Tuesday, July 26, 2011

Icip-Icip di OMG a.k.a "Omahe Mbok Giyem"


Berawal dari iseng-iseng mengikuti kuis twitter di akun @YogYES,  yang mengadakan kuis dengan hadiah voucher makan di beberapa resto yang cukup terkenal, akhirnya saya beruntung dan memenangkan salah satu voucher makan yang ditawarkan. Lumayan lah kalau beruntung dan menang akan mendapatkan voucher sebesar Rp 50.000,00. Untuk saya ini sih anugerah, biasa lah anak kost kalau mendapatkan makan gratis bisa mengehemat pengeluaran. Setelah mengambil voucher di kantor @YogYES di daerah Kotagede, saya langsung meluncur ke lokasi Omahe Mbok Giyem. Omahe Mbok Giyem ini berlokasi di Bantul, tepatnya di Jalan Kelapa no 18, Badegan, Bantul, Yogyakarta, atau tepatnya telusuri saja Jalan Bantul hingga sampai di pusat Kota Bantul, lalu gang sebelum Samsat Bantul belok ke kiri, masuk ikuti jalan, dan tak jauh dari gang masuk Omahe Mbok Giyem sudah terlihat di kanan jalan.





Restoran ini memiliki desain bangunan seperti rumah Jawa pada umumnya, berada di tengah-tengah perkampungan penduduk sehingga suasana ndeso cukup kental. Menurut saya sih, tempat ini perpaduan suasana Jawa tradisional yang terlihat dari bentuk rumahnya, dipadu-padankan dengan nuansa modern yang terlihat dari furniturenya. Untuk pilihan tempat duduk, Anda dapat memilih di teras, di gazebo sederhana dengan payung-payung gitu, di dalam rumah, atau jika ingin lebih private Anda dapat memilih private room.


Sebagai welcome food disajikan keripik singkong dan air putih. Untuk kali ini karena saya hanya sendiri di sini dan dengan voucher 50K akhirnya saya kalap memesan makanan. Makanan yang saya pesan adalah zuppa soup dan bihun goreng, untuk minuman saya pesan stoop buah dan juice fiber, untuk camilan saya pesan tahu crispy dan untuk hidangan penutup saya memesan banana caramel with ice cream. Kali ini saya memang sengaja tidak memesan nasi agar perut saya tidak terlalu penuh, sekalian memaksimalkan voucher yang saya miliki.

Mari kita review satu per satu :


Untuk zuppa soup menurut saya menu ini paling recomended dari menu-menu yang saya pesan, rasa gurihnya pas, untuk harganya sendiri satu porsi adalah Rp 10.000,00.


Bihun goreng spesialnya lumayan enak sih, tapi kalau menurut lidah saya agak asin, hmm kan lidah orang beda-beda seleranya. Tapi seporsi bihun goreng spesial ini cukup membuat perut terasa penuh. Harga seporsi bihun goreng spesial adalah Rp 15.000,00.


Stoop buah nya lumayan juga, isinya adalah potongan buah melon,  nenas, bengkoang, pepaya, dipadukan dengan sirup sederhana yang terbuat dari gula pasir yang dicairkan, untuk harganya sendiri adalah Rp 7.500,00.


Juice Fiber, yang merupakan jus dengan campuran sayur-sayuran, nenas dan diberi perasan jeruk nipis, rasanya menyegarkan tenggorokan apalagi kalau diminum pas siang-siang. Harga segelas juice fiber adalah Rp 9.000,00.


Tahu crispy, terdiri dari lima buah tahu goreng yang diberi balutan tepung, agak asin menurut saya tapi pas dicocolkan dengan saos yang disediakan. Untuk seporsi tahu crispy harganya adalah Rp 8.000,00.


Banana Caramel With Ice Cream, ini nih hidangan penutup yang juga enak, tapi sayang pas saya makan ice cream nya sudah lumer dan caramelnya sudah mengeras, poor me ! Untuk hidangan yang satu ini harganya adalah Rp 11.000,00 saja.

Menurut saya tempat ini cukup recomended untuk menghabiskan waktu bersantap. Jam buka Omahe Mbok Giyem ini dari jam 9 pagi sampai dengan jam 9 malam. Suasana ndeso yang dipadukan dengan suasana modern cukup membuat betah untuk menghabiskan waktu di resto ini.



Sunday, July 24, 2011

ART JOG 2011, Ada Kepala Bayi Raksasa !



Satu lagi event pameran seni rupa yang diselenggarakan di Yogyakarta, yaitu ART JOG 11 yang diselenggaran di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 16-29 Juli 2011. Pameran ini merupakan salah satu ajang seni tersebesar yang diselenggarakan karena melibatkan sekitar 165 seniman dengan memamerkan sekitar 241 karya seni. 


Beberapa waktu sebelum penyelenggaraan pameran ini berlangsung, ada yang aneh ketika saya mengunjungi Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk melihat festival gamelan karena halaman depan gedung TBY ini dibuat lubang yang cukup dalam. Setelah mengunjungi TBY lagi untuk melihat Art Jog 2011 saya baru menyadari bahwa lubang yang digali tersebut ternyata digunakan untuk meletakkan kepala bayi raksasa, menurut saya karena event ini juga bertepatan dengan Hari Anak Nasional mungkin.


Di dalam ruang pameran sendiri ada beberapa karya yang dipamerkan antara lain adalah lukisan, gitar yang dimodifikasi, boneka-boneka, lukisan yang terbuat dari kertas yang dipotong-potong sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah motif, robot, closet yang -maaf- lengkap dengan tinjanya *tapi tinja buatan kok* 


Ada pula disediakan beberapa LCD TV lengkap dengan headsetnya untuk menyaksikan episode Toni Blank, saya tidak begitu tahu sih, tapi menurut teman saya ini film pendek cukup populer di Jogja dan sempat booming di jejaring sosial Facebook. Lumayan seru dan menghibur juga melihat Art Jog ini, walau beberapa karya cukup abstrak dan saya tidak bisa memahaminya.





Saturday, July 23, 2011

Trip To Karimunjawa Day 4 : Goodbye Karimunjawa


Hari keempat berada di Kepualauan Karimunjawa, ini artinya adalah hari terakhir kami berada di pulau ini dan kami harus bersiap-siap untuk meninggalkan tempat yang indah ini. Karena kapal penyebarangan menuju Jepara hanya beroperasi dua hari sekali dan sebaliknya, maka kami sudah diwanti-wanti oleh pemandu dan pemilik rumah tempat kami tinggal untuk lebih awal mempersiapkan diri guna mendapatkan tempat duduk di kapal sehingga kami tidak berada di bagian dek kapal seperti pemberangkatan kemarin. Pemilik rumah tempat kami tinggal sangat baik, beliau rela untuk tidak tidur semalaman untuk memantau kondisi pelabuhan. Karena diperkirakan kapal akan berangkat pukul 08.00 pagi, maka untuk mengantisipasi kami semua sepakat untuk berangkat dari homestay jam 06.00 pagi.


Dasar kami memang bandel, sudah tau besok harus bangun pagi-pagi buta dan bersiap rebutan kapal, semalaman kami malah asyik bermain kartu dan mengobrol serta bercanda hingga larut malam, hingga akhirnya satu per satu tumbang ketika menginjak tengah malam. Kondisi di luar dugaan kami, bapak pemilik rumah membangunkan kami pukul 04.00 pagi dan membuat suasana di rumah menjadi genting. "Mas-mas bangun, kapalnya sudah penuh di pelabuhan", si bapak membangunkan kami sambil mengetok pintu kamar kami. Sontak seisi rumah kalang kabut mempersiapkan diri. Ada yang packing sembarangan yang penting semua barang masuk ke dalam tas, ada yang antri di kamar mandi, ada yang membenahkan rambut, semua kalang kabut dan keadaan semakin genting ketika pemandu rombongan kami menyuruh agar kami segera bersiap-siap dan segera menaiki mobil jemputan menuju pelabuhan. Kami sudah tidak perduli dengan badan, tidak mandi, tidak gosok gigi, hanya cuci muka, yang penting adalah sesegera mungkin menuju kapal dan mendapatkan tempat duduk.


Sekitar pukul 04.20 kami meninggalkan rumah, si bapak pemilik rumah sudah menuju pelabuhan terlebih dahulu untuk mengantrikan kami tiket. Di sinilah mulai terjadi beberapa insiden. Sekitar pukul 04.30 kami tiba di pelabuhan dan memang sudah cukup padat dengan lalu lalang orang. Pintu gerbang menuju dermaga masih ditutup, tapi kami nekat menerobos masuk, karena memang tidak ada penjaga, pemandu kami menyuruh segera memasuki kapal, dan memang sudah cukup banyak orang yang masuk ke dalam kapal. Seperti ketika pemberangkatan dari Jepara kemarin, beberapa tempat duduk sudah ditutupi oleh matras. Kami nekat untuk meletakkan matras tersebut ke bagian depan karena kursi yang tersisa masih cukup banyak. Kami duduk dengan perasaan cukup was-was juga sebenarnya. Tapi kami cuek saja sih, toh juga ini kelas ekonomi, untuk tempat duduk tidak ada istilah booking-booking-an, siapa cepat dia dapat.

Seperti merasakan duduk di "kursi panas", semua serba tegang, was-was, dan tidak tenang. Selang beberapa waktu kemudian datanglah rombongan yang katanya "membooking" tempat duduk yang kami gunakan. Mereka tidak berkutik, tapi sepertinya ada orang dalam (orang yang bekerja di kapal) yang sudah kong kalikong dengan rombongan tersebut. Beliau pun mengusir kami karena kursi yang kami duduki sudah dipesan oleh rombongan yang beliau bawa. And the foolish begins, bapak-bapak tadi mengungkit-ungkit masalah tiket, apakah kami sudah membawa tiket atau belum. Hmmm thats a stupid question, sudah jelas-jelas loket tiket dibuka jam 06.00 dan kejadian itu berlangsung sekitar pukul 05.00 pagi, ya tentu saja ami semua sama-sama belum memiliki tiket. Bapak-bapak tersebut dengan nada yang geram mencoba mengusir kami, untung teman saya yang keturunan Batak berani menentang bapak-bapak tersebut dengan nada diplomasinya. Bapak tersebut menanyai mengenai tiket dan teman saya membalasnya dengan membalikkan pertanyaan apakah rombongan yang dibawa oleh bapak-bapak tersebut juga sudah memiliki tiket. Lalu teman saya menambahkan lagi apakah tiket kelas ekonomi tertera nomor tempat duduk, toh di tempat duduk kapal sendiri tidak ada tempat duduknya.

Dengan nada geram dan bapak-bapak itu berlalu meninggalkan kami. Hmm sepertinya dia memiliki pangkat yang tinggi di kapal, dan tak selang berapa lama kemudian ada kebijakan baru bagi seluruh penumpang yang belum membawa tiket diharap untuk turun dari kapal. Kami semua hanya diam dan tetap berada di tempat duduk dan tidak beranjak. Pukul 05.30 pagi seluruh ABK (anak buah kapal) melalukan razia tiket kepada penumpang. Ahaaa, sangat ketahuan bodohnya, ketahuan beberapa penumpang menunjukkan tiket keberangkatan dan tentu saja rombongan kami belum memilikinya, bapak-bapak yang tadi dengan sengit memandang ke rombongan kami. "Hey, ini yang membuat kebijakan terlalu kelihatan tololnya, ini baru pukul 05.30 sedangkan loket baru buka pukul 06.00, tapi mengapa ada beberapa penumpang sudah memegang tiket di dalam kapal? Hmmm ternyata ada acara main belakang !" Razia sepertinya tidak dilanjutkan, saya dalam hati hanya bisa menertawakan saja, ternyata mereka hanya modal bentak tapi kebijakan yang diambil sangat-sangat tolol !


Sekitar pukul 06.30 diadakan kembali razia tiket, pemandu kami sudah menitipkan pesan bahwa tiket untuk keberangkatan rombongan kami sudah ditangani oleh orang dalam. Oh ternyata hmmmm. Sudahlah yang penting kami bisa menyeberang dengan selamat. Tetapi keadaan di bawah sepertinya lebih kacau, ada pengumuman dari syahbandar pelabuhan agar semua penumpang yang berada di dalam kapal turun. Memang sih ada beberapa penumpang ada yang turun, tapi himbauan tersebut percuma karena penumpang yang ada di pelabuhan nekat untuk naik ke atas kapal. Hampir lima jam kami duduk di kapal tapi belum ada tanda-tanda kapal akan segera di beragkatkan karena kekacauan yang timbul. Sekitar pukul 11.00 akhirnya kapal pun diberangkatkan setelah ada kebijakan bahwa penumpang yang belum bisa naik kapal akan diseberangkan esok hari. Syukurlah, kami dapat mempertahankan tempat duduk kami dan cukup merasa tenang ketika kapal pelan-pelan beranjak meninggalkan Kepulauan Karimunjawa, hmmm goodbye Karimunjawa :) *walau rasanya cukup berat meninggalkan tempat indah ini, tapi kehidupan "nyata" sudah menanti*


Karimunjawa, 29 Juni 2011

Tuesday, July 19, 2011

Trip To Karimun Jawa Day 3 : The Last Trip, Snorkling di Wilayah Bekas Sekolah Kelautan

Setelah puas menikmati keindahan Pulau Cemara Kecil, perjalanan kami lanjutkan menuju tempat yang merupakan bekas sekolah kelautan. Entah bagaimana informasinya, saya juga kurang jelas. Tempat ini menurut pemandu kami memiliki terumbu karang yang cukup bagus dan masih alami. Tempat ini cukup dangkal, namun ancaman justru lebih membahayakan -lebay- karena bulu babi jumlahnya cukup banyak dan jalur yang kami lalui harus mengikuti pemandu kami. Saya sendiri tidak ikut bersnorkling, antara rasa takut dan penasaran karena bulu babi dan ubur-ubur yang mengintai. Saya dan beberapa orang teman memilih untuk bermain-main air di dekat perahu. Air di sini tidak terlalu dalam, sekitaran lutut orang dewasa. Beberapa ikan terlihat berenang-renang di antara kaki kami. 


Sore itu cukup banyak waktu yang kami habiskan di tempat tersebut, sayang saya tidak sempat memotret karena keadaan basah kuyub. Pemandu kami dengan baik hati menangkap seekor ikan nemo untuk kami gunakan berfoto-foto, setelah itu kami lepas kembali ke habitat asal mereka. 


Selesai kegiatan bersnorkling di tempat ini berarti selesai sudah rangkaian perjalanan kami menyusuri keindahan Kepulauan Karimunjawa. Rasa capek, masih belum puas, kulit gosong, ngantuk, ah semua bercampur menjadi satu. Sungguh kenangan dan pengalaman hidup yang sangat luar biasa yang rasa rasakan. Perjalanan pulang menuju pelabuhan, kami disuguhi pemandangan ikan lumba-lumba yang muncul ke permukaan, walau hanya terlihat beberapa kali tetapi cukup membuat heboh rombongan di dalam perahu. Tak lupa sang nahkoda selalu saja bermain-main ombak untuk menambah adrenalin kami. Sungguh perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan.


Oke untuk sekedar informasi, oleh-oleh khas dari Karimunjawa ini adalah olahan dari kayu dewandaru, bisa didapatkan di kios-kios yang menjajakan pernak-pernik (art shop) yang berjajar ketika kita akan berjalan menuju alun-alun. Oke lagi-lagi saya lupa untuk memotret tempat ini. Olahan kayu ini biasanya dibuat tasbih dan juga kayu seperti pentungan. Untuk tasbih dengan kayu kualitas khusus harganya Rp 50.000,00. Keistimewaannya adalah kayu ini bisa tenggelam di dalam air, dan saya sudah membuktikannya sendiri. Pernak-pernik lainnya seperti cermin dengan hiasan kerang di pinggirnya, jam dinding dengan hiasan kerang dan pasir, serta gantungan kunci.

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com