Sunday, June 24, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Mampir ke Batu Singa dan Menikmati Syahdunya Pasir Berbisik Bromo di Kala Senja


Setelah bercerita panjang lebar dan sempat curhat colongan di padang savana, Pak Adit kemudian mengajak saya untuk melanjutkan perjalanan menuju batu singa dan pasir berbisik. Kebetulan tak selang beberapa saat ketika saya sampai di padang savana ini, ada dua orang berboncengan motor yang menghampiri kami. Beliau ternyata tamu hotel yang penasaran dengan kondisi padang savana Bromo ini. Dari kejauhan sih si pengendara motor memang tidak selincah Pak Adit ketika mengendarai motor. Ternyata beliau ini adalah tour guide dari salah satu hotel yang cukup terkenal di Bromo dan bukan masyarakat asli Tengger seloroh Pak Adit, jadi maklum jika dalam mengendarai motor kurang begitu terampil dalam menghadapi medan lautan pasir yang konturnya lumayan labil. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan tamu hotel tersebut, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.



Pak Adit mengajak saya mengunjungi batu singa yang lokasinya berada di antara lautan pasir Bromo, tidak jauh dari lokasi pasir berbisik. Saya malah belum tau jika di lautan pasir Bromo ini ada batu yang bentuknya seperti singa, karena berdasarkan informasi yang saya cari di internet memang jarang sekali yang membahas keberadaan batu singa ini. Perjalanan dari savana menuju lautan pasir lagi-lagi dilakukan dengan manuver-manuver jahanam. Pak Adit dengan santainya menarik gas lumayan kencang melewati medan pasir Bromo yang tanahnya gembur nan labil. Hampir beberapa kali adrenalin saya terpompa hingga jantung saya rasanya hampir copot karena ulah Pak Adit yang hampir saja kehilangan kendali motor, tapi tetap saja pada akhirnya beliau sukses mengendalikan motor GL Pro miliknya itu. Lagi-lagi saya hanya bisa pasrah diboncengkan oleh beliau.


Tak selang beberapa lama kemudian kami tiba di batu singa yang diceritakan oleh Pak Adit sebelumnya. Dari kejauhan saya masih belum paham di mana letak bentuk singanya. Tapi,setelah mendekat saya pun bisa menikmati bentuk batu singa yang unik itu. Batu tersebut memang bentuknya seperti pose singa jantan yang sedang merebahkan dirinya, dengan pose kepala yang masih siaga. Sungguh cantik dan luar biasa bentuknya, benar-benar mirip seperti singa sungguhan. bentuk singa jantan yang khas dengan rambutnya yang mengelilingi kepala. Amazing !


Puas berfoto-foto dengan si "singa", Pak Adit langsung mengajak saya ke spot berikutnya yaitu lokasi pasir berbisik. Awal tiba di lokasi otak saya susah mencerna kenapa lokasi tersebut dinamakan pasir berbisik. Isinya sih beberapa bebatuan besar yang tergeletak di tengah-tengah lautan pasir. Sampai akhirnya Pak Adit bercerita lokasi tersebut dinamakan Pasir Berbisik karena spot tersebut merupakan lokasi syuting film "Pasi Berbisik" yang dirilis sekitar tahun 2002, yang tidak percaya monggo silahkan lihat kembali film tersebut :P



Suasana sore itu sudah mulai agak gelap karena matahari mulai kembali ke peraduan. Suasananya pun cukup hening karena lokasi pasir berbisik ketika sore memang sepi. Hanya terlihat Gunung Batok di sebelah barat yang agak samar terlihat karena cahaya matahari yang semakin meredup. Saya pun bertanya kepada Pak Adit adakah sunset di Bromo, karena yang saya ketahui hanya pemandangan sunrise yang menjadi salah satu daya tarik kawasan Bromo ini. Saya hanya mengambil gambar beberapa saja, karena udara yang mulai terasa dingin dan saya lupa membawa sarung tangan. Dan lagi-lagi tanpa komando dari saya, Pak Adit langsung membawa saya ke satu spot untuk menyaksikan sunset

Friday, June 22, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Padang Savana dan Bukit Teletubbies pun Terjelajahi


Keasyikan menikmati pemandangan di Bromo view sambil memainkan kamera dan berbincang-bincang dengan si bapak tukang ojek yang ramah itu, akhirnya tanpa babibu si bapak tukang ojek pun mengajak saya untuk menyusuri padang savana dan menjelajahi bukit Teletubbies yang menjadi salah satu spot favorit pengunjung di Bromo. Sebenarnya masih belum puas sih untuk sejenak menikmati pemandangan alam yang berada di depan mata, lebih tepatnya tidak akan pernah ada kata puas, bisa-bisa saya habiskan waktu berjam-jam duduk termenung melihat lukisan alam nan elok ini. Menurut beliau memang masih belum banyak turis yang tertarik mengunjungi spot ini karena kebanyakan yang diketahui pengunjung hanya lokasi penanjakan Bromo untuk melihat sunrise, spot pendakian Gunung Bromo dan pasir berbisik saja. Padahal menurut beliau pemandangan alam di savana juga tak kalah cantik dengan spot-spot yang menjadi landmark di Bromo. 


Konon pemberian nama bukit Teletubbies ini bukan berasal dari sebutan masyarakat Tengger, melainkan sebutan dari para pengunjung karena lokasi bukit ini mirip dengan rumah para Teletubbies, salah satu film anak-anak yang cukup terkenal di awal tahun 2000-an. Untuk menuju savana dan bukit Teletubbies ini kami harus berjalan menuruni perbukitan dengan jalan yang cukup membuat jantung hampir copot. Si bapak tukang ojek sih santai-santai saja karena beliau sudah sangat mahir dan akrab dengan kondisi jalan yang dilalui. Saya yang dibonceng pun hanya bisa pasrah menyerahkan nasib saya kepada si bapak. Walaupun jalannya bikin deg-degan tapi pemandangan di sekitar perjalanan dapat sedikit menghibur saya hingga akhirnya rasa panik itu perlahan hilang. 

Untuk menuju savana kami harus melewati dulu pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger dengan membayar tiket di loket masuk. Tiket yang harus dibayarkan sebesar Rp 6.000,00 per-orang. Si bapak tukang ojek berpesan agar saya menyimpan tiket tersebut untuk penjelajahan esok hari. Jalan dari loket masuk menuju padang pasir Bromo lumayan ekstrim juga dengan kontur jalan yang menurun serta kondisi aspal yang rusak, mungkin karena teergerus erupsi Bromo beberapa tahun silam dan belum ada perbaikan. Setelah jalanan menurun dengan kondisi aspal yang parah, cobaan berikutnya adalah mengarungi lautan pasir Bromo yang luas. Bagi yang belum berpengalaman mengendarai motor di atas pasir mungkin saja akan mengalami banyak kesulitan, mulai dari menjaga keseimbangan dan memilih jalur untuk dilewati karena di jalanan pasir ini memang tidak ada jalur yang tetap untuk dilewati, semua tergantung si pengendara. Memang sih rata-rata pengunjung lebih memilih menyewa jeep atau hartop untuk melewati jalur ini.


Tapi sensasi dibonceng oleh si bapak tukang ojek melewati lautan pasir Bromo ini sungguh sangat memompa adrenalin. Si bapak dengan santainya menarik gas motor dengan kecepatan yang cukup tinggi, dengan medan yang labil bahkan terkadang hampir kehilangan keseimbangan, namun dengan cekatan si bapak dapat mengatasi semua. Salut lah untuk si bapak tukang ojek Bromo ini :P


Di tengah-tengah lautan pasir si bapak berhenti sejenak untuk menangkat telepon. Tenang saja walaupun di tengah-tengah padang pasir gersang seperti ini tapi sinyal telepon seluler cukup kencang kok, walau hanya untuk beberapa operator saja sih. Selama pemberhentian ini kami berpapasan dengan jeep yang baru saja selesai menjelajah padang savana. Jangan ditanya bagaimana kondisinya ketika berpapasan dengan jeep, badai pasir dadakan pun siap menerpa badan. Untung saja sih saya sudah mempersiapkan diri untuk membawa masker sebagai bekal menjelajahi lautan pasir. Ketika berpapasan antara sopir jeep dengan bapak tukang ojek saling bersapa satu dengan yang lain. Ya menurut saya masyarakat Tengger memang ramah dan cukup rukun. 


Setelah beristirahat sejenak perjalanan pun dilanjutkan. Tidak berapa lama kemudian kami tiba di savana Bromo, sungguh pemandangan yang sangat kontras, di mana tadi kami melewati lautan pasir dengan kondisi yang sangat gersang dan tandus, kemudian kami tiba di padang savana yang sangat subur ditumbuhi tanaman dan juga kontor tanahnya yang cenderung landai. Kondisi yang sangat kontras di lokasi yang cukup berdekatan. Sore itu matahari bersinar sangat cerah, langit pun berwarna biru cerah, sangat cerah, jarang sekali saya menemukan warna langit yang secerah ini, mungkin sih karena lokasinya yang berada di pegunungan dengan tanaman yang masih melimpah serta emisi gas kendaraan bermotor yang tidak seberapa banyak.


Si bapak tukang ojek pun mengarahkan motornya menuju salah satu spot yang menurut beliau lebih enak untuk menikmati padang savana dan juga bukit Teletubbies. Spot ini sangat menarik karena setiap musim warna yang ditimbulkan berbeda-beda, misalnya pada musim penghujan seluruh perbukitan akan berwarna hijau, berwarna-warni ketika bunga-bunga bermekaran, dan berwarna kecokelatan ketika musim kemarau. Konon katanya juga ketika musim kemarau sering terjadi kebakaran di padang savana ini, menurut beliau ini merupakan siklus dari bukit itu. Kebakaran yang terjadi pun disyukuri karena akan mempercepat datangnya semi tanaman-tanaman baru yang akan menyelimuti bukit. Ketika saya datang banyak tanaman yang mulai kering, namun sebagian besar masih terlihat hijau, maklum lah bulan Juni memang awal datangnya musim kemarau.

Saya pun turun dari motor dan mulai memainkan kamera saya, pokoknya asal jepret saja lah. Suasana di padang savana ini sungguh nyaman, tenang, tentram, hawanya pun cukup hangat karena matahari bersinar cukup terik. Anehnya sih di Bromo ketika musim kemarau seperti ini matahari masih saja cerah walaupun di jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 17.00 lebih. Sementara saya keasyikan menikmati padang savana dan bukit Teletubbies, si bapak sepertinya sedang galau menerima telepon dari istrinya yang meminta jatah nafkah. Hehehe...si bapak tadi sempat curcol sih ketika kami berhenti di lautan pasir :P


Saya biarkan si bapak yang sedang galau menerima telepon dari istrinya dan hilang antah berantah selama beberapa saat. Saya pun merebahkan badan di atas hamparan tanaman-tanaman di savana tersebut, sejenak bersyukur menikmati keindahan alam yang dianugerahkan di depan mata saya ini. Hmmm...sungguh nikmatnya hidup ini jika kita dapat menyatu dengan alam. Tak selang beberapa saat si bapak tadi datang dan malah curhat colongan, ya tak apalah mendengarkan keluh kesah beliau. Dari situ kami berkenalan dan si bapak tersebut bernama Pak Adit, yang katanya adalah ketua paguyuban tukang ojek di Bromo, wow tanpa disangka saya bertemu dengan salah satu tokoh penting di Bromo, hehehe. Padang savana dan bukit Teletubies ini menurut saya memang salah satu spot yang cukup nyaman untuk sejenak merenung dan merefleksikan diri, maupun untuk ber-quality time bersama orang-orang yang Anda sayangi, entah pacar, teman, maupun keluarga. Tempat ini juga cocok kok untuk bergalau ria sambil menikmati hamparan perbukitan yang berwarna hijau kecokelatan. 


Sore itu kami habiskan dengan mendengarkan cerita dari Pak Adit mengenai lokasi-lokasi di balik bukit yang mengelilingi Bromo. Di balik bukit tersebut terdapat danau Ranu Pane yang cukup indah, lalu juga beliau bercerita tentang jalur masuk ke Bromo melalui Malang yang tembus di padang savana ini. Di jalur Malang-Bromo tersebut kita bisa singgah sejenak menikmati keindahan Coban Pelangi. Beliau juga bercerita panjang lebar mengenai pendakian Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Kata beliau sih jika kita ingin mendaki Gunung Semeru tidak diperkenankan berjumlah ganjil, minimal empat orang, dan setiap orang akan didampingi oleh dua orang pemandu yang berasal dari petugas Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Gunung Semeru memiliki beberapa jalur pendakian, dan jalur-jalur tersebut memiliki cabang-cabang yang sering membingungkan bagi pendaki. Tak jarang memang banyak pendaki yang tersesat karena tidak mengikuti aturan pendakian di Gunung Semeru. Hmmm...saya jadi penasaran ingin mendaki Gunung Semeru :D

Trip To Bromo Day 2 : Mendadak "Diculik" Ke Bromo View


Puas menikmati pesona Gunung Batok, tiba-tiba saja ada bapak-bapak yang menghampiri saya. Si bapak memang sejak tadi "mangkal" di dekat hotel yang bersebelahan dengan homestay yang saya tinggali. Si bapak tersebut menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke salah satu titik di mana pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru akan terhampar jelas, berhubung cuaca siang itu sedang bagus jadi pemandangan yang disuguhkan pun tak kalah bagus pungkasnya. Awalnya saya ragu karena hal tawaran ini jelas-jelas di luar dari rencana pengeluaran saya. Si bapak tersebut menawarkan diri untuk mengantarkan saya dengan menggunakan motor miliknya. Si bapak tersebut menawarkan jasanya dengan upah Rp 30.000,00 saja di mana harga normal biasanya dibandrol dengan harga Rp 50.000,00. Ya mungkin saja harga segitu untuk tamu-tamu yang menginap di hotel, bukan seorang backpacker seperti saya ini. Hmmm...awalnya saya cuek saja sih dengan tawaran si bapak itu, tapi si bapak itu tetap kekeuh dengan jurus rayuan-rayuan pamungkasnya sampai pada akhirnya rayuannya pun berhasil meluluhkan saya. Oke saya pun menyepakati tawaran si bapak tersebut. Lokasi view yang dijelaskan oleh bapak si tukang ojek ini memang bukan merupakan titik penanjakan utama yang biasa dikunjungi untuk menikmati sunrise, namun lokasi ini menjadi salah satu alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati sunrise dengan berjalan kaki.


Dari sini mulailah kisah "penculikan" saya oleh si bapak tukang ojek itu. Jalanan yang dilalui untuk mencapai lokasi cukup menanjak, walaupun tidak terlalu ekstrim, tetapi jalanan aspal yang dibuat sudah banyak yang rusak, jadilah jalan tersebut hanya seperti konstruksi bebatuan yang ditata sedemikian rupa. Kontur jalan yang rusak seperti itu cukup membuat badan rontok, walaupun waktu tempuh yang diperlukan dari sekitar homestay menuju lokasi berkisar 10 menit saja. Setelah sampai di lokasi memang pemandangan yang disajikan sangat luar biasa. Sebuah lukisan alam yang sangat cantik terhampar di depan mata kepala saya. Perpaduan komposisi alam yang cantik antara Gunung Bromo, Gunung Batok, dengan latar belakang Gunung Semeru serta deretan perbukitan yang sangat cantik, dipadukan dengan awan yang berwarna biru cerah. Tangan saya pun rasanya tidak ingin berhenti untuk mengabadikan lukisan alam ini.


Untungnya sih si bapak tukang ojek tadi orangnya santai dan ramah. Beliau malah bercerita panjang lebar mengenai lokasi-lokasi mana saja yang wajib dikunjungi ketika kita menjelajahi Bromo. Beliau juga menjelaskan satu per satu nama-nama bukit yang mengelilingi Bromo, sayang saya kurang bisa mengingat dengan baik penjelasan beliau. Lokasi ini berada di tempat yang cukup tinggi, sehingga udara di sini sudah lumayan terasa dingin walaupun masih sekitar pukul 15.00 dengan kondisi matahari masih bersinar dengan cerah. Selain udara yang cukup dingin, kita juga dapat merasakan suara angin gunung yang bergemuruh. Suasana yang syahdu, berada di ketinggian bukit dengan pemandangan alam yang terhampar sungguh luar biasa. Rasanya memang semakin betah saja untuk berlama-lama di tempat ini sambil menikmati suasana hening serta pemandangan alam yang indah terhampar di depan mata.

Thursday, June 21, 2012

Trip To Bromo Day 2 : Terpesona Keindahan Gunung Batok dan Badai Pasir Bromo



Setelah membereskan barang-barang di dalam homestay, saya pun nekat memberanikan diri untuk mandi mencicipi dinginnya air di Bromo. Hanya ingin sekedar membuktikan seberapa dinginnya air di sini, walau di sisi lain sebenarnya sudah tidak betah dengan kondisi badan yang berkeringat gara-gara disauna di dalam bison jahanam tadi. Air di Bromo memang lumayan dingin sih, tapi menurut saya tidak sedingin es kok *ya iyalah saya mandi di siang bolong*



Setelah berganti pakaian, saya pun melanjutkan jalan-jalan di sekitar homestay. Pemandangan di sekitar homestay lumayan cantik, mulai dari hamparan perumahan penduduk, hamparan ladang-ladang yang berisi tanaman sayuran, tebing-tebing berwarna hijau, dan yang menjadi magnet adalah pemandangan Gunung Batok yang bisa Anda temui dengan berjalan kaki beberapa langkah saja. 


Gunung Batok ini merupakan salah satu daya tarik pemandangan di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ini. Entah mengapa gunung ini disebut Gunung Batok, atau mungkin karena bentuknya yang mirip dengan batok kelapa yang ditengkurapkan? Hahaha, yang pasti Gunung Batok ini memiliki pemandangan yang cantik, berwarna kehijauan dan memiliki tektur garis-garis yang indah, serta di sekitarnya dikelilingi oleh lautan pasir Bromo yang luas itu. Rasanya ingin terjun untuk segera menjamah Gunung Batok itu, tapi saya masih sayang dengan nyawa saya kok, hehehe.



Seperti tersihir dengan pesona keindahan Gunung Batok ini membuat saya betah berlama-lama duduk sambil menikmati keindahan pemandangan alam yang disajikan di depan mata saya ini. Kebetulan siang itu saya bertemu dengan sepasang bule asal Swiss. Saya memberanikan diri untuk mengajak berbincang-bincang dengan Bahasa Inggris saya yang acak adut. Dari perbincangan singkat itu, kedua bule tersebut sangat mengangumi keindahan alam dan keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Yak, selayaknya kita memang harus bangga menjadi orang Indonesia dengan kekayaan alam dan keanekaragaman budaya yang kita miliki.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com