Thursday, December 20, 2012

Toko Oen - Rumah Makan Nostalgia ala Tuan dan Nyonya Belanda

Malang, selain memiliki keindahan tata kotanya yang menawan, ternyata masih menyimpan sebuah toko dengan nuansa atmosfer kolonial Belanda yang kental. Memasuki toko ini serasa diajak menuju masa lalu mengenang Kota Malang tempo dulu.



"Welkom in Malang, Toko Oen Die Sinds 1930 Ann De Gasten Gezelligheid Geeft", begitulah isi dari spanduk yang tertera ketika kita memasuki sebuah bangunan tua di sudut Jalan Jend. Basuki Rakhmad, salah satu jalan protokol di Kota Malang. Spanduk dalam Bahasa Belanda ini memiliki arti "Selamat Datang di Malang, Toko Oen sejak tahun 1930 telah memberikan suasana nyaman". Ya, Toko Oen
, salah satu tempat yang wajib Anda kunjungi ketika bertandang di Kota Malang. Toko Oen, merupakan sebuah tempat makan yang menyajikan menu masakan Indo-Holand dengan nuansa tempo dulu yang hingga kini masih dipertahankan ornamen dan dekorasinya sejak berdiri sekitar tahun 1930. Memasuki toko ini, pikiran kita serasa diajak untuk menikmati suasana masa lampau, menikmati suasana tempat berkumpul ala tuan dan nyonya Belanda menghabiskan waktunya bersama.


Sejarah Singkat Toko Oen Malang
Toko Oen memiliki sejarah yang cukup panjang dalam perjalanannya. Toko Oen berdiri pertama kali di kota Yogyakarta pada tahun 1922 oleh seorang Tionghoa peranakan Belanda yang bernama Liem Goe Nio.  Karena memiliki masakan yang cukup terkenal, kemudian Toko Oen membuka cabang di beberapa kota di Indonesia, seperti di Semarang, Jakarta, dan juga Malang. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, Toko Oen di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup, hanya tinggal toko di Malang dan Semarang saja yang masih buka. Toko di Semarang diambil alih oleh cucu Liem yaitu Yenny Megaputri. Pada tahun 1997, Toko Oen membuka cabang di Delf, Belanda, kemudian pada tahun 2000 membuka cabang kembali di kota Den Haag. Pada perkembangan selanjutnya, Toko Oen di Kota Malang dijual kepada seorang pengusaha yang bernama Dany Mugiato.


Bagaimana Suasana Tempat ini?
Klasik, itulah kesan pertama yang saya dapatkan memasuki bangunan di Toko Oen ini. Sebuah ruangan dengan gaya arsitektur bangunan Belanda yang khas dengan langit-langit bangunan yang cukup tinggi, pilar-pilar bangunan  cat berwarna putih yang mendominasi, pintu serta jendela kaca dengan bentuk yang lebar. Bangunan dengan konsep seperti ini memudahkan pergerakan surkulasi udara ke dalam ruangan serta masuknya cahaya dari luar sehingga menjadikan suasana di dalam ruangan cukup sejuk dan memiliki pencahayaan yang cukup. Deretan kursi rotan dengan postur rendah ditata rapi mengelilingi meja bundar dengan dekorasi lukisan suasana Malang tempo dulu semakin menambah kesan klasik suasana bangunan ini.



Satu hal yang paling saya suka dari Toko Oen ini adalah keberadaan kursi rotan dengan postur rendah yang sangat nyaman untuk diduduki. Dijamin, Anda akan betah untuk duduk berlama-lama menikmati suasana tempat ini, bercengkrama dengan teman atau keluarga sambil mencicipi menu-menu makanan yang disajikan. Menurut penuturan salah satu staf, penataan dekorasi ruangan di toko ini konon tak pernah diubah-ubah sejak berdiri pada tahun 1930. Ornamen dan dekorasi ruangan hingga kini masih dipertahankan menyeruapi suasana pada jaman Kolonialisme Belanda di masa lalu.


Apa Saja Menu di Toko Oen ini?
Dari segala menu yang disediakan di Toko Oen ini, menu es krim memang menjadi favorit di tempat ini. Misi utama kedatangan saya ke Malang kali ini adalah menuntaskan rasa penasaran saya dengan cita rasa es krim beserta suasana yang ditawarkan di Toko Oen ini. Es krim di Toko Oen ini memiliki 27 resep pilihan dan semuanya buatan sendiri alias home made, tanpa menggunakan bahan pengawet di dalam proses pembuatannya. Untuk icip-icip kali ini saya memesan es krim favorit di tempat ini, yaitu Oen's Special dan Tutti Frutti. Untuk es krim Oen's Special terdiri dari tiga scoop es krim ditemani dekorasi wafer cokelat, astor, whipped cream, dan buah ceri sebagai pemanis tampilan. Soal rasa memang es krim di sini tergolong biasa dibandingkan dengan es krim-es krim pada jaman kini yang terasa susu dan krim-nya. Es krim jadul memiliki tekstur yang lebih kasar, sekilas mirip dengan es lilin teksturnya ketika masuk ke dalam mulut, namun lebih halus dan rasa susunya lebih terasa. Manisnya pas, tidak terlalu manis sekali dan tidak menimbulkan rasa eneg di mulut. Oen's Special dibandrol dengan harga Rp 35.000,00 per-porsinya.


Next menu, Tutti Frutti ice cream ! Es krim berbentuk seperempat lingkaran ini memiliki cita rasa buah di bagian tengahnya dan dilapisi dengan cokelat di bagian luarnya. Menurut saya, es krim ini lebih terasa lumer ketika masuk ke dalam mulut. Cokelatnya tidak menimbulkan rasa eneg, manisnya juga terasa pas. Satu porsi Tutti Frutti dibandrol dengan harga Rp 21.000,00 (data bulan November 2012).


Selain menu es krim, Toko Oen juga terkenal dengan menu makanan Indo-Holand-nya. Beberapa menu yang sering di pesan oleh pengunjung antara lain adalah nasi goreng dan steak lidah. Kelezatan steak lidah di tempat ini konon cukup tersohor sehingga cukup banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang kemari untuk mencicipi. Selain menu-menu tadi, Toko Oen juga menyediakan beragam kue cake dan  tart dengan resep jaman kuno, beragam camilan seperti aneka kue-kue kering, sus, lemper, risoles, dan sebagainya yang dapat Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh. Aneka macam kue kering dan camilan ini ditata rapi di toples-toples besar kuno yang diletakkan di bagian depan toko dekat pintu masuk


Apalagi Keunikan Toko Oen ini?
Selain menyajikan nuansa tempoe doeloe yang kental baik dari segi interior maupun eksteriornya, toko ini juga menyimpan keunikan tersendiri yang semakin melengkapi nuansa Kolonial Belanda yang disajikan. Kita dapat melihat dari tampilan pelayan yang berjaga di toko ini. Pelayanan laki-laki biasanya menggunakan baju dan celana safari putih dengan peci di kepala, sedangkan pelayan perempuan mengenakan gaun putih selutut. Pakaian model tersebut merupakan pakaian yang tren pada era tahun 1930-an. Satu lagi keunikan pelayanan di Toko Oen ini adalah beberapa pelayan ternyata cukup fasih berbahasa Belanda, sehingga tak heran banyak tamu dari turis asing yang sebagian besar berasal dari negeri Belanda yang berkunjung ke tempat ini untuk sekedar bernostalgia mengenang masa lalu mereka.

Jika dilihat dari segi harga untuk ukuran es krim yang dipesan memang tergolong cukup mahal. Menurut saya, Toko Oen tidak hanya menjual makanan namun juga suasana tempat yang mungkin sulit kita temui di tempat makan yang lain. Toko Oen memang memiliki atmosfer tersendiri yang membuat siapa pun betah untuk berlama-lama menikmati suasana toko jadul ini. Jika Anda mengunjungi Kota Malang, tidak afdol rasanya jika tidak menyempatkan untuk mampir ke tempat yang satu ini !

Keterangan :
alamat Toko Oen Malang
Jalan Jend. Basuki Rakhmad 5 Malang
telp (0341) 364052

Toko Oen Malang buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 21.30 WIB.
Harga yang tertera di dalam daftar menu belum termasuk pajak sebesar 10%

17 comments:

  1. Jadi kangen Malang, ehhh kok gda foto penulisnya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. mampir lah ke Malang, kan deket sama tempat mu mbak :P
      hahaha emang sengaja ga narsis di blog mbak :D

      Delete
  2. Saya berulang kali cuma lewat aja di toko ini pas travelling ke Malang karena takut harga makanannya yang selangit.
    Dan ternyata betul-betul selangit ya? hehehe...
    But next time musti coba kalo udah bukan berstatus backpacker kere :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe saya juga kalau bepergian selalu bikin anggaran minim budget kok :D
      cuma untuk tempat-tempat tertentu saya bikin anggaran sendiri (terutama tempat makan)
      lebih baik mencoba walau hanya sekali dan kita tahu rasanya sendiri kan daripada hanya mendengarkan berkali-kali ;)

      Delete
  3. Nah setiap ke Malang saya selalu gagal ke Toko Oen, ngidam yg belum kesampaian T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ke Malang wajib mampir ke tempat ini gan :D

      Delete
  4. Di toko oen di jual mknan yg ga halal jg ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, ada beberapa menu makanan yang berbahan dsar bacon, tapi di dalam menu dicantumin kok bahan dasarnya :)

      Delete
  5. hai mas Andika, ijin mengutip beberapa paragraf dan satu foto dari artikel ini boleh? tentu saja saya akan menyertakan link ke sini. Makasih banyak sebelumnya :)

    ReplyDelete
  6. suasananya tidak tergerus oleh peradaban modern ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, suasananya tetap terlihat otentik seperti jaman opa dan oma dulu mas :))

      Delete
  7. Artikel yang sangat bagus dan menarik. Makasih informasinya ya. Salam kenal dari Rental Mobil Malang Telkomsel 0821 41555 123

    ReplyDelete
  8. Halo mas mau tanya nih, utk tahu asal muasal cerita Toko oen dn banyak hal. Mas sumbernya minta langsung ke pemiliknya? wawancara ke pemiliknya dn mohon izin utk dipost ke blog pribadi gt yah? Makasih

    ReplyDelete
  9. Halo mas mau tanya nih.Utk bisa dapat info asal muasal cerita toko oen mas ya ketemu langsung dgn pemiliknya ?wawancara? dn bilang mohon izin utk dipost di blog pribadi?' makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. tentang sejarah warung/tempat makan bisa dicari melalui data sekunder (literasi/artikel yang sudah dipublish dengan link yang terpercaya), tinggal ditulis ulang dengan bahasa sendiri. Bisa juga dengan melakukan obrolan langsung dengan pemilik (yang ini situasional sih), kalau aku lebih banyak nulis tentang pengalaman selama icip-icip di sana, tentang sejarah warung dll cuma pelengkap saja dalam artikel

      Delete

Disclaimer

all photos and articles in this blog copyright by Andika Hermawan
if you want to use any photos and articles in this blog please contact me for further information
feel free to ask me :)

another social media account :
twitter @andikaawan
instagram @andikaawan
email : dikahermawandika@yahoo.com