Saturday, March 12, 2011

Jalan - Jalan Sore ke Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede


Yogyakarta terkenal sebagai salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di Indonesia bahkan dunia. Siang itu penjelajahanku untuk menyusuri kota ini aku tujukan ke wilayah pinggiran kota Yogyakarta, yakni di wilayah Kotagede yang terkenal dengan kerajinan peraknya. Sebenarnya sudah lama ingin menyusuri Kotagede ini bersama teman ku si Ian Riyanti, tapi karena kesibukan masing-masing baru lah kesampaian siang ini. Awalnya belum tau mau ke mana dan setelah muter-muter ga jelas kami memutuskan untuk pergi ke wilayah makam raja-raja yang berada di Kotagede tersebut. Sepanjang memasuki wilayah Kotagede ini sudah terhampar toko-toko yang membuat kerajinan yang berbahan perak, maklum lah di sini adalah tempat untuk pengrajin perak yang terkenal di Yogyakarta

Yak sampailah kami di makam raja-raja di Kotagede, terlihat cukup sepi suasana sore itu. Awalnya kami sempat kebingungan dan muter-muter ga jelas karena memang baru pertama kali kami mejelajahi tempat ini. Setibanya di pintu masuk kami bertanya kepada simbah-simbah yang rumahnya berada satu kompleks dengan pintu masuk lokasi makam raja-raja ini, dan beliau lah yang menjadi lokal guide kami sore itu. Lokasi makam raja-raja ini tak jauh dari pasar Kotagede. Ketika memasuki kompleks pemakaman ini suasana Jawa sangat kental terlihat dari bangunan-bangunan yang berada di dalamnya. Ketika Anda masuk ke dalam kompleks ini seperti berada di jaman kejayaan kerajaan zaman dahulu. Bangunan dengan arsitektur yang unik yang terbuat dari batu bata, yang dahulu konon katanya membangunnya tidak menggunakan semen, wooow. Di dalam kompleks makam tersebut terdapat beberapa bangunan-bangunan, di antaranya adalah makam Raja Mataram, sendang lanang, sendang wadon dan beberapa bangunan lainnya. Untuk masuk ke lokasi ini tidak ada retribusi khusus, kami hanya diberitahukan untuk mengisi semacam kotak amal seikhlasnya kepada abdi dalem yang bertugas di dalam kompleks.


Lokasi yang kami kunjungi di dalam kompleks makam tersebut adalah sendang lanang, yang dulu biasanya digunakan untuk tempat mandi bagi para laki-laki. Di dekat sendang tersebut terdapat sumber mata air yang bersih dan konon katanya tidak pernah surut walaupun musim kemarau. Air yang berasal dari sumber mata air tersebut bagi pengunjung biasanya digunakan untuk membasuh muka agar terlihat awet muda, dan ada juga beberapa yang membawanya pulang dan diyakini akan mengabulkan permintaan (hehehe ini sih tergantung kepercayaan masing-masing ya). Ada hal yang unik di dalam kolam di dekat sendang tersebut, di mana kolam itu adalah sebagai tempat menampung air yang berasal dari sumber mata air atau sendang. Di dalam kolam tersebut terdapat beberapa ikan yang dianggap keramat, yakni empat ekor ikan lele kuning yang biasa dipanggil sebagai "Truno Lele" dan beberapa lele biasa yang konon katanya digunakan untuk menemani lele keramat tersebut. Menurut kepercayaan masyarakat setempat tak ada yang berani menangkap maupun memakan ikan tersebut karena akan mendatangkan bencana bagi orang yang memakannya.


Lalu kami mengunjungi sendang wadon yang secara fungsi sama seperti sendang lanang, yakni sebagai pemandian para perempuan ketika jaman dahulu. Di dekat sendang tersebut juga terdapat kolam penampungan air yang di dalamnya juga terdapat lele keramat, namun sayang mereka tidak mau muncul. Menurut si simbah sih mereka mau muncul kalau diberi makan oleh pengunjung. Sampai sekarang sih air yang berada di sendang wadon masih digunakan oleh penduduk sekitar untuk mandi, terbukti terdapat sebuah bilik yang cukup luas yang difungsikan sebagai kamar mandi.


Tour kami yang singkat ini pun selesai, sayang kami tidak bisa masuk ke dalam lokasi makam karena ada jam-jam tertentu untuk mengunjungi lokasi makam tersebut. Untuk bisa masuk ke dalam makam pun tidak bisa sembarangan, karena pengunjung diwajibkan menggunakan pakaian kejawen, di mana para perempuan wajib mengenakan kemben dan laki-laki menggunakan pakaian kejawen komplit. Tenang saja, di lokasi ini sudah disediakan tempat untuk penyewaan pakaian jawa komplit untuk masuk ke dalam makam. Menurut si simbah yang menjadi guide kami sih pengunjung diwajibakan memakai pakaian kejawen komplit guna menghormati raja, walaupun beliau sudah tiada.

Kunjungan sore di makam raja-raja di Kotagede tersebut kami akhiri dengan beristirahat sejenak di depan kompleks Masjid Agung Kotagede yang berada satu kompleks dengan makam.




No comments:

Post a Comment

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikahermawaan
email : dikahermawandika@yahoo.com