil posisi tidur agar tidak pening dan mabuk laut, pemandangannya bak pindang dijemur. Semua mengambil posisi senyaman mungkin di dalam suasana yang serba tidak menentu. Memasuki jam keempat beberapa penumpang mulai mabuk laut, ah mendengar suaranya bikin perut jadi ikut mual dan saya tidak berani melihatnya, lebih baik saya memaksakan untuk tidur.



Sesekali saya bangun dan duduk melihat kondisi di sekeliling saya. Hampir semua penumpang mencoba tidur dan keramaian yang ada di awal pemberangkatan tadi semua lenyap karena diombang-ambing ombak Laut Jawa, sungguh enam jam perjalanan dengan kapal yang sangat menyiksa.


Setelah menempuh perjalanan hampir enam jam tersebut mata kami sangat dimanjakan dengan pemandanganan Kepualauan Karimun Jawa yang sangat indah. Gradasi warna air laut sangat terlihat kontras, mulai dari putih, hijau muda, biru muda hingga biru tua, sungguh sangat menawan. Penumpang pun satu per satu bangun melihat keindahan alam yang disajikan oleh Karimunjawa. Kapal bersandar di pelabuhan dan sontak semua penumpang di dek berteriak kegirangan, akhirnya derita selama enam jam berakhir sudah, WELCOME KARIMUN JAWA !

Monday, July 4, 2011

Trip To Karimunjawa Day 1 : Masih Dini Hari Tiba di Pelabuhan Jepara

Rencana saya dengan teman-teman untuk mengeksplorasi Karimunjawa tercetus ketika liburan semeter gasal kemarin waktu di Bandung. Dari pembicaraan yang hanya iseng-iseng belaka akhirnya kami usahakan untuk terealisasi, mulai dari mengadakan tabungan khusus untuk mengumpulkan dana guna penjelajahan, mencari rombongan, pilah-pilih EO (Event Organizer), dan juga mencari beberapa informasi mengenai Karimun Jawa. Rencana kami liburan semester genap berangkat ke Karimunjawa mengingat di sekitar bulan Juni cuaca sudah mendukung dan urusan perkuliahan semester genap sudah selesai.

Akhirnya mendekati ujian akhir semester selesai kami mantab untuk melakukan penjelajahan di Karimunjawa. Setelah beberapa kali mencari informasi dan menimbang-nimbang fasilitas dan biaya yang ditawarkan kami sepakat untuk menggunakan jasa EO Karimun Jawa Beach Adventure (search saja di Facebook) dengan biaya sebesar Rp 435.000,00 per orang untuk paket backpacker 4 hari 3 malam. Sebenarnya masih ada EO yang lebih murah, tapi kami merasa cukup sanksi karena web yang diberikan jarang diupdate, takutnya EO tersebut hanya abal-abal saja. Hampir semua EO memberlakukan meeting ponit di pelabuhan Jepara, jadi saya dan rombongan dari Jogja berangkat sehari sebelumnya. Setelah membicarakan bersama rombongan, kami memilih untuk menggunakan jasa travel dari Jogja menuju pelabuhan Jepara dengan biaya Rp 75.000,00 per orang sekali jalan. Memang ketika kami estimasi lebih mahal Rp 10.000,00 dibandingkan menggunakan jasa bus, tapi mengingat kondisi dan medan yang belum kami ketahui untuk cari aman kami memilih jasa travel tersebut.

Pukul 22.00 WIB kami berangkat dari parkiran Ambarukmo Plaza, Yogyakarta walau dimulai dengan insiden salah satu rombongan datang telat dan akhirnya pemberangkatan pun molor. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 6 jam, dengan kepala beberapa kali terbentur kaca ketika tertidur karena pak sopir cukup "sadis" membanting setirnya, susah tidur gara-gara rombongan yang berada di kursi depan kami ngobrol sampai dini hari, sekitar pukul 03.00 pagi kami sampai di pelabuhan Jepara. Masih antara percaya tidak percaya kami tiba di pelabuhan sepagi itu. Pelabuhan Jepara cukup kecil, pagi-pagi buta tidak ada kegiatan penduduk, tidak ada penyeberangan 24 jam seperti Ketapang-Gilimanuk, hanya beberapa deretan warung yang sepertinya buka 24 jam.


Dengan perasaan malas dan sedikit terpaksa karena sang sopir sudah menyuruh kami segera turun, serta udara pagi yang sangat dingin dan rasa kantuk yang amat kuat, kami terpaksa bergegas mengambil barang-barang yang sudah diturunkan dari bagasi. Udara hangat di dalam travel berubah menjadi dingin karena angin yang cukup kencang bertiup. Kami berlari menuju warung, sekedar untuk ke kamar mandi, mencari minuman dan makanan hangat, atau sekedar melanjutkan tidur yang terganggu. Beberapa rombongan juga telah tiba, ada yang bermain kartu, sekedar ngobrol-ngobrol dengan sesama rombongan maupun dengan rombongan lain. Saya memilih untuk menyantap mie rebus hangat dan melanjutkan tidur hingga adzan Subuh berkumandang. Setelah menunaikan kewajiban, kami kembali ke warung yang kami gunakan sebagai basecamp. Saya kira rombongan yang akan menyeberang ke Karimunjawa tidak terlalu banyak tapi ketika matahari mulai terang rombongan pun mulai berdatangan, sangat banyak dan kekhawatiran saya pun mulai, membayangakn tidak dapat tempat duduk dan harus berada di dek kapal selama 6 jam -__-

Pukul 07.00 pagi, mas Eka, EO kami mulai menemui kami untuk menyerahkan tiket pemberangkatan ke Karimunjawa. Rombongan yang lain pun berdatangan dan mulai memenuhi kapal, di luar perkiaraan saya. Setelah tiket kami dapat, kami segera bergegas untuk segera memasuki kapal.

Saturday, July 2, 2011

Air Terjun Parang Ijo


Penyakit malas nge-blog sempat hinggap juga dalam diri saya, jadi lumayan jarang untuk buka dan update blog padahal beberapa bahan sudah terkumpul. Oke mari mulai menulis kembali mumpung sudah libur dan ada banyak waktu untuk blogging :D


Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk menjelajahi lereng Gunung Lawu di Kabupaten Karanganyar-Jawa Tengah. Dengan kontur pegunungan, kabupaten ini memang terkenal memiliki beberapa obyek wisata alam dan wisata sejarah unggulan antara lain adalah Air Terjun Gerojogan Sewu, Candi Cetho, Candhi Sukuh dan sebagainya. Tapi masih banyak juga tempat-tempat yang bisa dikunjungi antara lain adalah daerah Cemoro Sewu yang merupakan daerah di dekat puncak Gunung Lawu, perbatasan wilayah antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Air Terjun Parang Ijo, Air Terjun Jumog, dan kebun teh.


Setelah perjalanan yang lumayan panjang dan mendebarkan karena jalan yang cukup menanjak dan curam, akhirnya saya sampai juga di obyek wisata Air Terjun Parang Ijo yang terletak di Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kali ini saya susah menjelaskan arah dan jalannya karena saya tidak terlalu mengenal wilayah ini -_-


Parang Ijo memang tak setinggi air terjun Gerojogan Sewu, tetapi menurut saya jauh lebih indah di Parang Ijo.  Tiket untuk masuk di lokasi wisata ini adalah Rp 2.500,00, cukup murah bukan? Lalu kita akan memasuki gerbang dan menuju jalan setapak yang tidak begitu jauh untuk memasuki lokasi. Saat melewati jalan setapak ini mata akan dimanjakan dengan pemandangan alam berupa perbukitan yang berisi pepohonan dan tanaman sayuran. Udara di sini sangat sejuk dan segar, cocok sekali bagi Anda yang menginginkan suasana alam dan pegunungan, sejenak melupakan aktivitas dan penatnya situasi di perkotaan.



Setelah memasuki kompleks air terjun mata langsung akan dimanjakan dengan bebatuan berwarna ungu dan air turun dari sela-sela bebatuan tersebut. Aliran sungai kecil yang bertingkat membentuk air terjun kecil-kecil, disertai dengan penataan pepohonan dan taman yang sedemikian rupa semakin memanjakan mata. Naik ke atas kita akan menemukan air terjun utama yang cukup tinggi. Air terun ini menurut saya sedikit buatan, karena di bagian atas terlihat seperti konstruksi, mungkin agar aliran air lancar.


Di sekitar air terjun utama ini terdapat dinding bebatuan yang tertutup lumut dan berwarna semi ungu, sangat cantik. Anda perlu berhati-hati ketika bermain-main di bawah air terjun karena bebatuan besar di bawah cukup banyak dan cukup licin. Setelah puas menikmati air terjun, kita dapat menaiki anak tangga yang menuju bukit di bagian atas untuk melihat gardu pandang. Hanya saja saya kurang tertarik berjalan menuju gardu pandang karena sepanjang perjalanan isinya muda-mudi yang berduaan di balik semak-semak pepohonan untuk memadu kasih, ah namanya juga darah muda :D
Dan kebetulan ketika saya berkunjung ada pasangan calon pengantin yang sedang mengadakan sesi pemotretan untuk pre-wedding.



Untuk fasilitas sendiri di obyek wisata ini cukup memadai, mulai dari kamar mandi dengan jumlah yang cukup dan bersih, kios-kios yang berisi pedagang makanan dan minuman, dan juga terdapat kolam renang bagi anak-anak, tapi airnya dingin sekali. Kuliner khas di obyek wisata ini tentu saja adalah sate kelinci. Harga untuk sepuluh tusuk sate kelinci adalah Rp 8.000,00, lumayan untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan. Menurut saya obyek wisata ini recomended untuk dikunjungi sebagai alternatif Air Terjun Grojogan Sewu.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com